
"Bi, besok kita mulai packing barang-barang yang akan kita bawa pindah ya! Saya tak bisa perpanjang rumah ini lagi, terpaksa harus cari kontrakan yang murah, dan bisa bayar bulanan. Barang-barang ini juga sebagian akan di lelang, karena tak mungkin cukup kalau dibawa semuanya," ujar Reynaldi kepada sang ART dan sang ART mengiyakan.
Kehidupan Reynaldi, semakin lama semakin menderita, dan semakin terpuruk. Bahkan kini mereka harus berada di fase paling terendah. Entah sampai kapan mereka akan bertahan hidup. Rasanya, Reynaldi sudah merasa lelah menjalani kehidupan. Terlebih, saat melihat mantan istrinya itu hidup bahagia bersama laki-laki lain.
"Ma, Rey berangkat dulu ya! Nanti Rey pulangnya malam ya!" Ujar Reynaldi kepada sang mama.
"Iya, Rey. Semangat ya Rey!" Ucap Mama Ratih kepada sang anak.
Dengan mengendarai sepeda motornya, Reynaldi pergi meninggalkan rumah menuju tempat dia bekerja. Kini Reynaldi baru saja sampai di rumah sakit tempat dia bekerja. Reynaldi langsung memarkirkan motornya.
Reynaldi berniat mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari sekarang. Terlebih dia dulu memiliki pengalaman dalam bekerja. Namun, dirinya dulu memang sulit mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya dia terpaksa menerima tawaran sebagai cleaning service. Suatu pekerjaan rendahan, tetapi mampu membuat dia bertahan hidup.
Berbeda halnya dengan Reynaldi, Nisa justru sedang menikmatinya sebagai seorang ibu dari tiga orang anak. Meskipun repot, dia lebih memilih melakukannya sendiri. Sang ART tugasnya hanya membantu dirinya.
Abi dan Khanza baru saja sampai di rumah. Mereka langsung ke kamar mandi secara bergantian. Karena dia ingin langsung bermain dengan kedua adiknya. Setelah mencuci tangan, Khanza langsung berganti pakaian.
"Halo, adik-adik kakak yang cantik dan tampan. Kok enggak tidur? Sudah mulai ingin main ya?" Ujar Khanza yang mengajak bicara sang adik.
Khanza menyuruh sang bunda untuk mengobrol dengan sang papa. Azzam dan Azzura biar dia yang mengurusnya. Terlihat sekali kalau Khanza begitu menyayangi kedua adiknya.
"Bun, bunda masak enggak?" Tanya Khanza. Khanza tetap saja, ingin makan masakan sang bunda.
Nisa melihat ada kekecewaan di wajah Khanza, karena sang bunda lebih fokus mengurus kedua sang adik. Hingga akhirnya, Nisa berniat untuk memasak. Karena kini sudah ada Khanza dan juga sang suami yang bisa membantu menjaga Azzam dan Azzura, jika menangis.
"Sudah bun, tak apa-apa kalau bunda enggak sempat memasak," ujar Khanza.
"Tak apa-apa kak, sekarang Azzam dan Azzura 'kan sudah ada yang menjaga. Kamu dan papa bisa membantu Bunda menjaga Azzam dan Azzura," ujar Nisa.
"Ya sudah, kalau begitu. Bunda tak perlu khawatir. Aku yang akan menjaga Azzam dan Azzura," sahut Khanza.
Nisa langsung memasak untuk menyenangkan hati anak dan suaminya. Saat ini Nisa berniat membuat sayur sop baso, sambel, ayam goreng, dan juga tempe goreng.
Masakan sudah selesai dibuat, dan sudah tersusun rapi di meja makan. Nisa mengajak anak dan suaminya untuk makan.
"Ayo kita makan! Mumpung Azzam dan Azzura tidur," ajak Nisa kepada sang anak dan juga sang suami.
Mereka sudah berada di meja makan. Menikmati makanan yang dibuat istri dan juga sang bunda. Mereka terlihat makan dengan lahap. Nisa merasa senang, karena bisa membuatkan makanan untuk suami dan juga anaknya. Dia berjanji, untuk tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dari Khanza.