
Setelah lima hari Andra di rawat di rumah sakit, kini bocah kecil itu sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Andra berteriak gembira. Ia juga mendengarkan penjelasan Rion jika dirinya tidak diperbolehkan memakan beberapa makanan yang akan membuat alerginya kambuh.
Aleya juga ikut bahagia karena keponakannya telah sembuh, meski harus selalu dijaga agar tidak terulang kembali hal seperti kemarin.
"Terima kasih, Kak. Aku akan mengurus administrasinya dulu," ucap Aleya.
"Tidak perlu," cegat Rion.
Aleya mengernyit. "Kenapa? Jangan bilang kakak sudah membayar tagihan rumah sakit Andra!"
"Iya, sudah kuurus semuanya."
"Kak!" protes Aleya.
"Sayang, ini bukan masalah yang besar untukku." Rion membelai wajah Aleya.
"Tapi, Kak..."
"Sudah, tidak ada tapi. Sekarang kau bereskan barang-barang saja lalu aku akan mengantarmu pulang. Oke?" Rion berlalu setelah mengatakan semuanya.
Aleya masih terdiam di tempatnya. Entah kenapa hatinya tak bisa menerima semua kebaikan Rion. Ia terlalu takut jika semua kebaikan itu berubah menjadi kebencian.
"Bunda! Ayo, bunda!" seru Andra dengan menarik tangan Aleya.
"Eh?" Aleya tersentak.
"Saya sudah bereskan semua barang-barang Tuan kecil, Nona," sahut Imah.
"Iya, sayang. Ayo kita pulang!" Aleya menggandeng tangan mungil itu kemudian keluar dari kamar yang selama beberapa hari ini jadi tempatnya menginap.
Rion sudah siap di lobi rumah sakit dengan mobilnya.
"Ayo, sayang!" Rion membukakan pintu mobil untuk Aleya. Sebuah perlakuan manis dengan diiringi sebuah senyum tampan di wajahnya.
"Terima kasih, Kak. Tidak perlu sampai begini. Aku bisa sendiri," timpal Aleya.
"Andra, bundamu ini selalu saja protes. Kau harus ajarkan dia bagaimana caranya menjadi patuh."
"Baik, Paman. Bunda, mulai sekarang turutilah apa kata Paman Rion. Jangan membantah! Atau bunda akan mendapatkan hukuman!" celoteh Andra.
"Hukuman?" Aleya melirik tajam Rion.
"Ayo, kita jalan!" Rion tidak menjawab dan malah melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
......***......
Rion kembali ke rumah sakit usai mengantar Aleya ke rumah Zetta. Turun dari mobil hatinya terus berbunga-bunga karena kini cintanya telah terbalas. Ia bersiul ria hingga membuat seseorang merasa terganggu dengan bunyi siulan itu.
"Kau pikir ini adalah rumah sakitmu hingga kau keluar masuk dengan begitu bebas, huh!" Suara mengintimidasi yang sangat Rion kenal.
"Aku sedang tidak ada pasien, jadi aku meminta izin keluar. Ada urusan yang harus kuselesaikan," sahut Rion.
"Urusan apa? Wanita? Kau sekarang menduakan pekerjaanmu hanya karena seorang wanita!" cibir seseorang yang tak lain adalah Boy.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi, Boy! Aku akan masuk!"
"Apa dia benar-benar sudah menikah? Atau ... Dia tidak menikah dan memiliki hubungan denganmu?"
Rion mulai terpancing emosi. "Apa maksudmu?"
"Jangan-jangan anak itu adalah anak hasil dari hubunganmu dengan dia? Kalian tidak menikah tapi kalian..."
"Tutup mulutmu, Boy!" Rion mengarahkan tinjunya ke wajah Boy.
Boy tersungkur, namun segera bangkit. Ia membalas pukulan Rion. Kedudukan jadi satu sama.
"Apa kau pikir Aleya serendah itu, Boy? Dia gadis baik-baik. Otakmu yang selalu dipenuhi oleh prasangka buruk! Pantas saja hubunganmu dengan Natasha tidak akan pernah membaik seperti dulu!"
"Brengsek! Kenapa bawa-bawa Natasha, huh?!" Boy kembali menghujani Rion dengan bogem mentah.
Terjadi adegan perkelahian di area parkir bawah tanah rumah sakit. Beruntung perkelahian bisa dilerai berkat seorang penjaga yang menghubungi Dion.
"Kalian pikir rumah sakit ini adalah ring tinju, huh! Rion! Kau pergilah! Aku akan mengurus Boy!"
"Tentu saja aku akan pergi! Sebaiknya kakak urus sahabat kakak itu dan ajari mulutnya agar tidak bicara sembarangan!" Rion kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh.
Dion menatap Boy yang terkapar dengan luka memar di wajahnya. Ia memijat pelipisnya pelan.
"Apalagi kali ini? Aleya lagi?" tanya Dion dengan marah.
"Jangan banyak bicara dan bantu aku mengobati lukaku."
Dion berdecak kesal namun tetap membantu Boy. Bagaimanapun juga Boy tetaplah sahabatnya.
"Terima kasih, Dion."
