Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Memilih Bercerai


Meli menunjukkan perasaan tak sukanya, karena mendengar percakapan mesra laki-laki di sampingnya dengan istrinya. Namun, dirinya bisa apa? 


Tubuh mereka kini terlihat sama-sama polos, dan hanya ditutupi dengan selimut. Cinta terlarang, akhirnya berakhir di ranjang. Pergulatan panas pun terjadi, keheningan malam dan rintik-rintik hujan menjadi saksi percintaan mereka. 


"Kenapa? Marah ya? Maaf ya, aku hanya tak ingin dia merasa cemburu," jelas Reza sambil tangannya merapikan poni kekasihnya. Ya, mereka sudah resmi menjadi kekasih sejak hari ini. 


Laki-laki yang awalnya setia, kini berubah menjadi seorang pengkhianat karena sebuah naf*su sesaat. Rasa cintanya kepada sang istri, perlahan berkurang dan kini sudah terbagi dua untuk wanita lain. 


Perselingkuhan suaminya, bahkan sampai terbawa ke alam mimpi. 


"Tidak! Aku tidak mau," teriak Viona, yang akhirnya terbangun. Viona masih mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. 


Air mata Viona jatuh satu persatu, dia takut kejadian di mimpi benar terjadi. Dia melihat suaminya mencumbu mesra Meli. 


"Ya Tuhan, mimpi itu seakan nyata. Semoga ini hanya sebuah mimpi. Aku takut suamiku berselingkuh di belakang aku," ucap Viona lirih. 


Viona menghubungi suaminya, tetapi hanya kecewa yang dirasakan. Karena ponsel suaminya saat ini sedang tidak aktif. Suaminya kini sedang ada mainan baru. 


"Kak, Meli takut. Nanti kalau Meli hamil bagaimana?" tanya Meli yang kini menatap ke arah Reza. 


"Tenang saja! Kamu tak akan hamil. Istri aku saja yang sering bercinta dengan aku, tak hamil-hamil," ujar Reza dengan santainya.


Reza merasa senang, karena Meli tak protes seperti Viona istrinya. Bukan itu juga, Reza pun merasa aneh pada diri sendiri. Mengapa dirinya bisa lebih tahan lama saat bercinta dengan Meli. Atau mungkin dirinya baru merasakan bercinta dengan seorang perawan? Reza 'lah yang merenggut kehormatan Meli untuk pertama kalinya. 


Pukul 03.00 pagi WIB, mereka baru saja selesai bercinta. Mereka kini masih saling berpelukan. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. 


"Kita pulang lebih awal saja yuk! Nanti kita lanjut di kosan saja," ujar Reza kepada kekasihnya. 


Padahal tadi malam mereka sudah melakukan berkali-kali. Namun, kini tubuh Meli sudah menjadi candunya. Seakan dirinya tak pernah merasa puas. 


Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Sesekali Reza menatap ke arah kekasihnya yang sedang tertidur pulas. Tanpa sadar senyuman hadir di sudut bibirnya. 


"Aku tidak pernah tahu, pada akhirnya hubungan kita akan seperti apa. Karena aku merasa tak tega untuk menceraikan istriku, dan kamu pun sama dengan aku. Kamu belum siap untuk memiliki hubungan yang resmi," ucap Reza dalam hati. 


Meli dan juga Reza baru saja sampai di kosan mereka tinggal. Meli pamit untuk masuk ke kamar kosannya. Dia memilih langsung beristirahat, karena dirinya baru saja tertidur pukul 03.00 pagi. 


"Panas sekali sih," gumam Meli. 


Hingga akhirnya dia memilih hanya menggunakan tank top dan juga hotpants. Setelah itu langsung naik ke atas kasur busa yang berukuran 90 centimeter. Perlahan mata Meli akhirnya terpejam. Untuk sementara waktu, dia hanya menyewa kamar yang mendapatkan fasilitas sederhana. Hanya memakai kipas angin. Berbeda halnya dengan Reza yang menyewa kamar kos yang eksekutif. 


Reza tampak gelisah, hatinya kini menjadi tak karuan. Kala mengingat percintaan panas dengan Meli, ternyata rasanya sangat berbeda mencicipi wanita yang masih perawan. Membuat dirinya menggila. 


"Mel, Meli," ucap Reza yang mengetuk pintu kamar Meli. Saat itu Meli sudah tertidur pulas, dia sempat tak mendengar Reza memanggil-manggil namanya. 


