
Viona Baru saja sampai di rumah, dan langsung di sambut oleh sang suami.
"Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali pulangnya?" tanya Renaldi.
"Iya, tadi aku mampir dulu ke rumah mama. Sudah lama aku enggak main ke rumah Mama. Aku Ingin lihat keadaannya," jelas Viona.
"Oh, aku kira kamu ke mana dulu. Ya, sudah," ucap Reynaldi.
Semakin hari kondisi Viona semakin memburuk. Sebenarnya, Viona tak boleh capek ataupun stres. Hal itu bisa membuat penyakitnya kambuh.
Reynaldi menghampiri sang istri yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Ay, aku lagi pengen. Sudah lama kita tak bercinta," ujar Reynaldi.
Memang benar, apa yang dikatakan Reynaldi. Semenjak dia berhenti bekerja, Reynaldi menjadi tak bergairah untuk bercinta. Tak seperti dulu, yang selalu ingin bercinta dengan Viona. Setelah menikah, dirinya justru malah merasa bosan.
Kini keduanya sudah sama-sama polos. Viona tak mau, kalau suaminya bermain dengan wanita lain. Dia mencoba menahan rasa sakit, setiap kali berhubungan suami istri. Dia ingin membahagiakan suaminya.
Reynaldi mulai mencium bibir Viona, semakin lama ciuman itu semakin bergairah. Miliknya sudah menegang. Reynaldi meminta Viona untuk mengulumnya. Desa*han pun keluar dari bibir Reynaldi. Dia begitu menikmati, sudah sangat lama dia tak mendapatkan pelepasan.
"Kamu sudah tak KB 'kan Ay? Pasti tembakan aku ampun ini, sudah lama tertahan. Bisa langsung jadi anak ini," sahut Reynaldi dengan bangganya. Viona hanya menganggukkan kepalanya. Hatinya menjerit, kala mendengar sang suami bicara masalah anak. Bagaimana kalau suaminya tahu, kalau dia tak bisa memberikan seorang anak. Dia juga mengidap penyakit yang mematikan.
Viona tak lagi bisa merasakan nikmat seperti dulu, saat jari tangan suaminya bermain di area sensitifnya, untuk memberikan rangsangan untuk istrinya.
"Aku mulai sekarang ya Ay," ucap Reynaldi.
Viona tampak meringis, baru membayangi milik suaminya masuk saja, Viona sudah merasa takut.
"Ya Allah, semoga suamiku bisa mendapatkan kepuasan. Jangan sampai aku mengeluarkan darah lagi," doa Viona, saat suami sudah mulai mengarahkan miliknya.
"Ay, jangan di tahan gitu dong! Bukannya yang lebar," protes Reynaldi. Rasanya begitu ngilu, Viona terlihat tegang. Seakan dia ingin menghentikan permainan suaminya. Tetapi, jika dia melakukan hal itu. Pasti suaminya sangat kecewa padanya.
Akhirnya, Viona melebarkan kedua pangkal pahanya. Untuk memudahkan sang suami membenamkan miliknya. Viona meringis kesakitan, saat benda tumpul suaminya menerobos miliknya. Bahkan dia sampai meneteskan air matanya.
"Jangan tegang, Ay! Kamu biasanya menikmati. Rahim Viona semakin terasa nyeri, saat benda tumpul suaminya terus memompa naik turun. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Membuat Reynaldi merasa bingung.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Reynaldi, dia sempat menghentikan aktivitas memompanya. Dia merasa tak tega melihat sang istri.
"Ya sudah kita hentikan saja, kalau memang kamu lagi sakit," ucap Reynaldi.
"Enggak kok Ay, aku nggak sakit. Ya sudah lanjutin aja lagi! Mungkin, karena sudah cukup lama enggak berhubungan. Jadi aku merasa tegang. Ya sudah lanjut lagi! Aku ingin menyenangkan kamu," ucap Viona. Hingga akhirnya Reynaldi melanjutkan permainannya lagi.
