Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menjadi Papa Yang Baik


"Alhamdulillah ya Mas, kedua buah hati kita dua-duanya sehat. Aku jadi enggak sabar ingin melihat mereka. Wajahnya mirip kamu apa aku ya kira-kira?" Tanya Nisa kepada sang suami.


Kini mereka sudah dalam perjalanan ke sekolah Khanza, untuk menjemput Khanza.


"Mas juga sudah tak sabar ingin melihat kedua baby gemoy kita. Kalau soal mirip, pasti mirip kita berdua. Wong, kita berdua yang buat mereka. Mirip siapa saja tak apa-apa, yang penting dia mereka sehat, dan lahir dengan selamat. Kelak mereka juga akan menjadi anak yang sholeh dan sholeha," sahut Abi dan diaminkan oleh Nisa.


Mereka sudah sampai di sekolah Khanza. Nisa langsung turun menuju ruang kelas Khanza. Dia menunggu Khanza di depan ruang kelasnya. Sedangkan Abi lebih memilih menunggu istri dan anaknya di dalam mobil.


Khanza baru saja keluar dari kelasnya, dia langsung menghampiri sang bunda yang sudah menunggu dirinya di depan kelas. Khanza langsung mencium tangan sang bunda, dan mengucap salam kepada sang bunda.


"Bunda sudah lama?" Tanya Khanza kepada sang bunda. Mereka sedang berjalan ke arah parkiran mobil.


"Enggak kok, baru. Tadi bunda 'kan periksa adik bayi dulu. Insya Allah bulan depan adik bayi lahir. Hari Sabtu kita belanja keperluan adik bayi ya," ujar Nisa.


Khanza tampak senang mendengarnya. Dia sudah tak sabar ingin melihat kedua adik bayinya. Dia pun ingin memilihkan perlengkapan untuk kedua adiknya.


"Aku jadi ingat adik bayi dulu yang sudah meninggal. Andai saja Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk terlahir ke dunia, saat ini aku memiliki adik," ungkap Khanza.


"Semua itu sudah menjadi rencana Allah. Mungkin, jika adik masih ada. Bunda dan Ayah Rey sampai saat ini masih terus bersama. Bunda pasti akan lebih mempertahankan rumah tangga bunda dengan ayah," ucap Nisa dan Khanza mengiyakan.


Obrolan mereka harus terhenti. Karena mereka sudah sampai di parkiran mobil. Nisa dan Khanza langsung masuk ke dalam mobil. Khanza langsung mencium tangan sang papa.


Abi dan juga Nisa selalu memperhatikan Khanza. Kelak, jika kedua anak yang masih dalam kandungan Nisa itu lahir, Abi sudah berjanji dalam hatinya untuk tidak pilih kasih. Dia tak akan membedakan antara anak kandung dengan anak tirinya. Abi menyayangi semuanya.


Mereka baru saja sampai di apartemen, Nisa mengganti pakaiannya sambil menunggu waktunya azan ashar dengan pakaian kebangsaannya yang tak lain daster. Kemudian langsung menyiapkan makan suaminya.


"Mas, Ka, makan dulu yuk! Tadi bunda masak," Teriak Nisa.


Abi dan Khanza keluar dari kamar dan langsung ke meja makan. Nisa langsung mengambilkan nasi untuk suami dan anaknya. Hari ini Nisa membuatkan sop iga, tempe, tahu goreng, dan sambel.


Azan sholat ashar sudah berbunyi yang di ponsel, setelah makan Abi memutuskan untuk sholat ashar. Nisa dan Khanza pun melakukan yang sama. Setelah itu mereka pun mandi secara bergantian.


"Bun, aku ada PR buat prakarya," ucap Khanza di sela-sela kebersamaan mereka.


"PR apa? Coba sini ayah lihat," ujar Abi.


Khanza langsung memberitahu PR nya kepada Abi. Abi langsung membantu Khanza mengerjakan tugasnya. Dia terlihat kompak saat mengerjakan tugas Khanza.


Tak butuh waktu lama, tugas Khanza sudah selesai di buat. Abi terlihat senang, melihat Khanza begitu senang melihat apa yang sang papa buat.