Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 171. Pendekatan


...Tak masalah jika cinta sudah menyapa...


...Jauhnya langit akan terasa dekat...


......***......


Marinka tersenyum bahagia saat melihat putra bungsunya sudah siap dengan setelan casualnya. Hari ini Marinka meminta Rion untuk menjemput Shelo ke sekolah dan mengantarnya pulang.


"Hati-hati menyetirnya ya, Nak." Marinka mengusap lengan Rion dan tersenyum.


"Iya, Bu. Aku pergi dulu ya!" Rion mencium pipi Marinka dan berlalu.


Rion mengendarai mobilnya pelan seraya memikirkan obrolannya bersama Kenji malam itu. Ia memijat pelipisnya pelan saat mengetahui fakta tentang Boy dan Aleya.


"Dia ... memutuskan pergi dari kota ini. Aleya menolak untuk memiliki hubungan dengannya. Aleya memilih untuk melanjutkan studi dan karirnya. Boy cukup terpuruk saat itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi jauh," cerita Kenji.


Rion terdiam setelah mendengar secuil kisah Boy dan Aleya.


"Lalu ada dimana Boy sekarang?" tanya Rion kembali.


"Kau tidak akan percaya dengan apa yang sudah dilakukan bocah itu." Kenji tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Rion tersentak kala melihat seseorang yang sedang menyeberang jalan di depannya. Ia segera menginjak pedal gas mobilnya.


Sosok itu terkejut dan menutup kedua matanya. Rion yang merasa bersalah segera turun dari mobil.


"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Rion.


Gadis itu membuka mata dan melihat sosok Rion ada di depannya.


"Kak Rion?"


"Shelo?" Mereka berdua sama-sama terkejut.


"Apa ada yang terluka?" tanya Rion lagi.


Shelo menggeleng. "Ti-tidak ada, Kak," jawabnya terbata.


"Maaf ya. Aku tadi sempat tidak fokus saat menyetir. Ayo masuk!" ajak Rion.


Shelo mengangguk kemudian mengikuti langkah Rion menuju mobilnya.


Keduanya saling diam selama perjalanan menuju ke rumah Shelo. Rion menghentakkan jari-jarinya di kemudi karena bingung apa yang akan ia katakan pada Shelo.


"Umm, apa kau ... suka makan es krim?" tanya Rion memecah keheningan.


"Iya, aku suka."


"Kedai es krim mana yang kau sukai?"


"Eh? Kakak akan mengajakku ke kedai es krim?"


"Yeah, begitulah." Rion tampak menjawab sekenanya saja.


"Sebaiknya kita ke taman kota saja, Kak," usul Shelo.


"Eh?"


"Disana ada warung es yang tak kalah enak dengan es krim."


"Hmm, baiklah. Aku ikut denganmu saja."


Shelo mengangguk dan melirik Rion.


"Ternyata Kak Rion adalah orang yang cukup menyenangkan juga. Ah, mikir apa kau, Shelo! Meski kami dijodohkan, tapi sepertinya Kak Rion belum sepenuhnya menerima perjodohan ini," gumam Shelo dalam hati.


......***......


Sementara itu di tempat berbeda, Nathan sedang menggerutu karena harus menuruti keinginan Ivanna yang memintanya mentraktir es krim di kedai es krim langganan gadis itu. Ivanna bersorak gembira karena bisa membujuk Nathan untuk menuruti keinginannya.


"Apa tidak ada hal lain yang ingin kau lakukan selain memakan es krim? Kau bukan lagi gadis kecil yang merengek karena tidak dibelikan es krim!" gerutu Nathan.


"Apa katamu? Es krim tidak hanya disukai oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa. Kau coba dulu cicipi!" Ivanna menyodorkan es krim coklat kesukaannya.


Nathan menghindar dan menggelengkan kepala.


"Ish, kau ini! Kau harus berterimakasih padaku karena berkat aku, kau bisa mendapatkan proyek yang besar ini. Jika bukan karena kontribusiku, ayah tidak akan menerima proyek yang kau ajukan." Ivanna terus menikmati es krimnya sambil terus berceloteh.


"Terserah kau saja! Yang jelas aku berusaha keras untuk proyek ini dan semua ini bukan karenamu!" sungut Nathan tak mau kalah.


"Oh ya, kudengar saudara sepupumu dijodohkan dengan kak Rion. Apa itu benar?" tanya Ivanna.


