Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Memberi kesempatan kepada Rey


"Apa hari ini kamu senang, pergi sama Ayah?" Tanya Rey kepada sang anak.


"Tentu saja, Yah. Aku sangat senang. Akhirnya, aku bisa merasakan kasih sayang Ayah lagi seperti dulu. Meskipun, status ayah sudah berbeda dengan bunda," jawab Khanza, dan Reynaldi menganggukkan kepalanya. Dia berusaha menerima apa yang terjadi dalam hidupnya, karena dia tak ingin Abi, Khanza, dan Nisa akhirnya marah lagi dengannya.


Reynaldi mengajak sang anak untuk sholat. Bukan hanya menyadari kesalahannya kepada anak dan mantan istrinya saja, Reynaldi juga berusaha untuk kembali ke jalan yang lurus lagi. Mencari ridho ilahi, dengan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu melaksanakan sholat 5 waktu.


Kini mereka sudah berada di musholah yang berada di Mall tersebut. Sebenarnya dia berat harus meninggalkan sang anak, karena mereka harus terpisah. Tapi, Khanza meyakinkan dirinya. Kalau dirinya akan baik-baik saja. Khanza pun sudah terbiasa mandiri dan berani.


Mereka harus terpisah sementara untuk sholat. Setelah selesai sholat, mereka bertemu kembali. Rey terlihat tersenyum melihat wajah cantik sang anak. Dia akan berusaha keras, untuk bisa menyewa rumah yang lebih layak. Agar dia bisa mengajak sang anak menginap di rumahnya.


"Kita mau kemana sekarang? Apa kakak mau beli buku cerita atau perlengkapan sekolah?" Tanya Rey kepada sang anak. Masih Rey ingat, kalau sang anak suka membaca buku cerita sejak dulu.


"Nanti saja, kalau ayah sudah gajian. Lebih baik sekarang uangnya ayah tabung untuk kebutuhan ayah dan nenek," sahut Khanza.


Rey langsung memeluk sang anak dengan erat.


"Doakan ayah ya Kak! Semoga ayah bisa menjadi ayah yang berguna untuk kamu. Ayah juga bisa menyekolahkan kamu, hingga ke jenjang bangku kuliah. Ayah juga menyenangkan hati kamu, membelikan sesuatu yang kamu inginkan. Semua ini adalah tanggung jawab ayah sebagai ayah kandung kamu. Meskipun Papa Abi baik kepadamu, tapi semua itu tak menjadi kewajiban untuknya menyekolahkan kamu. Sebenarnya, Bunda pun tak sepenuhnya memiliki kewajiban untuk menyekolahkan kamu. Tapi, kalau sekarang ayah belum mampu. Terlebih, bunda sama papa kamu memasukkan kamu ke sekolah bertaraf Internasional. Ayah bersyukur, Papa Abi menerima kamu, dan menyayangi kamu seperti anak kandungnya sendiri," ujar Rey.


"Iya. Semoga rezeki ayah melimpah. Bisa hidup enak lagi seperti dulu, dan semoga ayah bisa menemukan pengganti bunda. Biar Ayah enggak kesepian. Ada yang menemani hari-hari ayah," ucap Khanza.


"Kan sekarang ayah sudah punya kamu lagi. Ayah juga punya nenek. Jadi, ayah enggak merasa kesepian. Yang penting sekarang, Ayah harus cari uang sebanyak mungkin untuk kebahagiaan kamu dan nenek," jelas Rey dan Rey mengiyakan.


Setelah berbincang-bincang cukup lama. Rey mengajak sang anak makan. Rey mengajak sang anak ke restoran So*laria. Karena dia sudah merasa lapar lagi, padahal tadi sudah makan pizza.


"Kamu mau pesan makanan apa? Ayah mau pesan nasi goreng seafood sama es teh manis," ujar Rey.


"Emm, apa ya?" Khanza mencoba berpikir, makanan apa yang dia inginkan. Hingga akhirnya, Khanza menjatuhkan pilihannya pada nasi goreng spesial dan es teh manis. Mereka kini sedang menunggu pesanan datang.


