
Dering ponsel Nisa berbunyi.
"Bu, ponsel ibu bunyi," teriak sang ART.
"Ya Bi, biarin saja dulu," sahut Nisa dari dalam kamar mandi. Saat itu Nisa sedang mandi.
Setelah selesai mandi, Nisa langsung memakai pakaiannya. Kemudian dia langsung mengecek ponselnya, dan ternyata Mba Rania sang kakak yang menghubunginya. Dia langsung melakukan panggilan balik kepada sang kakak.
"Assalamualaikum, Mba," ucap Nisa mengawali pembicaraan.
"Waalaikumsalam," sahut Mba Rani
"Mba tadi telepon aku ya? Maaf ya Mba, tadi aku lagi mandi. Apa kabar Mba? Nisa kangen sama Mba. Maaf ya Mba, Nisa belum sempat terus ke rumah Mba," ucap Nisa.
"Iya, enggak apa-apa Nis. Mba mengerti. Mbak juga mau minta maaf, karena Mba belum bisa ke sana juga. Padahal kamu sekarang sudah di Jakarta. Insya Allah Sabtu ini Mba main ke apartemen kamu, nanti kamu kasih tahu saja alamatnya ya. Mba sama Nabila nanti ke sana," sahut Mba Rania.
"Ok, Mba. Nisa tunggu ya, sekalian Nabila bawa baju renang ya Mba. Biar nanti bisa berenang sama Kanza di apartemen. Di situ ada kolam renangnya," ujar Nisa.
"Oke deh Nis, nanti Mbak kabarin lagi ya kalau Mba sudah pasti mau ke sana," sahut Mba Rania.
"Oke, Mba. Nisa tunggu," ucap Nisa.
Setelah berbincang banyak hal, akhirnya mereka memilih untuk mengakhiri percakapan mereka. Kini Nisa sudah terlihat segar, dan akan mulai bekerja mengecek laporan dari orang kepercayaannya di Jogja.
Perut Nisa sudah semakin membesar. Dia sudah semakin sulit untuk bergerak. Namun, hal itu tak menyurutkan keinginan Nisa untuk tetap menjadi istri yang baik untuk Abi, dan Bunda yang baik untuk Khanza. Nisa juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Usaha yang saat ini dia rintis adalah mimpinya, dia tak akan mau melepasnya.
Saat itu jam menunjukkan pukul jam 14.00 siang, sudah saatnya dia menjemput Khanza. Karena hari ini Abi tak bisa menjemput Khanza. Ada pasien Abi yang statusnya kritis, hingga Abi tak bisa pulang cepat. Nisa terlihat sudah bersiap-siap, dia sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat menjemput Khanza.
"Bi, Ibu pergi dulu ya menjemput Khanza," pamit Nisa kepada sang ART.
"Iya Bu, hati-hati di jalan ya Bu," sahut sang ART
Kini Nisa sudah dalam perjalanan menuju sekolah Khanza. Untungnya sekolah Khanza letaknya tak jauh dari apartemen Nisa. Nisa sudah sampai di sekolah Khanza, dan saat ini sedang menunggu Khanza di area sekolah Khanza.
Bel berbunyi, tanda waktunya Khanza untuk pulang. Khanza bergegas keluar dari ruang kelasnya, dan mencari keberadaan sang Bunda.
"Assalamualaikum," Khanza mengucap salam dan mencium tangan sang Bunda.
"Waalaikumsalam, gimana kak tadi sekolahnya? Bisa 'kan sekolahnya?" Tanya sang bunda.
Khanza selalu bercerita kepada sang Bunda setiap dia pulang sekolah. Menceritakan semua kejadian yang terjadi di sekolah selama seharian. Hubungan Khanza dengan sang Bunda sangat baik. Dia begitu menyayangi sang Bunda. Karena dia selalu ingat perjuangan sang Bunda untuk membesarkan dirinya, setelah bercerai dari sang ayah. Sungguhlah tak mudah bagi sang Bunda yang berjuang keras untuk membahagiakan dia di saat sang ayah melupakan dirinya.
"Oh, ya. tadi Bude Rania telepon bunda. Katanya Sabtu ini Kakak Nabila mau main ke apartemen kita," ungkap Nisa.
Mendengar berita itu, Khanza tentu saja bersorak gembira. Dia terlihat sangat senang, karena Nabila akan datang.
"Hore, nanti aku jadi bisa berenang sama Kak Nabila," ucap Nisa.
"Iya, Bunda juga sudah bilang sama bude untuk bawa baju renang. Biar nanti kamu bisa berenang sama Kak Nabila," sahut Nisa dan Khanza menganggukkan kepalanya.
"Kakak ada yang mau dibeli dulu enggak atau mau makan apa dulu gitu sebelum kita kembali ke apartemen?" tanya Nisa
"Enggak ada Bun. Kita langsung pulang saja ke apartemen. Aku ingin cepat-cepat pulang, aku ingin makan masakan Bunda saja. Bunda masak kan?" sahut Khanza.
"Iya, Bunda masak kok tadi. Bunda Bikin telur balado sama sayur capcay," ujar Nisa.
"Wah enak tuh. Aku suka, perut aku jadi lapar," sahut Khanza sambil terkekeh.