Dengan mata yang mengantuk, akhirnya Meli terpaksa membuka matanya. Kemudian bangkit turun dan membuka pintu kamar kosnya. 


"Kakak? Kenapa Kak? Maaf Meli tadi ketiduran. Kakak tak jadi menjemput Kak Viona?" tanya Meli.


Sejak tadi Reza berusaha menahan salivanya. Melihat pemandangan indah wanita di hadapannya, Meli begitu seksi. Meli memiliki tubuh tinggi langsing, dan memiliki bukit kembar yang tentunya lebih menggoda berbeda milik istrinya yang sudah mulai mengendur. Membuat pikiran Reza traveling.


"Pindah kamar Kakak saja yuk, kasihan kamu pasti kegerahan," rayu Reza saat melihat tubuh Meli berkeringat. Reza sudah kecanduan tubuh Meli. 


"Nanti, kalau Kak Viona pulang bagaimana melihat aku di kamar Kakak?" tanya Meli. Meli masih memilih hubungan seperti ini. Menutupi dari Viona. 


"Tenang saja, Kakak sudah bilang. Nanti sore Kakak akan jemput ke rumah mamanya," rayu Reza, hingga akhirnya Meli mau. Dia juga ingin menumpang untuk tidur menggunakan AC. 


Tentu saja Reza tak akan membiarkan Meli tidur begitu saja, dia tentu saja akan menggoda Meli untuk menambah keringat dulu. Dia akhirnya, mereka melakukan kembali. 


"Kak, Meli capek," rengek Meli. 


"Iya, sekarang kamu puas-puaskan tidur ya sampai sore! Nanti kalau kamu masih mengantuk, tidak apa kalau kamu masih ingin di sini. Tetapi jam 16.00 Kakak harus jemput Kak Viona dulu, nanti Kakak mengajak Kak Viona makan dulu deh. Agar kamu tidur dengan puas di sini," ungkap Reza. 


Reza tampak menyelimuti tubuh Meli dengan selimut, karena saat ini Meli masih dalam keadaan polos. Sedangkan Viona saat ini sudah bersiap-siap untuk pulang. Entah mengapa sejak tadi perasaannya menyuruh untuk pulang ke tempat kosan. Dirinya baru saja sampai di kosan.


"Kok AC-nya menyala? Apa suamiku sudah pulang? Mengapa ini ada sandal Meli, apa mereka ada di dalam berdua?"  Viona bermonolog dengan pikirannya. 


Hatinya semakin tak karuan, jantungnya berdegup sangat kencang. Dirinya berusaha untuk menguatkan, apa yang terjadi nanti. Viona tampak memegang dadanya yang terasa sesak. 


Viona mencoba mengetuk pintu kamarnya, dia masih berharap kalau semua ini hanya pemikirannya saja. Ketukan Viona semakin keras, karena Reza tak juga membuka pintu kamar. Dia yakin, kalau Reza sudah datang, dan sedang tidur. 


Dengan mata yang masih mengantuk, Reza mengambil celana pendek dan juga kaos oblongnya dan memakainya. Reza sempat melirik ke arah Meli yang masih tertidur pulas karena ulahnya.


"Tunggu, sebentar!" teriak Reza dari dalam. Reza berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Dirinya melongo, saat melihat wajah istrinya berada di hadapannya. 


Viona langsung mendorong tubuh Reza, agar dirinya bisa masuk. Hal yang dia takutkan selama ini, akhirnya terjadi lagi. Tubuh Viona tiba-tiba saja lemas, seakan jantungnya terhenti. Dia adalah seorang wanita, sekuat apa pun dia. Dia tetap tak akan mampu menahan rasa sakit hatinya. 


"Bangun! Dasar wanita murahan! Wanita penggoda!" umpat Viona. 


Viona menarik tangan Meli dengan kasar. Reza mencoba menghalangi, saat Viona ingin menampar wajah Meli. 


"Oh, jadi kamu membelanya daripada aku istri kamu? Baiklah, jika itu keputusan kamu! Aku ingin kita bercerai," ucap Viona dengan suara yang terasa berat. Ucapan yang begitu berat untuk diucapkan. 


"Vi, dengarkan aku! Aku ngaku kalau aku salah, aku mencintai Meli. Tetapi aku juga mencintai kamu," ungkap Reza. 


Viona sudah tak butuh penjelasan dari Reza. Tekadnya sudah bulat, dia memilih untuk bercerai. Dia langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Air matanya terus menetes. Hatinya terasa sakit, melihat suaminya berselingkuh di depan mata kepalanya.