
...Tak pernah kusangka akan secepat ini menemukan cinta...
...Meski awal kumenolak...
...Tapi hati tetap tertuju padanya...
...πππ...
Seperti yang diusulkan oleh Kartika, Shelo membuat jadwal kegiatannya selama satu minggu. Usai jadwal kuliah, ia menuju ke butik milik Shanum untuk belajar merancang baju. Sebenarnya di kampua juga ia mempelajari itu. Tapi akan lebih mengena jika belajar dari ahlinya langsung.
"Aku juga belajar merancang, tapi selebihnya aku banyak belajar dari orang-orang terdekatku," ungkap Shanum pada Shelo.
"Aku sangat mengagumi karya kakak," puji Shelo. "Bukankah kakak juga sudah merambah ke luar negeri?"
"Sama seperti ibumu, Shelo. Kami saling bertukar pikiran tentang banyak hal. Aku juga sangat menyukai pakaian rancangan ibumu. Aku yakin kau pasti bisa seperti beliau."
Mata Shelo berbinar. Ada semangat membara dalam jiwa mudanya. Setelah berbincang dengan Shanum, Shelo memutuskan kembali bekerja.
Pukul tujuh malam, Shelo selesai bekerja paruh waktu di tempat Shanum. Ia melirik ponselnya yang tetap menghitam beberapaΒ minggu belakangan. Dirinya dan Rion sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan belum ada waktu untuk bertemu.
"Sudah dua bulan ini aku tidak bertemu dengan kak Rion. Entah kenapa aku sangat merindukannya." Shelo menghela napas kasar.
Sejak dulu Shelo terbiasa menaiki bus umum. Jadilah kini ia juga berjalan menuju halte untuk naik bus umum menuju pulang ke rumahnya.
Tiba di halte, Shelo duduk menunggu bus datang. Ia memasang headset ke telinganya untuk mendengarkan lagu-lagu favoritnya.
Saat sedang menikmati lagu, Shelo terkejut karena mendapat lampu sorot dari sebuah mobil.
"Astaga! Apa yang dia lakukan? Kenapa menyoroti wajahku dengan lampu mobilnya! Dasar tidak sopan!" Shelo menggerutu sambil menutupi matanya.
Tak lama seorang pria muncul dari dalam mobil. Pria berpakaian serba hitam itu menghampiri Shelo dengan membawa sebuah kotak.
"Ini untuk Nona!" ucap pria itu.
Shelo menerima kotak itu dengan kesal.
"Ish, jadi kau hanya ingin memberikan ini untukku? Kenapa lampu mobilmu harus menyorot kearahku? Tidak sopan!" sungut Shelo.
"Siapa yang mengirim kotak ini?" lanjut Shelo masih dengan nada ketus.
"Nona akan tahu setelah membukanya," jawab pria itu.
Shelo memutar bola matanya malas. Kemudian ia membuka kotak itu. Ada sebuah surat disana.
"Ikuti kemana arah lampu itu menyala. Dan kau akan menemukan aku," gumam Shelo membaca isi surat itu.
"Siapa yang mengirim ini? Apa mungkin kak Rion?" batin Shelo.
"Tolong katakan siapa yang mengirim i...." Kalimat Shelo terpotong karena pria berpakaian serba hitam tadi tiba-tiba membekap mulutnya dengan sapu tangan yang dioles obat bius.
Tubuh Shelo melemas dan jatuh pingsan. Pria itu dengan sigap menangkap tubuh Shelo. Kemudian pria itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tuan, tugas pertama sudah selesai."
"Bagus, lakukan tugas keduamu."
"Siap, Tuan!"
Pria itu membawa tubuh Shelo masuk kedalam mobil. Beruntung tidak ada siapapun di halte itu selain Shelo sehingga memudahkan pria itu melancarkan aksinya.
...πππ...
