Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 146. MAAF Lagi


...Hati yang sudah lama berlabuh,...


...Akankah musnah dalam sekejap hanya karena ego masing-masing...


...Namun tak ada salahnya mengikuti kata hati,...


...Asalkan itu membuatmu bahagia...


......***......


Keesokan harinya, Boy keluar dari kamar tidurnya dalam keadaan sudah rapi. Ia mendatangi kamar Aurel untuk menyapa putri kecilnya itu.


Tiba di depan pintu, Boy dikejutkan dengan sosok Natasha yang baru keluar dari kamar Aurel.


"Kau sudah bangun?" tanya Boy.


"Hmm." Natasha hanya membalas dengan dehaman.


"Apa Aurel sudah bangun?"


"Belum, dia masih terlelap."


"Harusnya kau menunggu hingga Aurel bangun."


"Maaf, tapi aku harus segera bersiap. Aku harus bertemu klien baruku." Natasha melenggang pergi meninggalkan Boy.


"Nat!" panggil Boy.


"Ada apa?" balas Natasha dengan tetap membelakangi Boy.


"Apa kau akan seperti ini terus?"


"Harusnya pertanyaan itu kau tujukan untuk dirimu sendiri."


"Aku tidak mengkhianatimu, Nat."


Natasha tersenyum getir. "Kau tidak mengkhianatiku tapi kau masih mengingat tentangnya. Apa bedanya dengan itu?" Natasha kembali melangkahkan kakinya.


"Apa kau akan seperti ini terus, Nak?" suara Lian membuat Boy terkesiap.


"Mama?"


"Hubunganmu dan Natasha sudah tidak sehat, Nak."


"Ma, tolonglah! Biarkan aku menyelesaikan urusanku sendiri dengan Natasha." Boy berlalu dan masuk ke dalam kamar Aurel.


Lian menghela napas melihat kerasnya hati putra sulungnya itu.


"Sudahlah! Apa yang dikatakan putra kita itu benar. Biarkan dia sendiri memilih jalan hidupnya." Roy memeluk istrinya yang terlihat sedang gelisah.


"Tapi, Mas..."


"Sudah, ayo!" Roy meminta Lian untuk meninggalkan Boy yang sedang berada di kamar Aurel.


......***......


Beberapa hari telah berlalu sejak insiden antara dirinya dan Boy. Aleya kembali memulai aktifitasnya untuk berangkat ke kampus.


"Kau yakin kau sudah baik-baik saja?" tanya Zetta.


"Iya, Kak. Aku kan harus kuliah," jawab Aleya dengan mengulas senyumnya.


"Bagaimanapun aku harus menghadapinya jika nanti bertemu lagi dengannya."


"Kau yakin bisa?"


Aleya mengangguk mantap.


"Baiklah. Kakak tidak meragukanmu."


"Aku berangkat ya!" Aleya melambaikan tangan.


Aleya meraih ponselnya dan akan memesan taksi online, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.


"Kak Rion?" Aleya mengernyitkan dahinya.


"Masuklah! Aku akan mengantarmu ke kampus," ucap Rion.


"Tapi, Kak..."


"Tidak ada tapi. Cepat masuk!" titah Rion.


Tanpa bisa membantah lagi, Aleya segera masuk ke dalam mobil Rion.


Aleya merasa tak enak hati pada Rion yang selalu ada untuknya.


"Terima kasih, Kak. Dan juga ... Maaf," ucap Aleya.


"Tidak perlu mengatakan itu. Mulai sekarang aku yang akan mengantarmu berangkat ke kampus dan juga menjemputmu," balas Rion dengan tetap menatap jalanan di depannya.


"Eh?"


"Kumohon jangan menolaknya, Aleya."


Aleya hanya diam dan tak menjawab. Ia merasa bersalah pada Rion sekaligus berterimakasih.


Tiba di area kampus, Aleya segera turun dari mobil. Ia menatap nanar mobil Rion yang kian menjauh.


"Sungguh aku tidak tahu apa yang harus kulakukan denganmu, Kak. Kau terlalu baik. Harusnya kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku..." batin Aleya.


Aleya mengikuti kelas kuliahnya dengan sangat baik. Ia serius dalam belajar agar cepat menyelesaikan studinya dan kembali ke desa.


Setelah dua jam berada di dalam kelas, akhirnya kelas pun usai. Aleya berjalan bersama dengan mahasiswa yang lain. Aleya melirik jam tangannya.


"Apa benar Kak Rion akan menjemputku lagi?" gumamnya.


Sebelum tiba disana, langkah Aleya kembeli terhenti karena seseorang berada di depan jalannya.


"Kau! Apa lagi yang kau inginkan, Kak? Kumohon jangan ganggu aku lagi!" Aleya berkata tanpa menatap pria yang tak lain adalah Boy.


