
Di sebuah unit apartemen mewah, seorang pemuda tampan memasuki kamar apartemennya dengan bersiul gembira. Hatinya berbunga meski lelah mendera tubuhnya setelah seharian penuh berkutat di lokasi shooting.
Pria paruh baya yang tinggal dengannya mendekati pemuda tersebut.
"Bagaimana? Kau selalu memberikan ramuannya pada Natasha?" tanya seseorang yang adalah Noel.
"Tentu, Paman. Aku selalu mengikuti perintah Paman. Jangan khawatir," sahut si pria muda yang tak lain adalah Sean.
Setelah bebas dari rumah tahanan, Noel kembali beraksi dengan menggaet seorang pria muda yang akan ia jadikan senjata untuk menghancurkan keluarga Avicenna. Sepuluh tahun berada di balik jeruji tak membuatnya menyesali dosa-dosanya malah semakin memupuk dendam dalam hati.
"Bagus sekali, Nak. Kau memang senjata yang pas untuk menghancurkan keluarga itu," seringai Noel yang kini berusia hampir setengah abad.
"Paman, kalau boleh aku tahu, kenapa Paman ingin menghancurkan keluarga Avicenna? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?" Sean penasaran dengan apa yang ada di pikiran pria jenius itu.
"Karena mereka juga sudah menghancurkan keluargaku! Dan juga membuat wanita yang kucintai kini harus meringkuk di dalam rumah sakit jiwa!" jawab Noel dengan menggebu.
"Wanita yang Paman cintai? Bibi Zara?" tanya Sean menyelidik.
"Iya. Seumur hidupnya Zara hanya mencintai Roy saja. Tapi Roy membuangnya hanya untuk bersama wanita lain."
"Jadi cinta Paman bertepuk sebelah tangan?"
"Yeah, begitulah. Tapi aku mencintainya dengan tulus," tegas Noel.
"Jika cinta Paman bertepuk sebelah tangan, seharusnya Paman mencari wanita lain saja. Untuk apa bertahun-tahun memupuk dendam? Aku yakin semua ini hanya akan menyakiti Paman saja."
"Diamlah dan lakukan apa yang harus kau lakukan! Jangan membantah!" tutup Noel kemudian berlalu.
Sean menatap nanar pria yang sudah menjadi penolong hidupnya itu.
......***......
Aleya terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan mata perlahan. Ia segera bangkit dari tempat tidur namun masih merasakan sakit di bagian kaki kirinya. Namun sudah menjadi kewajibannya untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga ayahnya.
Aleya keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Dengan langkah tertatih Aleya berjalan sambil berpegangan pada dinding. Ia harus kuat karena jika bukan dirinya siapa lagi yang akan membuat sarapan?
Sejak ibunya meninggal, Aleya mengambil alih tanggung jawab untuk menggantikan posisi ibunya dengan mengurus Kosih, ayahnya.
"Aleya? Kau sudah sehat, Nak? Jangan dipaksakan jika kau belum sehat." Kosih datang ke dapur menghampiri Aleya.
"Aku baik-baik saja, Ayah. Aku akan buatkan sarapan untuk Ayah. Ayah bersihkan diri dulu saja," balas Aleya dengan tersenyum.
Tak lama menu sarapan sederhana sudah tersedia diatas meja makan. Kosih menempatkan diri dan melahap sarapannya.
"Terima kasih, Nak. Meski kau sakit kau tetap mengurus Ayah," ucap Kosih terharu.
"Jangan bicara begitu. Ini sudah menjadi tugasku untuk merawat ayah."
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kau belum menceritakannya pada Ayah."
"Habiskan dulu sarapan ayah. Nanti aku akan ceritakan semuanya pada ayah." Aleya terbiasa jujur kepada ayahnya. Ia tak ingin menutup-nutupi masalah yang terjadi pada dirinya.
Aleya duduk berhadapan dengan Kosih di sofa ruang tamu. Aleya memantapkan hati untuk menceritakan hal buruk yang terjadi padanya semalam.
"Berjanjilah ayah tidak akan marah jika aku menceritakan kebenarannya," pinta Aleya.
"Baik, ayah tidak akan marah."
Aleya menceritakan dengan detil kejadian buruk yang menimpa dirinya hingga kakinya terluka.
"Kurang ajar! Jadi anak juragan Sugih yang sudah melakukan ini padamu!" Kosih mengepalkan tangannya. Tentu saja ia tak bisa terima karena putri semata wayangnya hampir dilecehkan oleh anak dari keluarga kaya di desa itu.
"Ayah sudah berjanji tidak akan marah. Sebaiknya kita tidak berurusan dengan keluarga Pandu lagi. Ayah tahu kan mereka seperti apa. Aku sudah memaafkan Pandu. Lagi pula aku yakin dia tidak akan berbuat nekat lagi," ucap Aleya menenangkan ayahnya.
Kosih menghela napas. "Maafkan ayah. Ini semua karena ayah."