"Yeah. Aku tahu ego kalian sama-sama besar. Maka susah untuk menemukan jalan keluar. Tapi ... Biarkan Rion bahagia dengan Aleya, Boy. Bukan karena dia adikku lalu aku membelanya. Kau tahu sendiri kan bagaimana Rion saat dulu kehilangan orang yang dia sayangi. Kau bahkan adalah orang yang selalu menghiburnya. Kenapa sekarang kalian berseberangan?"
Boy memalingkan wajahnya. Bayangan kebersamaan Aleya dan Rion kembali memenuhi otaknya. Malam itu, malam dimana Aleya menerima perasaan Rion. Boy sengaja membuntuti mobil Rion. Hingga akhirnya tiba di sebuah rumah dan Boy melihat adegan kemesraan antara Rion dan Aleya. Boy pikir hanya dirinya saja yang mendapatkan cinta dari Aleya, tapi ternyata dia salah. Aleya sudah mulai membuka hatinya untuk orang lain.
"Boy!" Dion menepuk bahu Boy.
"Apa mereka seserius itu hingga memiliki anak?" tanya Boy dengan polosnya.
"Anak?" Dion terkekeh. "Anak siapa maksudmu?"
"Anaknya Aleya!"
Dion tertawa. "Boy! Kau jangan gila! Aleya belum memiliki anak. Anak itu adalah anak kakak sepupunya. Dia memang memanggil Aleya dengan panggilan bunda." Dion menggeleng pelan.
"Sebaiknya kau pulang dan istirahat! Sepertinya otakmu sedang tidak sinkron. Kau tidak akan bisa bekerja dalam keadaan seperti ini!" nasihat Dion.
Alih-alih pulang ke rumah, Boy malah menuju ke tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Sebuah klub malam yang beberapa tahun ini tak didatanginya.
Entah kenapa Boy ingin menumpahkan kekesalannya dengan segelas anggur yang memabukkan. Usai menenggak beberapa gelas anggur, Boy keluar dari klub dan melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah.
Tiba di depan sebuah rumah, Boy mengetuk pintu dengan kencang. Seorang gadis membukakan pintu.
"Kak Boy? Apa yang kakak lakukan disini?" tanya gadis itu sambil celingukan.
"Aleya! Maafkan aku, Aleya! Maafkan aku!" racau Boy.
"Kakak mabuk? Astaga!" Aleya memijat pelipisnya pelan.
Tubuh Boy yang sempoyongan membuat Aleya harus memeganginya agar tidak terjatuh.
"Apa yang terjadi, Kak? Kenapa kakak bisa sampai disini?" tanya Aleya yang tidak mendapat jawaban dari Boy.
Aleya berpikir sejenak. "Baiklah. Aku akan mengantar kakak pulang. Ayo!" Aleya memapah tubuh Boy dan memasukkannya ke dalam mobil.
Aleya yang ikut masuk ke dalam mobil berusaha mendudukkan Boy agar tidak oleng. Ia berpikir bagaimana cara menjalankan mobil otomatis milik Boy.
Aleya menekan sebuah layar yang ada di depan dan mencari alamat rumah Boy. Ia menekan tanda rumah dan secara tiba-tiba mobil menyala dan mulai melaju pelan.
Tubuh Boy terhuyung dan kepalanya jatuh di pangkuan Aleya. Bibirnya masih menggumamkan nama Aleya.
"Kenapa kau memilih sahabatku, Aleya? Kenapa? Kenapa harus Rion?" gumam Boy.
Aleya hanya pasrah dan diam karena kini Boy mengusupkan wajahnya di perut rata Aleya dan memeluk pinggangnya.
"Jangan pergi, Aleya. Kumohon!"
Aleya mengerjapkan matanya. Ia tak ingin terbawa emosi dan melakukan kesalahan yang sama.
Hingga akhirnya mobil telah berhenti tepat di rumah keluarga Avicenna. Aleya keluar dan menemui para penjaga rumah besar itu.
Aleya kembali melangkah dan memanggil taksi. Perasaannya bergemuruh selama perjalanan kembali ke rumah Zetta.
"Ya Tuhan! Apa keputusanku untuk belajar di kota ini adalah salah? Aku sudah membuat dua orang sahabat bersitegang dan bermusuhan." Aleya menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Tiba di depan rumah, lagi-lagi Aleya dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Wajah tampannya sedikit bengkak dan berwarna kebiruan. Persis seperti yang ia lihat di wajah Boy.
"Apa mungkin mereka berkelahi?" batin Aleya.
"Aleya... Akhirnya kau datang juga!"
"Kak Rion? Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Aleya gugup.
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat wajahmu sebelum aku tidur," balas Rion yang membuat Aleya tertegun.
Rion mendekat dan memberikan sebuah kecupan yang dalam di kening Aleya. Setelahnya, Rion kembali pergi tanpa mengucap sepatah katapun.
...B E R S A M B U N G...
*hu hu hu, apakah Rion melihat Aleya pergi bersama Boy tadi? Lalu bagaimana dengan hubungan mereka yg baru saja terjalin?
Kenapa sih Boy itu tidak tegas dalam bersikap? Bikin kesal deh!😪😪
Ada kalanya manusia hanya bersikap sebagai manusia, yang bisa dibutakan oleh cinta dan juga naapsu.
...-Makthor-...
...Selamat Hari Kamiiiiisss maniiiiisss meringiiiiiiiissss...