"Aku hanya ingin bicara sebentar," lirih Boy yang menatap Aleya intens.


"Bicara saja disini. Jika kau memaksakan kehendakmu lagi maka aku akan benar-benar membencimu!" tegas Aleya.


"Aku hanya ingin meminta maaf. Tolong maafkan aku, Aleya." Ada penyesalan dalam nada bicara Boy.


Aleya menghela napas. "Sudah kumaafkan!" jawab Aleya datar.


"Jika kau sudah memaafkanku maka tataplah aku sekali saja," pinta Boy.


Aleya bergeming. Ia sama sekali tetap memalingkan wajahnya.


"Aleya!" seru seseorang dari kejauhan yang membuat Aleya tersentak.


Rion langsung menghampiri Aleya dan Boy.


"Apa dia mengganggumu lagi?" tanya Rion yang mendapat gelengan kepala dari Aleya.


"Baiklah. Ayo kita pulang!" Rion segera meraih tangan Aleya dan menggenggamnya.


Rion membawa Aleya pergi dari kampus. Sementara Boy hanya menatap nanar kepergian Aleya dan Rion. Entah kenapa hatinya sakit melihat Aleya bersama sahabatnya.


Tak lama seseorang menghampiri Boy.


"Kakak mengenal gadis itu?"


"Eh?"


Sejak tadi Nathan ternyata memperhatikan interaksi antara kakaknya dan Aleya.


"Aku bertanya sekali lagi, apa kakak mengenal gadis yang pergi bersama Kak Rion?"


Boy memilih untuk tidak menjawab.


"Apa dia adalah gadis itu? Gadis yang membuat kakak hampir membatalkan pernikahan kakak dengan Kak Tasha?"


Boy tetap memilih mode senyap.


"Jawab, Kak! Apa benar dia?" Nathan mulai bersuara tinggi.


"Jadi benar, dia adalah gadis dari desa terpencil itu? Katakan sesuatu, Kak!"


"Iya, benar. Dia adalah gadis itu."


Nathan terlihat marah.


"Kenapa harus dia? Aku baru saja merasakan hal yang berbeda terhadap seorang gadis dan ternyata gadis itu adalah yang menjadi biang permasalahan antara kakakku dan Kak Rion juga Kak Tasha. Astaga! Gadis macam apa dia?! Bisa-bisanya membuat hati banyak pria tertambat padanya!" batin Nathan.


Sementara itu, di dalam mobil Aleya terus diam dan tidak mengatakan sepatah katapun pada Rion. Rion sendiri tahu jika saat ini Aleya sedang mengalami kebimbangan.


Rion tidak akan memaksa Aleya untuk bicara padanya. Ia hanya akan menunggu hingga Aleya membuka hati untuknya.


Hingga akhirnya perjalanan pun berakhir di rumah Zetta. Aleya masih diam meski tahu ia sudah tiba di tujuannya.


"Maaf..."


Tiba-tiba satu kata meluncur dari bibir Aleya. Ingatan tentang Maliq yang memohon padanya tiba-tiba menyeruak.


"Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak bersalah," jawab Rion.


"Aku sudah banyak menyakiti hati Kakak tapi Kakak selalu ada bersamaku."


Rion menunggu hal apa lagi yang akan dikatakan oleh Aleya. Namun sebelum Aleya berkata lebih banyak lagi, Rion langsung mencegatnya.


"Aku bersedia, Aleya. Aku bersedia menunggu hingga hatimu siap menerimaku," tegasnya.


"Eh?" Aleya menoleh kearah Rion yang juga sedang menatapnya.


"Aku akan menunggu hingga kau bisa menerimaku."


Kata-kata Rion membuat hati Aleya terenyuh. Sungguh ia tidak ingin menyakiti pria ini lebih dari yang ia lakukan sekarang.


Tatapan teduh Aleya membuat hati Rion tak ingin melepas semua tentang Aleya.


"Aku akan menunggumu," ucap Rion dengan mulai memajukan tubuhnya kearah Aleya.


Rion mendaratkan sebuah kecupan di bibir gadis itu yang membuatnya membulatkan mata.



Jantung Aleya berdegup kencang ketika merasakan sapuan lembut bibir Rion. Wajahnya memerah karena malu dengan serangan tiba-tiba Rion.


Rion kembali memundurkan tubuhnya.


"Masuklah! Aku akan datang lagi malam nanti. Aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau bersedia?"


Aleya tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala.


...B E R S A M B U N G...


*Ayoyooooo, Babang Rion so swiiiit bangaaaatttt๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Kok aku yang meleleh ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


...Happy Sunday...


...Happy Holiday...