"Hmm, yang kudengar begitu. Tapi semua masih belum jelas. Semua tergantung kedua orang itu, bukan?"


"Apa kau juga akan menerima jika kau dijodohkan?"


"Apa kau menunggu seseorang?"


Nathan menatap Ivanna tajam. "Cepat habiskn es krimmu dan kita pulang!"


Ivanna mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya ingin menjadi temannya, tapi kenapa sulit sekali?" lirih Ivanna.


......***......


Rion dan Shelo menikmati suasana taman kota yang mulai ramai ketika hari memasuki sore. Shelo mengembangkan senyumnya melihat banyaknya kebahagiaan yang tercipta disana.


"Kau sering kemari?" tanya Rion.


"Tidak juga. Dulu saat masih SMP, aku dan kak Nathan datang kesini tapi tidak sering," jawab Shelo menatap Rion.


Rion menikmati es buah yang ada di depannya. Shelo memperhatikan Rion dari jarak yang cukup dekat.


"Kak Rion memang tampan dengan gaya kacamatanya," batin Shelo.


Shelo segera memalingkan wajahnya. "Astaga, Shelo! Apa yang kau pikirkan? Dia bahkan terpaut denganmu 13 tahun!" Monolog Shelo lagi dalam hati.


"Kau sudah selesai?" tanya Rion yang membuat lamunan Shelo buyar.


"Eh? Ah iya. Aku akan menghabiskannya," jawab Shelo gugup. Wajahnya memerah setelah memikirkan Rion.


"Setelah ini kau ingin kemana lagi?" tanya Rion.


"Umm, kita pulang saja ke rumah."


"Baiklah. Apa kau suka nonton film?"


"Heh?! Nonton? Aku jarang pergi ke bioskop, tapi tidak ada salahnya sesekali pergi kesana," jawab Shelo kembali gugup.


"Baiklah, besok aku akan mengajakmu nonton. Kau suka film apa?"


"Apa saja aku suka."


"Oke! Yuk, sebaiknya kita pulang. Aku tidak enak hati pada bibi Kartika dan paman Julian."


Shelo mengangguk kemudian beranjak dari duduknya.


......***......


Keesokan harinya di akhir pekan, Rion sudah membuat janji dengan Shelo akan membawanya pergi nonton ke bioskop. Ia menjemput Shelo di rumahnya.


Kedatangan Rion disambut baik oleh Kartika dan Julian. Mereka tahu jika Rion ingin melakukan pendekatan dengan putri mereka.


Setelah beberapa menit menunggu di ruang tamu, Shelo akhirnya datang menemui Rion dengan memakai dress selutut tanpa lengan dan rambut panjang yang ia gerai. Sejenak Rion terpana melihat penampilan Shelo yang jauh dari anak remaja seusianya. Shelo terlihat lebih dewasa.


"Ayo, Kak berangkat!" ucap Shelo yang membuat Rion kembali ke alam sadar.


"Ah, iya. Ayo!" Rion beranjak dari sofa kemudian berjalan beriringan dengan Shelo.


Tiba di sebuah gedung bioskop, Rion memesan tiket untuk menonton film komedi romansa. Shelo hanya mengangguk menyetujui ide Rion.


Mereka pun masuk ke dalam gedung bioskop dan duduk bersebelahan. Tak lua Rion membeli popcorn dan minuman ringan sebagai teman nonton mereka.


"Terima kasih, Kak," ucap Shelo.


"Hmm." Rion hanya menjawab dengan dehaman.


Selama film diputar, Shelo terus tertawa lebar yang membuat Rion meliri kearahnya.


"Gadis ini... Apa yang sebenarnya dia rasakan? Apa dia menerima perjodohan ini? Dia tidak ingin menolaknya meski dia tahu dirinya masih terlalu muda," batin Rion bertanya-tanya.


Akhirnya film yang mereka tonton telah usai, Rion mengajak Shelo untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


"Kau ingin makan apa?" tanya Rion.


"Apa saja boleh. Makanan pinggir jalan pun tak masalah."


Rion mengernyitkan dahi dengan pemikiran gadis yang duduk di sampingnya.


"Baiklah, aku tahu warung tenda yang enak di dekat sini," ucap Rion.


Shelo hanya mengangguk setuju. Rion menatap Shelo.


"Sudah tidak ada waktu lagi. Maafkan aku, Shelo. Aku harus melakukan ini," batin Rion.


#bersambung


*Hmm, apa yang ingin dilakukan Rion ya?