
Dua minggu kemudian,
Donald sedang mengurus masalah perusahaan yang kian meruncing setelah Helena ditangkap oleh pihak kejaksaan. Beberapa cabang perusahaan milik Avicenna Grup terpaksa gulung tikar karena indeks saham yang terus menurun.
Selama ini Donald jarang mengurus tentang perusahaan. Ia lebih fokus pada rumah sakit karena basicnya yang seorang dokter. Kini setelah putranya tiada, mau tak mau Donald harus turun tangan untuk menangani masalah yang pelik ini.
"Tuan..." panggil Mike yang melihat Donald terlihat frustasi.
"Ada apa, Mike?" jawab Donald dengan memejamkan mata sambil memijat pelipisnya.
"Beberapa wartawan datang dan ingin mewawancarai Anda."
"Aku tidak akan bicara apapun pada wartawan. Biarkan saja mereka memberitakan soal kita. Terserah apa kata mereka." Donald tak habis pikir jika berita penangkapan Helena menyebar dengan cepat.
"Tuan, saham kita terus menurun. Jika Tuan tidak mengambil tindakan, maka..."
"Apa yang harus kukatakan, Mike? Tanpa aku berkata apapun bukankah media lebih pandai merangkai kata-kata?!" Donald mulai naik pitam.
"Maaf, Tuan. Tapi dengan diamnya Tuan semakin menggiring opini negatif tentang Avicenna Grup."
Donald menghembuskan nafas kasar. Di usia senjanya ia tak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini.
"Aku akan bicarakan ini dengan Roy terlebih dahulu. Dialah pewaris Avicenna Grup."
"Baiklah, Tuan."
Mike memberi hormat kemudian undur diri.
Sementara itu, di rumah sakit Avicenna pun terjadi kericuhan yang tak kalah heboh. Banyak orang berdatangan dan meneriakkan kata-kata kasar di depan halaman rumah sakit.
Roy yang berada di dalam ruangannya sedang memutar otak untuk menghadapi orang-orang itu.
"Dasar keluarga pembunuh! Jangan-jangan jika kita berobat ke rumah sakit ini, kita juga akan mati seperti korban-korban itu."
"Iya, benar! Tutup saja rumah sakit ini!"
"Pembunuh! Sekali pembunuh tetap pembunuh!"
"Ibunya seorang pembunuh, anaknya pun juga pasti pembunuh!"
Semua kata-kata itu cukup terdengar oleh Roy karena mereka menggunakan pengeras suara.
"Tuan!" panggil Ben.
"Aku tidak ingin bicara apapun, Ben."
"Tapi..."
"Biarkan saja!"
"Banyak pasien yang meminta pulang paksa, atau juga berpindah ke rumah sakit lain." jelas Ben.
"Biarkan saja!"
"Eh?!"
"Apa yang bisa kita lakukan jika mereka menginginkan begitu?" ucap Roy putus asa.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya Tuan beristirahat saja. Saya akan perketat penjagaan disini agar mereka tidak membuat onar."
"Terserah kau saja."
"Tuan, sidang Nyonya Helena diagendakan dua minggu lagi. Kemungkinan ... orang-orang pasti akan lebih bereaksi ekstrem. Sebaiknya Tuan jangan keluar rumah hingga semua keadaan kondusif."
Roy tidak menjawab. Hatinya sudah amat pasrah dengan apa yang akan menimpa dirinya.
"Mungkin akan lebih baik jika aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini..." batin Roy.
......***......
Karena tak ada respon dari keluarga Avicenna, membuat para masyarakat beropini tentang apa yang sedang terjadi. Ada yang beranggapan jika hanya Helena saja yang berbuat jahat, ada juga yang berpendapat jika selama ini para anggota keluarga lainnya menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Helena.
Sebenarnya Lian tidak tahan dengan banyaknya opini yang menyudutkan suaminya. Bagaimanapun Lian kini menjadi bagian dari keluarga Avicenna.
"Mas..." Lian menghampiri Roy yang sedang menonton berita di televisi. Rasanya tiada hari tanpa pemberitaan tentang keluarga Avicenna.
"Katakan apa yang harus kulakukan?" tanya Roy dengan wajah putus asanya.
"Mas, aku yakin kita pasti bisa melalui ini." Lian selalu meyakinkan Roy.
"Perusahaan harus ditutup sementara karena biaya operasional yang terlalu besar. Ribuan karyawan bergantung padaku, apa yang harus kulakukan? Mereka juga butuh makan dan menghidupi keluarga mereka. Lalu rumah sakit? Mereka tidak percaya pada para dokter yang bekerja disana. Bagaimana nasib dokter-dokter itu? Mereka bahkan tidak diterima bekerja dimanapun. Bahkan membuka praktek sendiripun begitu sulit untuk mendapat ijin. Aku harus bagaimana?"