Di tempat lain, Nisa justru sedang gelisah menunggu sang anak. Pasalnya, sang anak belum kembali. Padahal saat itu sudah lewat dari jam 15.00 WIB. Awalnya, dia hendak menghubungi Rey. Namun, Abi melarangnya. Dia menyuruh Nisa untuk memberikan kesempatan kepada Rey untuk dekat dengan Khanza.


"Kamu enggak usah khawatir! Rey tak mungkin merebut Khanza dari kamu! Dia pasti menyadarinya. Kalau sampai hal itu terjadi, kamu tenang saja. Aku tak akan tinggal diam. Aku akan menolong kamu untuk mempertahankan Khanza. Kasih kesempatan kepada Rey untuk dekat dengan anaknya, biar Khanza senang bisa dekat ayahnya," ujar Abi. Akhirnya Nisa mengerti.


Setelah selesai sholat ashar, Rey dan Khanza memutuskan untuk pulang. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju pulang. Khanza terlihat begitu bahagia.


"Ternyata mengikhlaskan itu begitu sulit. Tapi, aku harus bisa. Aku tak ingin merusak hubungan aku dengan Khanza. Abi pun sudah sangat baik padaku. Aku tak ingin mengecewakannya," ucap Reynaldi dalam hati.


Rey pun langsung pamit, karena dia tak ingin berlama-lama di sana. Yang nantinya akan menambah rasa sakit yang dia rasakan. Rey melajukan kembali motornya menuju rumah. Namun, sebelumnya Rey berniat ingin membelikan makanan dulu untuk sang mama tercinta.


Mulai bulan depan, dia akan mulai menyisihkan dari gajinya untuk mengobati sang mama. Meskipun memakai BPJS, tetap saja membutuhkan uang untuk transport ke rumah sakit setiap kali berobat.


Rey menepikan motornya terlebih dahulu, dan berniat menghubungi sang ART untuk menanyakan makanan yang diinginkan sang mama.


"Assalamualaikum, Bi. Mama lagi apa? Coba saya ingin bicara sama dia," ucap Reynaldi kepada sang ART di panggilan telepon.


Sang ART langsung menghampiri mama Ratih dan menanyakan makanan yang dia inginkan. Dia langsung memberikan ponselnya kepada mama Ratih. Pilihan Mama Ratih jatuh pada mie ayam Bangka. Karena sudah sangat lama dia tak makan itu.


"Ya sudah, nanti Rey belikan ya! Rey nanti mampir, kalau di jalan ada ya," ucap Rey lembut.


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sang mama. Rey langsung melajukan kembali motornya. Sepanjang perjalanan dia sambil melihat-lihat penjual mie ayam Bangka. Hingga akhirnya dia menemukannya.


Rey langsung memarkirkan motornya di depan penjual mie ayam Bangka. Dia memesan dua porsi mie ayam Bangka lengkap dengan baso dan pangsit basah untuk sang mama dan juga sang ART yang selalu setia kepadanya.


Setelah membelinya. Rey memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dia ingin sang mama segera memakannya. Rey baru saja sampai di kontrakan. Dia langsung memarkirkan motornya. Kemudian langsung mengucap salam dan masuk ke dalam.


"Bi, tolong siapkan makanan untuk mama ya! Biar nanti saya yang suapi mama," ujar Rey.


Sambil sang ART menyiapkan, Rey memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi, barulah dia menyuapi sang mama mie ayam. Dia begitu telaten mengurus sang mama.


Melihat sang mama masih bisa makan dan bernapas saja, dia sudah merasa senang. Dia tak pernah sedikitpun merasa kesal harus mengurus sang mama. Rasa cintanya Rey kepada sang mama begitu besar. Dia begitu sabar mengurus sang mama.


"Sudah? Enak enggak?" Tanya Rey lembut.


"Sudah, Rey! Mama sudah kenyang. Sebenarnya, enggak ada rasa. Tapi mama paksain," sahut Mama Ratih di iringi isak tangis. Dia merasa sedih, karena nikmatnya satu persatu di ambil oleh Allah. Dia menjadi teringat. Betapa sombongnya dia dulu kepada Nisa dan juga yang lainnya. Bahkan kini, saat dirinya sakit. Tak ada satupun keluarganya yang peduli padanya.