Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 78. Rahasia yang Tersimpan


Pagi sekali Esther sudah rapi dengan dress panjang tanpa lengannya. Ia menyambar tas tangannya dan tak lupa kacamata hitam ia bawa untuk membuatnya terlihat elegan. Rambut pendek sebahunya menambah kesan mewah dalam diri seorang Esther Alexandra.


Esther mematut dirinya di cermin sebelum ia keluar dari kamar. Langkah kakinya terdengar merdu karena heels yang menghentak lantai.


"Esther, mau kemana pagi-pagi begini?"


Langkah Esther terhenti karena panggilan dari Noel.


"Sarapan dulu. Aku sudah siapkan roti lapis untukmu." lanjut Noel.


"Aku tidak biasa sarapan pagi, Kak."


"Lalu kau mau kemana? Apa Roy memintamu langsung bekerja hari ini?"


"Tidak! Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu."


"Hah?! Sesuatu?"


"Aku ingin tahu apa kau mengawasi anak itu dengan baik atau tidak!"


"Esther!"


"Apa? Apa ada sesuatu yang tidak beres?"


"Aku akan mengantarmu!" tegas Noel kemudian langsung mengambil kunci mobil.


"Baiklah, jika itu mau kakak." Esther menurut dengan keputusan Noel.


.


.


.


Perjalanan pun dimulai. Noel melajukan mobil sesuai dengan arahan Esther.


"Jadi, kau ingin pergi kemana sepagi ini?" tanya Noel.


"Panti asuhan," jawab Esther singkat.


"Hah?!" Noel mengcengkeram erat kemudi.


"Untuk apa kau kesana?" tanyanya.


"Sudah kubilang aku ingin memastikan apa kau mengawasinya dengan benar atau tidak."


Noel tak menjawab. Esther melirik kearah Noel.


"Semoga kau memang mengawasinya dengan baik." ucap Esther kemudian mengalihkan pandangan ke arah jalanan.


Tiba di sebuah panti asuhan bernama 'Kasih Bunda', Esther dan Noel turun dari mobil dan bertemu dengan seorang ibu panti.


"Permisi, Bu."


"Iya, ada yang bisa dibantu?"


"Saya Esther, dan ini kakak saya, Noel. Saya ingin menanyakan soal bayi yang dititipkan di panti ini sekitar lima tahun lalu."


"Bayi lima tahun lalu? Banyak sekali bayi yang dititipkan disini."


Esther menatap Noel.


"Apa ibu selalu mendata bayi-bayi yang dititipkan disini?" tanya Esther.


"Oh iya, apa Nona ingin melihat daftarnya?"


"Iya, Bu."


Esther mengikuti langkah ibu panti untuk masuk kedalam kantor panti asuhan.


"Kami selalu mendata setiap bayi yang masuk, meski kadang ada bayi yang datang tanpa identitas." jelas ibu panti yang bernama Nur.


"Umm, apa ada wanita yang bernama Laras yang menitipkan bayi disini lima tahun lalu?" tanya Esther.


"Laras? Coba saya cek." Nur mencoba mengecek semua data yang masuk.


Esther menunggu dengan harap-harap cemas.


"Ada, Nona."


Sontak Esther menatap Nur dengan antusias.


"Dimana anak yang dibawa oleh Ibu Laras, Bu?"


Nur menatap Esther dan Noel bergantian.


"Mohon maaf, tapi bayi yang dibawa oleh Ibu Laras sudah diadopsi oleh orang lain."


"APA?!" Esther memekik terkejut.


"Saat itu saya mencoba menghubungi nomor kontak yang tertera didata ini, tapi nomornya sudah tidak aktif. Karena ada seorang wanita yang tertarik ingin mengadopsi Nathan, maka ... saya menyerahkan Nathan."


Esther terlihat syok mendengar penjelasan Nur.


.


.


.


Selama perjalanan kembali ke apartemen, Esther hanya terdiam. Noel juga ikut terdiam karena ia pun tak tahu harus bicara apa.


"Hentikan mobilnya!" perintah Esther.


"Ada apa, Esther? Kenapa berhenti disini?"


"Esther! Kau mau kemana?" Noel mencekal lengan Esther.


"Apa ini, Noel? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi anak itu? Kenapa sekarang anak itu malah di adopsi oleh orang lain?"


"Aku juga tidak tahu. Aku sibuk bekerja dan aku tidak bisa mengawasi dia setiap saat."


