
Viona dan Mama Ratih kini sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi. Mereka ingin tahu lebih jelas kasus yang menimpa Reynaldi. Tentu saja mereka akan berusaha untuk membebaskan Reynaldi dari hukuman penjara.
Mereka baru saja sampai di kantor polisi, mereka bergegas memasuki kantor polisi dan berniat untuk menemui sang anak.
"Permisi Pak, saya ingin bertemu suami saya yang bernama Reynaldi," ucap Viona.
"Ibu tunggu di ruang tunggu, saya akan panggil dulu," ujar sang polisi.
Mama Ratih dan Viona merasa tak nyaman berada di kantor polisi, tetapi mereka menyayangi Reynaldi. Tak mungkin meninggalkan Reynaldi, dalam kondisi seperti itu.
Mama Ratih dan Viona merasa prihatin melihat keadaan Reynaldi yang penuh lebam di wajahnya, akibat pukulan dari pihak kepolisian. Agar dia mau mengakui kesalahannya.
"Ya Allah Nak, mengapa kamu seperti ini?" tanya Mama Ratih diiringi isak tangis.
"Rey di pukuli Ma, agar Rey mengakui kesalahan Rey. Rey enggak sanggup Ma, tolong bebaskan Rey," ucap Rey.
Saat itu bosnya Reynaldi di perusahaannya pun datang. Dia mendapatkan informasi kalau saat ini Reynaldi sudah di berada di kantor polisi.
"Dasar karyawan tak jujur! Kau rasakan hukuman yang pantas untuk seorang pencuri seperti kau! Saya akan buat kau merasakan hidup menderita di balik jeruji, jika kau tak membayar semua uang yang kamu gelapkan selama ini. Selama ini saya salah terlalu mempercayai kau," ujar Pak Andreas.
"Maafkan saya Pak. Saya khilaf, saya terpaksa melakukannya," sahut Reynaldi.
"Enak saja minta maaf. Kau tahu tidak? Perusahaan hampir saja bangkrut karena kau. Yang kau ambil itu bukan nominal yang sedikit, 500 juta! Saya tak akan pernah mencabut laporan ini, sebelum kamu bisa membayar semua uang yang kau curi," ucap Pak Andreas. Membuat Viona dan Mama Ratih melongo.
500 juta? Tentu saja bukan nominal yang kecil. Kemana mereka harus mencari uang sebanyak itu.
"Tolong bebaskan anak saya Pak! Saya janji akan mencicil uang yang anak saya pakai kepada bapak," ucap Mama Ratih. Saya akan menjaminnya.
"Kau pikir saya percaya? Apa jaminan yang kau berikan? Rumah? Kalau anak kau sudah bebas, saya yakin kalian akan kabur dan uang Saya tak akan kembali. Kau pikir Saya bisa kalian tipu? Sekarang kalian boleh pilih! Bayar 500 juta atau anak Anda menikmati hidup di balik jeruji bertahun-tahun?" jelas Pak Andreas.
Tak ada pilihan lagi, Reynaldi harus mengembalikan uang yang dia sudah pakai. Kalau tidak, terpaksa dia harus merasakan hidup di balik jeruji.
"Tolong Rey, Ma. Rey janji akan berusaha bekerja keras kalau Rey sudah bebas. Rey enggak mau di penjara," ungkap Reynaldi diiringi isak tangis.
"Coba kamu cari pinjaman Vi ke keluarga kamu. Bukannya keluarga kamu, keluarga berada," ujar Mama Ratih.
"Iya Ma, Vi akan usahakan. Tapi, Papa aku sekarang sudah pensiun tak berjaya seperti dulu. Kakak aku juga anaknya memiliki kelainan jantung, jadi uangnya habis untuk berobat anaknya terus. Perusahaan suaminya pun lagi collapse. Semoga saja ada rezekinya," sahut Viona.