Aleya kini tinggal di dusun Kabut bersama Boy. Mereka bersama-sama menjadi dokter di rumah sakit ibu dan anak Aleya. Boy sebagai dokter kandungan, dan Aleya sebagai dokter anak. Sungguh pasangan yang serasi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi ketika Aleya bangun dari tidurnya. Hawa dingin yang selalu menyelimuti membuatnya terlambat bangun. Bahkan ia tidak melihat suaminya ada di kamar.
Tak sempat mencari di mana keberadaan suaminya, Aleya langsung menuju ke kamar mandi. Karena sudah terlambat Alea tidak terlalu lama berada di kamar mandi.
Namun ketika akan mengeringkan tubuhnya yang basah Ia baru teringat jika dirinya tidak membawa handuk. Aleya panik dan membuka pintu kamar mandi perlahan. Ia mencari keberadaan suaminya.
"Kak! Kak Boy!" seru Aleya memanggil nama suaminya.
Aleya menggerutu karena tak juga mendapat sahutan dari Boy.
"Kak! Kak Boy! Tolong ambilkan handuk untukku! Aku lupa membawa handuk!" seru Aleya lagi.
Tak lama pria itu muncul dari balik pintu kamar karena mendengar suara teriakan Aleya.
"Ada apa?" tanya Boy yang melihat Aleya hanya menunjukkan kepalanya saja.
"Kak, tolong ambilkan jubah handukku! Aku lupa membawanya karena tadi aku terburu-buru."
Boy tersenyum menyeringai. "Kau ini! Selalu saja ceroboh! Lagi pula disini tidak ada siapapun, kau keluar saja dan ambil handuk sendiri."
"Ish, kakak! Aku tidak terbiasa melakukan hal seperti itu! Cepat! Tolong ambilkan!"
"Sayang, aku sudah melihat semuanya untuk apa kau tutupi segala!"
"Kakak!" teriak Aleya tinggi karena Boy terus menggodanya.
Hmm, pengantin baru memang bikin gemas ya! Hihihihi.
...πππ...
Rion yang sedang berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba mendapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Karena merasa tak mengenal si pengirim pesan, Rion pun mengabaikannya. Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Rion yang sedang fokus, kembali dikejutkan dengan banyaknya pesan yang masuk. Tak ingin pesan itu terus mengganggu, akhirnya Rion membuka pesan-pesan itu.
Matanya membulat sempurna membaca pesan yang masuk itu. Tangannya mengepal kuat menandakan ia sedang menahan amarahnya.
Rion menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter anak kemudian meminta sekretarisnya untuk menyudahi jadwal praktek dirinya. Ada hal penting yang harus ia lakukan.
Ia menghubungi Kenji dan memintanya mengerahkan anak buahnya. Kenji setuju dan bertanya apa yang terjadi. Namun Rion belum memberitahunya. Rion berjanji akan menjelaskan semuanya nanti.
"Lihat ini!" Kenji menunjukkan hasil pencariannya.
"Sialan! Bocah itu!" Tangan Rion mengepal keras.
"Siapa dia? Apa dia ada masalah denganmu?"
"Dia adalah teman Shelo. Sejak awal aku sudah curiga jika dia menaruh hati pada Shelo."
"Wah, jadi ini urusan hati? Tidak bisa dibiarkan! Kita harus segera bertindak. Jika tidak, Shelo bisa celaka!"
"Benar, Ken. Tapi, kumohon jangan sampai paman Julian dan bibi Kartika tahu soal ini."
"Iya, kau tenang saja!"
...πππ...
Rion dan Kenji beserta orang-orang suruhan Kenji datang ke sebuah gudang di pinggiran kota sesuai dengan instruksi yang diterima Rion dalam pesannya. Kenji meminta anak buahnya untuk menyisir tempat itu lebih dulu sebelum mereka menyerang.
Sementara itu didalam gudang, Shelo meronta meminta untuk dilepaskan. Ia tak menyangka jika Reval akan memakai cara licik seperti ini untuk mendapatkan cinta Shelo.