"Tapi harusnya kamu bisa menyewa orang untuk mengawasinya! Atau kau memang sengaja melepaskan anak itu? Iya?"


"Esther!"


"Sekarang kita harus mencari anak itu. Siapa tadi nama anak itu? Nathan? Kau harus mencarinya!!!" teriak Esther lalu mengacak rambutnya.


"Dia bukan anakmu, Esther. Kenapa kau harus peduli?"


"Karena dia satu-satunya senjata agar aku bisa kembali pada Roy!"


Noel tercengang. "Apa katamu? Kau ingin kembali pada Roy? Setelah semua yang aku lakukan untukmu, kau malah ingin kembali ke pelukan Roy?!"


"Iya! Memangnya kenapa? Aku kembali karena aku ingin merebut kembali cinta Roy!"


Noel menghela nafas. "Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapimu. Kau tetaplah Zara yang keras kepala." tutup Noel kemudian meninggalkan Esther mematung sendirian di tepi jalan.


*


*


*


Pagi ini Lian sengaja berangkat lebih awal dari biasanya. Ia ingin pergi ke suatu tempat.


Dan disinilah Lian berada. Di sebuah gundukan tanah yang sudah berusia lima tahun.


"Apa kabar, Nak? Ini Mama. Maaf ya Mama baru sempat mengunjungimu lagi. Maaf juga Mama tak datang bersama Papamu."


Lian menabur bunga diatas makam yang bertuliskan nisan 'Jonathan Rain Avicenna'.


"Rain, setelah ini Mama akan sering datang kemari. Mama ingin bercerita banyak hal. Kakakmu, Boy pasti juga ingin bercerita denganmu." Lian mengerjapkan matanya agar tidak menangis.


"Andai kau ada disini. Apa kau akan sepandai kakakmu, Boy? Atau hebat seperti Papamu? Kau bisa jadi apapun yang kau mau." Lian mengelus batu nisan itu.


"Mama merindukanmu, Nak. Sangat merindukanmu..." Akhirnya bulir bening itu lolos juga ke pipi Lian.


Lian segera menyeka air matanya karena ponselnya berbunyi.


Lian mendengus kesal. "Pria ini tidak bisa membiarkanku tenang sehari saja!"


Dengan malas, Lian mengangkat panggilan dari Julian.


"Halo, Kak Julian..."


"Lian, ada dimana kau?"


"Aku sedang di jalan menuju kantor, Kak."


"Ya sudah. Begitu tiba di kantor, tolong siapkan presentasi produk yang kau buat kemarin. Dan demokan di depan klien."


"Iya, Kak. Baik. Semuanya akan kusiapkan. Lima belas menit lagi aku tiba di kantor."


Sekali lagi Lian menatap makam Rain.


"Mama pergi dulu ya, Nak." Lian berbalik badan dan meninggalkan area pemakaman.


Sementara itu, Noel yang sudah melajukan mobilnya kembali menemui Esther. Noel turun dari mobil dan menarik lengan Esther.


"Masuklah!" titah Noel.


"Lepaskan! Aku bisa naik sendiri!" Esther menepis tangan Noel.


"Pakai sabuk pengamanmu! Kita akan pergi ke suatu tempat." ucap Noel dengan penuh ketegasan.


"Kemana?"


"Nanti juga kau tahu!"


Tak lama kemudian, mobil Noel berhenti di depan sebuah pemakaman umum.


"Mau apa kita kemari?" tanya Esther.


"Turunlah!" Noel segera turun dan berputar untuk membuka pintu Esther.


Noel menyeret lengan Esther dam membawanya masuk ke dalam area pemakaman, kemudian menjatuhkannya hingga tersungkur di satu makam.


Esther memekik kesakitan karena tubuhnya yang membentur tanah.


"Disinilah kau seharusnya, Esther! Ini adalah makam putramu!" teriak Noel.


Esther menggeleng tak percaya.


"Lihat dia! Kau bahkan tak memikirkan tentang dia ketika menukarnya?!"


Esther bangun dan menatap Noel nyalang. Tersirat sebuah kemarahan disana.


"Dia sudah mati, Noel! Jadi untuk apa aku peduli padanya?!!" teriak Esther.


Esther mengepalkan tangannya. Tubuhnya mulai bergetar menahan tangis.


...B E R S A M B U N G...


"sedikit mewek pas bikin part ini 😥😥😥


"Sudah mulai gak penasaran kan?"


Next???