Lian tak bisa menjawab. Meski sanggup menjawab, ia tak akan bisa melihat kesedihan di wajah suaminya. Ia hanya bisa memeluk suaminya dan memberikan kekuatan lewat sebuah cinta.
"Semua akan baik-baik saja, Mas. Percayalah!" Lian mengusap punggung suaminya.
Beberapa lama berpelukan, tak mereka sadari jika sejak tadi Ben memperhatikan mereka berdua.
"Tuan..." panggil Ben ketika mereka mengurai pelukan.
"Ben, ada apa?" Tanya Roy berusaha tegar.
"Begini, Tuan. Tentang saham perusahaan yang terus anjlok..." Ben menjeda kalimatnya.
Lian dan Roy menunggu dengan harap-harap cemas.
"Heh?!" Roy membulatkan matanya.
Lian menatap suaminya.
"Ini semua pasti ulah Kak Julian," ucap Roy.
"Herlina Gunawan adalah nama mendiang ibu kandung Kak Julian," lanjut Roy.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya Ben.
Roy melirik kearah Lian. "Jangan berpikir kau akan menemuinya lagi, Lian!"
"Eh?!" Lian terkejut karena Roy tahu apa yang ia pikirkan.
"Tapi, Mas..."
"Tidak! Aku yang akan berhadapan dengannya. Ini adalah masalah antara aku dan Kak Julian."
Lian dan Ben menatap cemas kearah Roy.
......***......
-Gedung Ar-Rayyan-
Julian tersenyum puas melihat laporan pembelian saham miliknya. Sejumlah saham milik Avicenna Grup sebesar 50% sudah menjadi milik Julian.
Julian menatap gedung-gedung tinggi yang bersebelahan dengan gedung Ar-Rayyan miliknya. Senyum penuh kemenangan tak pernah lepas dari wajah tampannya.
"Tuan!" Leon menginterupsi senyum kemenangan Julian.
"Ada apa, Leon?"
"Saya mendapat kabar jika adik Tuan berencana untuk melakukan konferensi pers," ucap Leon.
"Hmm, begitu ya. Adikku yang malang. Aku tidak pernah berniat untuk menyakitinya. Tapi, kenapa dia malah berusaha menyerangku? Baiklah, kita juga akan menyiapkan semuanya."
Leon hanya terdiam.
"Huft! Kini aku sudah menjadi orang yang berkuasa. Apa yang kurang dari diriku, Leon?"
"Eh?"
"Katakan padaku! Jangan takut."
"Umm, begini Tuan. Bukankah Tuan sudah mendapat segalanya, tidakkah Tuan ingin bersama dengan seseorang yang Tuan sayangi?" ucap Leon dengan ragu.
"Orang yang kusayangi?" Julian mengusap dagunya.
"Kurasa aku tidak membutuhkan itu, Leon. Tapi aku, membutuhkan seorang pewaris. Aku harus punya keturunan agar setelah aku tiada, dialah yang akan melanjutkan bisnisku ini."
"Eh?" Leon cukup terkejut dengan penuturan Julian.
Julian tersenyum seringai. "Leon, suruh Noel bersiap untuk melakukan proyek rahasia bersamaku."
"Eh? Proyek? Proyek apa, Tuan?"
"Nanti kau juga tahu."
"Apa mungkin ... Tuan ingin melakukan proyek rahasia seperti yang dilakukan oleh Profesor Gerald?"
"Hmm, bisa jadi. Aku akan mencari wanita yang tepat untuk bisa mengandung putraku."
Leon membulatkan mata. Ia tak menyangka jika tebakannya benar.
*
*
*
Julian kembali ke rumahnya dan bertemu Zara yang sudah menunggunya.
"Julian! Selamat ya! Akhirnya dendammu pada keluargamu sendiri bisa terbalaskan." ucap Zara berbasa-basi.
"Jangan menjilatku! Kau tidak akan bisa mempengaruhiku."
"Cih, kita berada dalam kapal yang sama, Julian. Jangan merasa kau yang paling berkuasa!" Geram Zara.
Julian mulai tak suka dengan sikap Zara yang selalu mengancamnya.
"Leon!" panggil Julian.
"Iya, Tuan." Leon selalu sigap menghadap Julian jika dipanggil.
"Cepat kurung wanita ini! Kurasa ... aku sudah menemukan siapa yang akan mengandung benih milikku!" seringai Julian menatap Zara.
Zara membulatkan mata ketika anak buah Julian memegangi kedua lengannya dan membawanya ke sebuah kamar lalu menguncinya disana.
......***......
#bersambung
"Happy weekend genks... Semoga kisah ini bisa menghibur kalian ๐๐๐"