"Iya, Vi. Mama juga mau coba cari pinjaman ke keluarga. Semoga saja ada yang mau menolong meminjamkan uang untuk mengeluarkan Reynaldi dari penjara. Kamu sabar ya Rey! Kami berdua akan berusaha. Mau tak mau, Reynaldi harus merasakan hidup di penjara. Sampai Mama dan istrinya membebaskan.
Bunda Anita akhirnya sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Kini Bunda Anita tinggal bersama Nisa. Nisa tak akan membiarkan Bundanya tinggal di rumahnya.
Suasana rumah Nisa tampak ramai. Karena kedatangan sang kakak, suami kakaknya, dan keponakannya. Nisa dan Abi baru saja mengadakan acara syukuran pernikahan mereka, sekaligus untuk mendoakan kesembuhan Bunda Anita dari penyakitnya.
Kedua orang tua Abi dan juga sahabatnya tampak hadir di acara itu. Abi sudah mengurus administrasi pernikahan mereka ke KUA, minggu depan mereka akan melakukan pernikahan kembali agar sah di mata hukum. Untuk acara resepsi, mereka sepakat menundanya sampai Bunda Anita benar-benar sehat.
"Mas, Mas mau makan sekarang? Biar aku siapkan," ujar Nisa.
"Iya, boleh deh sekarang. Sekalian tolong ambilkan untuk Papa juga ya," sahut Abi dan Nisa. menganggukkan kepalanya.
Nisa masuk ke dalam mengambil dua buah nasi kotak untuk suami dan ayah mertuanya. Dia juga menyiapkan minuman untuk mereka.
"Mas, Nisa masuk lagi ya," pamit Nisa.
"Iya, makasih ya Sayang," ucap Abi.
Nisa masuk kembali menghampiri sang kakak dan juga ibu mertuanya.
"Nis, aku pamit pulang ya. Kenzo ngantuk soalnya. Lagi pula besok siang aku sama Kenzo mau ke Inggris menemui daddynya. Kalau kamu perlu apa-apa, kamu hubungi aku saja ya," ujar Fina.
"Iya, makasih ya Fin sudah menyempatkan datang. Take care ya!" ucap Fina mereka langsung berpelukan.
Nisa mengantarkan Fina sampai depan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Acara pengajian baru selesai 10 menit yang lalu. Karena acara pengajian baru di mulai pukul 19.30 setelah sholat isya.
"Mas, Fina pamit pulang dulu ya. Kenzo sudah ngantuk soalnya, dari tadi sudah rewel," pamit Fina.
"Iya, Dek. Hati-hati ya Dek, maaf Mas enggak bisa antar," ujar Abi. Fina mencium tangan Abi dan juga pakdenya.
Untuk saat ini Abi belum membelikan Nisa rumah, Abi hanya membayar uang kontrakan yang pernah Fina pinjamkan ke Nisa. Untuk modal usaha pun, Nisa tak ingin Abi membayarnya. Dia ingin membayar dari jeri payah dia mendapatkan uang dari hasil usahanya. Alhamdulillah, usahanya berkembang pesat. Dia bisa mencicil modal yang dia pinjam dari Fina.
Rencananya, Abi akan membeli rumah yang mereka tempati saat ini. Karena Nisa dan Khanza sudah merasa betah tinggal di situ. Sudah merasa cocok. Nisa berniat melebarkan sayapnya. Menjadikan usaha konveksi rumahan menjadi pabrik garmen. Oleh karena itu, dia akan berjuang keras untuk mewujudkannya.
Kedua orang tua Abi pamit pulang, Nisa langsung mencium tangan kedua orang tua Abi secara bergantian. Sama halnya dengan Abi dan juga Khanza. Kedua orang tua Abi terlihat bahagia, karena pada akhirnya sang anak bisa mendapatkan istri yang baik dan sholeha.
Abi tampak merangkul Nisa untuk masuk ke dalam. Bukan hanya kedua orang tua Abi saja yang merasa bahagia, sang kakak dan sang ibu pun ikut merasa bahagia. Mereka berharap Nisa dan Abi selalu bahagia, dan segera diberikan momongan.