Mereka baru saja sampai di apartemen. Mereka langsung menuju unit apartemen yang mereka tempati. Khanza langsung mengganti pakaiannya, setelah itu dia langsung ke meja makan untuk mengambil makanan. Dia makan begitu lahap, dia selalu suka masakan sang Bunda. Baginya, masakan sama Bunda yang paling enak.
Abi baru saja sampai di apartemen, Nisa langsung menyambut sang suami dengan baik.
"Mas sudah makan belum? Aku tadi masak balado telur sama bikin capcay," Nisa menawarkan sang suami makan.
Kini Abi dan Nisa sudah di meja makan. Nisa menemani Abi untuk makan.
"Kok kamu enggak makan? Ayo makan temenin mas makan," ujar Abi. Hingga akhirnya Nisa pun ikut makan bersama sang suami.
"Oh ya Mas, hari Sabtu ini katanya Mbak Rania mau main ke sini sama Nabila. Tadi dia telepon aku. Aku juga sudah bilang sama Mba Rania, menyuruh Nabila bawa baju renang. Agar dia bisa renang bersama Khanza di sini," ujar Nisa dan Abi menganggukkan kepalanya.
Hari yang di nanti telah tiba. Akhirnya Mba Rania dan Nabila sudah sampai di apartemen Nisa. Dia sudah sampai di lobby, Mba Rania langsung menghubungi sang adik.
Ponsel Nisa berdering, Nisa bergegas langsung mengangkat panggilan telepon dari sang kakak.
"Ya Mba, Assalamualaikum," ucap Nisa.
"Waalaikumsalam. Nis, ini Mba sudah ada di lobby. Nisa ke sini ya sekarang. Soalnya Mba enggak tahu kamu tempatnya di mana," ujar Mba Rania.
"Iya Mba, Mba tunggu dulu ya! Nanti mas Abi ke sana jemput mba sama Nabila," ujar Nisa.
"Iya Nis, Mba tunggu ya," sahut Mba Rania. Nisa pun mengiyakan.
Nisa langsung memanggil sang suami untuk menjemput sang kakak dan keponakannya. Abi pun langsung bergegas menjemputnya bersama Khanza. Khanza terlihat senang melihat Nabila datang, dia langsung berpelukan sama Nabila.
"Gimana Bi kabarnya?" Tanya Mba Rania saat berjalan menuju unit apartemen Abi.
"Alhamdulillah Mba, baik. Mbak Rania gimana kabarnya?" tanya Abi kepada sang kakak ipar.
Mba Rania yakin kalau Abi bisa membahagiakan sang adik, dan sosok suami yang baik.
Melihat sang kakak datang, Nisa langsung memeluk sang Kakak. Melepas rasa rindu mereka.
"Nisa kangen sama mba," ujar Nisa.
"Iya, mba juga kangen sama Nisa. Gimana kondisi kandungan kamu? Baik-baik saja 'kan?" Tanya Mba Rania.
"Ya Mba, alhamdulillah baik-baik saja. Kembar juga alhamdulillah sehat. Insya Allah aku mau tujuh bulanan di Jogja Mba," ujar Nisa. Mereka kini sudah duduk di sofa yang berada di depan Televisi.
"Alhamdulillah Mba senang dengarnya," sahut Mba Rania.
"Bun, aku boleh enggak berenang sekarang sama Kak Nabila?" Tanya Khanza. Khanza sudah merasa tak sabar untuk berenang dengan Nabila.
"Nanti dulu ya! Kak Nabila-nya 'kan baru sampai banget. Biar istirahat dulu," ujar Nisa mencoba memberi pengertian kepada sang anak.
"Ayo Nabila, Mba, dimakan kuenya," ujar Nisa. Nisa sudah menyiapkan kue brownies dan bolu untuk sang kakak dan keponakannya.
Mereka mengobrol terlebih dahulu. Setelah 15 menit berlalu, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan mengobrol di kolam renang. Sambil menemani anak-anak mereka berenang.
Mba Rania dan Nisa sudah berada di tepi kolam renang mengobrol bersama. Sedangkan Abi ikut berenang dengan Nabila dan juga Khanza.
"Mba, Viona 'kan sudah meninggal," ujar Nisa.
"Viona si pelakor di rumah tangga kamu?" Tanya Mba Rania memastikan, dan Nisa mengiyakan.
Nisa menceritakan kepada sang kakak. Tentang pertemuan Viona dengannya waktu itu di rumah sakit. Nisa juga menceritakan kalau Viona adalah mantan istrinya Abi.
"Ya ampun, dunia sempit banget si. Ini namanya jodoh yang tertukar," sahut Mba Rania membuat keduanya tertawa. Jika di pikir-pikir, memang lucu.
Nisa menceritakan, kalau Rey menghubungi Abi. Meminta dirinya datang ke rumah sakit, saat Viona kritis.
"Terus, kamu memaafkan dia?" Tanya Mba Rania.
"Iya, Mba. Aku sudah memaafkan dia. Harusnya aku bersyukur, karena dia aku jadi bisa berjodoh sama mas Abi," sahut Nisa dan Mba Rania mengiyakan.