I'M THE KING

I'M THE KING
Bab 215 - Perang


Fan Ming tidak memiliki pilihan lain dan semua orang juga memikirkan hal yang sama. Jika masalah ini segera tidak diatasi maka hanya masalah waktu sampai Benua Zhenwu hancur berantakan.


Cang Yue menepuk tangannya dan tersenyum, "Lalu apa pilihan kalian... bergabung bersama kami dan melawan Iblis demi keselamatan Benua Zhenwu atau duduk diam menunggu kalian semua dihancurkan. Jika ada yang ingin pergi maka silahkan saja... Suamiku bukanlah orang yang suka memerintah siapapun."


Cang Yue melanjutkan, "Suamiku tidak terlalu suka untuk mengatur kehidupan kalian, setelah Perang ini selesai maka semuanya akan kembali normal. Siapapun diijinkan kembali membentuk kekuatannya, sekarang tentukan pilihan kalian baik-baik !"


"Kami semua bersedia bertarung bersama Dewa Langit Chen Niu." Teriak semua orang dengan tegas.


Entah apakah Chen Niu akan menepati janjinya yang dikatakan oleh Cang Yue atau tidak mereka tidak peduli. Iblis ini masalah mereka bersama dan berlaripun rasanya sangat mustahil, satu-satunya jalan adalah bertarung dibawah perlindungan orang yang kuat dengan begitu kemenangan mungkin bisa diraih.


"Bagus... longgarkan pertahanan jiwa kalian semu dan aku akan memberikan tanda jiwa. Setelah Perang ini selesai maka kalian akan dibebaskan, jangan salahkan aku melakukan hal ini karena mengantisipasi musuh dalam selimut itu jauh lebih penting. Kalian bisa memegang kata-kataku dan aku bersumpah untuk tidak menggunakan kalian seperti sebuah Boneka." Kata Cang Yue dengan jujur.


Semua orang terlihat ragu dengan hal ini, memberikan tanda kepada jiwa mereka sama saja dengan mengontrol hidup mereka. Pemilik tanda jiwa dan mengontrol apapun dan jika dia ingin mereka mati maka hanya dengan pikiran saja orang yang ditargetkan akan mati tanpa bisa melawan.


Namun tindakan yang diambil Cang Yue sama sekali tidaklah salah. Mereka adalah Pengkhianat dan terdapat kemungkinan kalau pihak musuh sudah memasukan mata-mata.


Jika rencana penyerangan mereka diketahui oleh pihak musuh maka itu akan menjadi masalah yang serius. Cang Yue memiliki pengalaman yang nyata dalam pertempuran dan dia sangat dihargai oleh mendiang Dewa Langit Tian Zong.


Alur dalam perang tidak akan bisa ditebak sama sekali, karena itulah dia tidak ingin adanya kesalahan dimasa depan. Pasukan yang kuat adalah Pasukan yang memiliki tekad dengan tujuan yang sama.


Semua orang melonggarkan laut kesadaran mereka dan Cang Yue memberikan tanda jiwanya. Sekarang karena semuanya sudah terkendali dengan baik maka waktunya untuk bergerak.


"Mulai sekarang aku akan memimpin kalian untuk sementara sebelum Suamiku keluar dan menerobos Alam Mahayana. Satu bulan... kumpulkan semua persedian dan sekaligus persiapan kalian. Jangan lupa untuk merekrut orang yang benar-benar memiliki kemampuan, kehidupan Benua Zhenwu bergantung kepada hasil Perang ini." Cang Yue berteriak sangat keras dan menunjukan kharisma dari seorang pemimpin.


Semua orang berteriak dan bergegas melakukan persiapan, diperbatasan mereka membangun beberapa Kamp yang digunakan Pasukan untuk menjaga Kota diperbatasan. Array Teleportasi memiliki peran yang sangat penting dan mereka dapat melakukan persiapan dengan sangat cepat.


Cang Yue memberikan waktu sebulan dan seharusnya itu sudah cukup membuatnya menerobos. Karena itulah dia tidak membuang waktu untuk tidak berlatih, dia tidak tahu kapan Chen Niu akan selesai untuk menerobos Alam Mahayana.


Namun sebisa mungkin dirinya hanya ingin Chen Niu fokus menghadapi Raja Iblis, sisanya Cang Yue dan Pasukannya yang akan membuat jalan untuk Chen Niu.


Untuk waktu selama dia mundur semua urusan diserahkan kepada Fan Ming dan Die Sie. Cang Yue menunjuk mereka berdua sebagai wakilnya dan seharusnya dengan ketidakhadirannya untuk sementara waktu mereka berdua dapat menutup celah kekosongannya.


Setelah satu bulan berlalu semua hal yang dibutuhkan sudah siap. Perang diperbatasan di Wilayah Timur dan Barat sudah terjadi, dengan strategi yang aman mereka melakukan taktik Perang yang luar biasa.


Menyerang satu Kota dan menundukkan Kota itu dengan luar biasa, setelah itu mereka menduduki Kota itu sebagai markas. Sisa Pasukan musuh dipaksa tunduk oleh Fan Ming dan Die Sie dengan cara menandai jiwa mereka, sedangkan untuk pemimpinnya dibunuh dengan cara dipenggal didepan umum untuk melemahkan mental musuh.


Tentunya untuk orang biasa tidak ada yang menjadi korban karena ini adalah aturan dari Cang Yue. Namun tidak ada yang diijinkan untuk meninggalkan Kota demi keamanan, sejauh ini pihak musuh belum menunjukan taringnya dan namun mereka selalu siap dengan kedatangan musuh yang buruk. Selama musuh itu bukan Mo He maka kemungkinan untuk menang masih ada.