"Jangan menyalahkan diri ayah. Ini semua adalah keputusanku. Aku yang menolak lamaran Pandu. Aku tidak ingin menikah di usia dini, Ayah. Aku..." suara Aleya tercekat. Ingin rasanya mengutarakan niatnya untuk kembali menimba ilmu.
"Ada apa, Nak? Apa yang kau inginkan?" Kosih penasaran dengan keinginan putrinya.
Aleya menggeleng. "Tidak ada, Ayah," jawab Aleya.
"Jangan berbohong! Kau tidak pandai berbohong. Katakan pada Ayah apa yang menjadi keinginanmu."
"Berjanjilah ayah tidak akan marah!"
"Nak, ayah tidak akan marah padamu."
"Aku ... aku ingin melanjutkan studiku, Ayah. Aku ingin kuliah di kota."
Seseorang yang mendengar pembicaraan ayah dan anak ini mendadak mematung di depan rumah dan enggan mengetuk pintu. Ia ingin tahu seperti apa reaksi Kosih ketika Aleya mengutarakan keinginannya.
Kosih bergeming mendengar penuturan putrinya. Ia enggan berkomentar namun sepertinya Aleya menunggu jawaban Kosih.
"Ayah..." Aleya berharap Kosih mengatakan sesuatu.
Karena tak ingin suasana makin canggung antara ayah dan anak, dengan keras Boy memutuskan untuk mengetuk pintu.
Kedua orang yang berada di dalam rumah sontak terperanjat mendengar ketukan yang cukup keras itu.
"Bi-biar aku saja yang membuka pintunya, Ayah." Aleya segera beranjak dari duduknya namun dicegah oleh Kosih.
"Tidak, Nak. Biar ayah saja yang membuka pintunya. Kau duduk saja!" Kosih segera menuju ke pintu dan membukanya.
"Eh, Dokter Boy," sapa Kosih.
"Selamat pagi, Pak Kosih," sapa Boy.
"Selamat pagi. Ada apa datang sepagi ini?"
"Umm, saya ingin memeriksa luka Aleya yang semalam sekalian mengganti perbannya," terang Boy canggung.
"Oh, mari masuk, Dokter. Kebetulan Aleya juga sedang duduk di ruang tamu."
Boy menyapa Aleya dengan seulas senyum. Senyum yang jarang ia perlihatkan pada banyak orang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Boy.
"Aku baik, Tuan."
"Aku ingin memeriksa lukamu sekalian mengganti perbannya."
Aleya menatap ayahnya. Kosih memberi sebuah anggukan sebagai tanda setuju.
"Ayah akan buatkan minum dulu untuk Dokter Boy." Kosih meninggalkan Aleya dan Boy berdua.
"Naikkan kakimu!" titah Boy.
"Ah, iya. Seharusnya Tuan tidak perlu melakukan ini. Aku yakin sebentar lagi lukanya pasti akan sembuh," timpal Aleya.
"Kau jangan meremehkan luka terbuka seperti ini. Ini bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan baik."
Dengan gerakan pelan Boy membuka perban yang semalam ia ikat di kaki Aleya. Ia memeriksa lukanya dan memberikan antiseptik kembali di luka menganga itu.
Aleya sedikit meringis merasakan perih di kakinya.
"Perih ya?" tanya Boy yang mendapat anggukan dari Aleya.
Boy meniup pelan luka Aleya agar tidak terlalu perih. Kemudian ia kembali membalut luka dengan perban.
Aleya memperhatikan Boy dengan seksama yang telaten mengobati lukanya. Semburat kebahagiaan tergambar diwajah cantik Aleya. Senyuman manis terlukis disana.
Namun seketika senyum itu surut ketika melihat sebuah benda berkilau di jari manis Boy. Sebuah cincin terpaut disana.
"Apa dia sudah menikah? Atau bertunangan?" batin Aleya.
"Kenapa rasanya sakit saat melihat cincin melingkar di jari manis Tuan Boy?" Wajah Aleya berubah sendu.
"Terima kasih, Tuan. Kurasa tuan tidak perlu melakukan ini padaku," ucap Aleya dengan memalingkan wajah.
"Jangan memanggilku 'tuan'."
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Dokter Boy? Atau Kak Boy?"
Sejenak mata mereka beradu. Tatapan mata Boy yang tadinya bengis dan kejam kini berubah hangat. Aleya bisa merasakan itu.
"Panggil kakak saja! Kau terpaut 2 tahun dengan adikku," jawab Boy dengan mengacak pelan rambut Aleya.
Ada rasa tak biasa ketika seseorang yang selalu berdebat denganmu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang perhatian.
"Kak Boy? Aku suka panggilan itu," sahut Aleya tersenyum lebar.
...B E R S A M B U N G ...
"Geloooooo, eke deg2 ser iniii maaahhhh ππππ
...HAPPY THURSDAY...
KAMIS manis meringiiiiiiiiisssss π¬π¬