"Reval! Lepaskan aku! Kau memang sudah tidak waras!" seru Shelo mengumpati Reval berkali-kali.
"Kau ingin dilepaskan? Kita tunggu dulu kedatangan kekasih tuamu itu. Aku ingin melihat apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak. Mana dia? Sudah jam segini belum muncul juga!" sindir Reval.
BRAK!
Tiba-tiba dibuka dengan kasar. Nampaklah Rion yang datang seorang diri.
"Kak Rion!" teriak Shelo melihat Rion yang datang menolongnya.
"Lepaskan dia! Kau menginginkan aku, bukan?" ucap Rion menatap Reval tajam.
"Tidak, Kak!" Shelo berteriak histeris.
"Asal kau tidak melawan, maka aku akan melepaskan gadismu!" timpal Reval.
Rion hanya diam ketika Reval mulai melancarkan aksinya. Pertama yang diserang Reval adalah bagian perut. Dipukulnya dengan kencang hingga Rion mengaduh kesakitan.
"Tidak! Hentikan, Reval!" Shelo menangis meraung-raung melihat Rion mulai tak berdaya.
"Sial! Kemana Kenji dan anak buahnya?" batin Rion bertanya-tanya.
Hingga akhirnya Rion tersungkur, Kenji dan anak buahnya masuk dengan sudah melumpuhkan seluruh anak buah Reval.
"Jangan bergerak! Anak buahmu sudah kulumpuhkan! Hei, bocah ingusan! Kau ingin melawanku, huh! Jangan harap kau menang melawan kami!" ucap Kenji percaya diri.
"Bawa mereka semua keluar! Dan bawa anak ingusan itu ke kantor polisi! Benar-benar menyebalkan! Berani sekali dia melakukan ini pada kita!" sungut Kenji lagi.
Seorang anak buah Kenji melepaskan ikatan yang melilit di tangan dan kaki Shelo. Secepat kilat gadis itu berlari menghampiri Rion dan membantunya bangun.
"Kakak!" tangis Shelo pecah kembali memeluk tubuh Rion.
"Sudah, jangan menangis! Aku baik-baik saja!" ucap Rion.
"Apanya yang baik-baik saja? Kakak benar-benar menyebalkan!" Shelo memukuli tubuh Rion.
"Hei, kenapa kau marah? Aku baik-baik saja, sayang. Kau tahu, aku sangat merindukanmu."
Rion menyeka air mata Shelo.
"Aku juga sangat merindukan kakak!" sahut Shelo.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Kenji.
...πππ...
Rion yang masih dalam keadaan babak belur malah membawa Shelo ke suatu tempat. Rion menghentikan mobilnya di sebuah bukit yang biasa dijadikan para muda mudi untuk melihat bintang. Disana bintang terasa lebih dekat.
"Aku obati kakak ya!" ucap Shelo mengambil kotak obat di dashboard mobil.
Rion mengangguk. "Maaf ya aku tidak bisa menjagamu. Kau sampai diculik begitu!"
"Ish, kakak! Justru aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik."
Rion membelai puncak kepala Shelo. "Sudah, jangan bicara begitu. Yang penting sekarang aku bisa melihatmu. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga!" jawab Shelo jujur.
Tiba-tiba muncul kembang api besar diatas langit. Shelo terkejut melihat kembang api yang cantik itu.
"Selamat ulang tahun, sayang..." ucap Rion.
"Kakak!" Shelo menghambur memeluk Rion.
"Menikahlah denganku, Shelo! Aku janji akan menjagamu dan selalu mencintaimu hingga akhir napasku,"
"Kakak!" Shelo menatap pria yang ada didepannya.
"Marry me?" tanya Rion.
Shelo mengangguk yakin. "Yes, I do."
"Dua minggu lagi, kita menikah!"
"Hah?! Apa?! Kakak! Kenapa mendadak begini?"
Rion tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya yang merajuk.
...πππ...
Haaah, senangnya melihat mereka akan menikah πππ