
"Ayo kita berangkat sekarang! Rey sudah memesan taksi online. Bi, tolong bantu saya memasukkan barang-barang ke dalam mobil ya! Saya harus menggendong mama saya ke mobil," ucap Reynaldi kepada sang ART.
Rey berusaha untuk tegar di hadapan sang mama. Meskipun hatinya begitu sakit. Dia tak menyangka, kalau rumah tangganya akan seperti ini. Baru kemarin dia merasakan indahnya berumah tangga kembali, memiliki pendamping hidup. Kini dia harus membuka lembaran baru lagi. Menjadi seorang duda untuk kedua kalinya.
Melani menghampiri Reynaldi dengan sombongnya. Dia tampak kesal, karena Rey berbuat nekat ingin bercerai dengannya. Dia tak menyangka, kalau Rey akan melakukan ini.
"Dasar sombong! Padahal, aku bisa memberikan kamu kebahagiaan. Semua bisa kamu dapatkan, jika menjadi suamiku," sindir Melani, tetapi Reynaldi memilih untuk diam. Dia tak mempedulikan ucapan Melani. Keputusannya untuk bercerai sudah bulat.
Reynaldi menggendong tubuh sang mama, dan membawanya ke mobil taksi online. Sang ART membantu dia memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil. Setelah meletakkan sang mama di mobil, Rey masuk kembali menemui Melani.
"Aku bukan sombong. Tetapi, aku memiliki harga diri. Jika kaku sudah tak menghargai aku sebagai seorang suami, untuk apa kita lanjutkan pernikahan ini! Semoga kamu bahagia, dengan pilihan hidup kamu! Silakan kamu cari laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya. Maaf, aku tak bisa menjadi laki-laki yang seperti kamu inginkan. Aku pamit, besok aku akan ke kantor mengurus pengunduran diri bekerja di perusahaan kamu. Memang aku butuh pekerjaan itu, tetapi aku memiliki harga diri!" ucap Reynaldi tegas.
Reynaldi langsung meninggalkan Melani begitu saja. Melani langsung mengamuk, dia langsung melempar barang-barang yang berada di dekatnya. Untuk meluapkan perasaannya saat itu.
"Brengsek! Kamu berani menantang aku," ucap Melani sombong.
Kini Reynaldi sudah dalam perjalanan menuju rumah yang dikontrakan Melani kemarin. Untuk selanjutnya, Reynaldi yang akan membayar rumah itu. Dengan uang tabungan yang dia miliki, Reynaldi membayar uang sewa itu. Dia lakukan, demi membahagiakan sang mama. Sambil menunggu mendapatkan pekerjaan, Reynaldi akan menjadi tukang ojek. Paling tidak, dia bisa memiliki penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Alhamdulillah, sudah sampai," ucap Reynaldi.
Reynaldi menyuruh sang ART turun lebih dulu, setelah pintu rumah terbuka. Barulah dia turun menggendong sang mama kembali. Reynaldi berusaha untuk kuat menjalani kehidupannya demi sang mama. Penderitaan yang dia rasakan, silih berganti.
"Sekarang, kita tinggal di sini ya! Rey sudah membayar uang sewanya. Melanjutkan dari yang Melani bayar. Semoga mama merasa nyaman tinggal di sini! Maaf, hanya ini yang bisa Rey lakukan untuk mama! Rey terpaksa bercerai dengan Melani. Melani sudah menghina Rey sebagai suami. Reynaldi lebih memilih kehilangan semuanya, daripada harus menjalani pernikahan yang tak sehat," ungkap Reynaldi kepada sang mama.
"Maafkan mama ya, Rey! Gara-gara mama, kamu menjadi menderita seperti ini. Andai saja Mama tak menyesatkan kamu, pasti kamu masih hidup bahagia dengan Nisa. Padahal, Nisa adalah wanita yang baik. Seharusnya, mama bahagia melihat kamu hidup bahagia dengan Nisa. Bukan justru menghadirkan Viona di hidup kamu," ungkap Mama Ratih. Dia sudah tak bisa menahan perasaannya lagi. Dia begitu menyesal. Air matanya terus menetes satu persatu, membasahi wajahnya.
"Rey bersyukur, karena Rey masih bisa melihat wajah mama. Semoga Allah selalu memberikan Rey kesehatan dan umur panjang untuk tetap bersama mama. Semoga juga, Rey diberikan rezeki yang melimpah untuk membahagiakan mama," ucap Rey sambil menggenggam tangan sang mama. Dia begitu menyayangi sang mama. Mama Ratih pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Rey menghapus air mata di wajah sang mama.
"Ya sudah, Rey mau merapikan barang-barang dulu ya. Mama mau makan apa? Biar si Bibi belikan makanan," ucap Reynaldi. Meskipun uang dia terbatas, dia selalu ingin menyenangkan hati sang mama.
"Makan apa ya? Sebenarnya, sudah tak ada rasa semua makanan yang mama makan. Tapi, enak juga kali ya makan ayam bakar padang," ucap Mama Ratih.
"Ya sudah, nanti Rey belikan ya! Mama istirahat dulu saja ya! Rey beli makanan sama merapikan barang-barang ya!" ucap Reynaldi.
Semua pakaian dia sudah selesai di rapikan ke dalam lemari pakaian. Setelah tugas dia selesai, Rey langsung ke luar rumah untuk membeli makanan sesuai keinginan sang mama. Dia juga mampir belanja, untuk kebutuhan di rumah. Rey adalah sosok yang bertanggung jawab.
Setelah selesai, dia langsung kembali ke rumah. Dia langsung menyuruh sang ART menyiapkan makanan untuk sang mama. Setelah berganti pakaian, Rey langsung menyuapi sang mama. Jika dia sempat saat di rumah, dia berusaha untuk memperhatikan sang mama.
"Gitu dong, makannya yang banyak! Biar mama selalu sehat! Rey senang melihatnya," puji Reynaldi. Dia begitu sabar mengurus sang mama.
Reynaldi tampak duduk termenung, di teras rumahnya. Sambil menikmati secangkir kopi dan juga rokok. Dia tampak memikirkan kehidupan dia selanjutnya, yang nantinya begitu sulit dengannya. Namun, meskipun demikian. Rey tak pernah merasa patah semangat. Dia akan tetap berjuang demi kebahagiaan sang mama. Kejadian kemarin dengan Melani, mengajarkan dia banyak hal. Dia memutuskan untuk tidak menikah lagi. Dia ingin fokus dengan kehidupannya sendiri.
Malam semakin larut, udara di luar pun semakin dingin. Reynaldi memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, untuk beristirahat. Besok, dia akan mengurus semuanya. Dia juga akan ke pengadilan agama, mengurus perceraiannya dengan Melani. Agar segera selesai.
Reynaldi tidur di kamar bersama sang mama, karena rumah itu hanya memiliki dua buah kamar. Kamar yang satunya, untuk kamar sang ART. Reynaldi, naik ke ranjang secara perlahan. Agar tak mengganggu sang mama yang saat itu sedang tidur. Reynaldi membaringkan tubuhnya di ranjang. Perlahan, dia pun memejamkan matanya. Kini dia sudah tertidur nyenyak.
Berbeda halnya dengan Reynaldi, Nisa justru sedang menikmati indahnya berumah tangga dengan orang yang dia cintai, dan mencintainya. Rumah tangganya selalu harmonis, tak pernah ada pertengkaran sedikit pun. Mereka selalu bahagia. Khanza pun tak pernah kekurangan kasih sayang dari Ayah Abi. Meskipun Abi bukanlah ayah kandungnya. Hubungan Rey dengan Khanza pun sudah membaik.