Viona mencoba memendam perasaannya, saat ini. Puzzle tentang kesalahan dia dulu, hadir menari di pikirannya. Pikiran itu hadir, seakan dia akan pergi selamanya. Bagaimana dia dulu, dengan sombongnya mengatakan dan menyuruh Reynaldi untuk tidak peduli kepada Khanza, dan dia yanga akan memberikan seorang anak untuk Reynaldi. Tetapi ternyata, Allah berkata lain. Allah tak memberikan dia anak, dan justru Allah memberikan dia penyakit yang mematikan
Mata Viona terasa berkunang-kunang, kepalanya kleyengan, dan lama kelamaan pandangannya menggelap, hingga akhirnya dia jatuh jatuh pingsan. Tentu saja hal itu membuat Reynaldi panik menghentikan aktivitasnya, dia langsung mencabut pusakanya.
"Ay, bangun Ay! Kamu kenapa?" Reynaldi mencoba membangunkan istrinya. Reynaldi bertambah panik, saat melihat darah segar mengalir dari selang*kangan Viona.
Reynaldi mengira, kalau saat ini Viona sedang hamil, dan mengalami pendarahan. Reynaldi langsung memakai pakaiannya, dan langsung memakaikan pakaian Viona.
"Ma, Rey ke rumah sakit dulu ya. Viona pingsan dan pendarahan. Sepertinya dia hamil, dan keguguran," ujar Reynaldi.
"Terus, kalau kamu pergi. Mama di rumah sama siapa Ma? Mama takut di rumah sendiri," protes sang mama.
"Tapi, Ma. Kalau Viona enggak di bawa ke rumah sakit. Nyawanya bisa tidak tertolong, karena kekurangan darah. Sebentar ya Ma! Rey akan segera pulang, kalau Viona sudah mendapat pertolongan. Semoga saja Viona baik-baik saja," ucap Reynaldi yang mencoba memberi pengertian kepada sang mama. Akhirnya, sang mama mengerti di tinggal di rumah sendiri.
Reynaldi langsung memesan taksi online untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Reynaldi memasukkan beberapa lembar baju dan juga berkas-berkas yang di butuhkan untuk administrasi.
Setelah taksi online datang, dia langsung menggendong sang istri ke mobil.
"Ma, Rey jalan dulu ya! Mama di kasur saja ya! Rumah Rey kunci dari luar ya," ujar Reynaldi dan sang mama mengiyakan.
Kini Reynaldi dan Viona sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sampai saat ini Viona belum juga sadar.
"Ay, sebenarnya kamu kenapa si? Kalau kamu merasa tak kuat, kenapa tadi masih memaksa aku untuk melanjutkannya? Jadinya 'kan begini. Apa kamu sedang hamil? Hingga akhirnya kamu mengalami pendarahan. kamu kenapa enggak bilang sama aku, kalau kamu sedang hamil," Reynaldi bermonolog.
Mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah sakit. Reynaldi langsung menggendong tubuh istrinya ke IGD. Viona langsung mendapatkan pertolongan.
Sang dokter mulai menanyakan kronologi kejadian yang terjadi pada pasien. Dengan perasaan malu, Reynaldi terpaksa harus menceritakan.
"Apa istri saya hamil muda ya Dok? Kok dia bisa mengalami pendarahan seperti ini, saat berhubungan intim?" Tanya Reynaldi.
"Ada 2 kemungkinan. Bisa istri Anda sedang hamil muda, bisa juga karena istri Anda mengidap penyakit kanker serviks. Biasanya, yang mengidap kanker serviks, sering merasa nyeri saat berhubungan suami istri, dan bahkan bisa menyebabkan pendarahan. Apa istri Anda mengalami gejala seperti itu?" jelas sang dokter.
Reynaldi jadi teringat, kala tadi pertama kali di mulai. Viona meringis kesakitan, tetapi Viona bilang karena dia sudah lama tak pernah berhubungan intim. Jadinya merasakan hal seperti itu.
"Saya tidak tahu dok, coba dokter periksa secara detail," ucap Reynaldi. Reynaldi terlihat lemas, tegang, dan stres.
Dia sedang berpikir, apa mungkin sang istri memang benar mengidap kanker.
"Ya Allah cobaan apalagi yang engkau berikan kepadaku?" Reynaldi bermonolog.