
Viona jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Sang ART mencoba menghubungi Reynaldi, tetapi saat itu masih jam kerja. Karena saat ini jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Saat bekerja, Reynaldi menyimpan ponselnya di lokernya. Tak memainkan ponselnya.
"Duh, gimana ini ya?" sang ART tampak bingung.
Hingga akhirnya dia berteriak minta tolong, agar tetangga membantu membawa Viona ke rumah sakit.
"Bi, ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kamu berteriak minta tolong?" Tanya Mama Ratih, berteriak dari kamarnya.
"Itu bu, Ibu Viona pingsan," ujar sang ART yang terlihat panik.
"Bikin susah saja. Dasar penyakitan, kasihan Reynaldi," umpat Mama Ratih.
Untungnya sang ART berhasil mendapatkan orang yang berniat membantu Viona.
"Bu, saya bawa Ibu Viona dulu ya ke rumah sakit. Sekarang saya mau cari berkasnya dulu," pamit sang ART.
"Kau gila, meninggalkan aku sendiri? Sudah suruh saja orang-orang itu. Kalau tidak, kau cari nomor kontak ibunya di ponselnya, dan bilang padanya untuk segera ke rumah sakit tempat Viona di bawa," ujar Mama Ratih ketus.
"Tapi Bu, saya enggak berani buka ponselnya. Pasti sama ibu juga di password ponselnya. Saya antar dulu ke rumah sakit, sekalian saya cari Pak Reynaldi. Setelah itu, secepatnya saya akan kembali ke rumah. Biar Pak Reynaldi saja yang menghubungi ibunya," jelas sang ART.
"Jangan, kasihan Reynaldi! Dia jadi terganggu kerjanya. Coba kamu ambil ponselku, dan cepat kau cari nomor telepon ibunya Viona. Segera hubungi ke nomor itu! Katakan padanya kalau anaknya jatuh pingsan, dan minta dia untuk segera datang ke rumah sakit!" Perintah Mama Ratih. Sang ART hanya bisa menghela napas panjang, begitu teganya dengan menantunya.
Mama Ratih masih saja bersikap sombong, bersikap semena-mena. Padahal kalau sang ART berhenti, siapa yang nanti akan mengurus dia dikala Reynaldi bekerja. Pastinya Viona lagi yang terpaksa mengurusnya.
Akhirnya sang ART mengikuti perintah Mama Ratih, untuk menghubungi orang tua Viona.
"Assalamualaikum. Maaf, apa benar ini nomor telepon ibunya Ibu Viona?" Sang ART mengawali pembicaraan di sambungan telepon.
"Waalaikumsalam. Iya benar, ini mamanya Viona. Ada apa ya?" sahut ibunya Viona.
Sang ART langsung menceritakan kalau Viona jatuh pingsan dan sekarang tak sadarkan diri. Alangkah terkejutnya sang mama mendengar penuturan sang ART.
"Memangnya dia ada dimana sekarang?" Tanya ibunya Viona. Dia merasa khawatir dengan keadaan sang anak.
"Di rumah bu, tapi saya tak bisa mengantarkan ke rumah sakit. Karena Ibu Ratih tak mengizinkan saya untuk membawanya. Apa Ibu bisa ke sini untuk menjemputnya?" jelas sang ART.
"Keterlaluan! Jika terjadi sesuatu gimana dengan Viona? Saya minta tolong sama bibi, tolong bawa anak saya ke rumah sakit, enggak usah dengarkan dia! Karena anak saya bisa bahaya, jika didiamkan. Saya juga akan segera berangkat dari rumah, menuju rumah sakit," ucap Ibunya Viona.
Akhirnya, sang ART membawa Viona ke rumah sakit bersama tetangga yang mau memiliki mobil, dan mau menolong. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sang ART tampak ketakutan, kala melihat Viona mengalami sesak napas.
"Pak, bisa lebih cepat enggak? Majikan saya sesak napas," ungkap sang ART.
Mereka baru saja sampai di rumah sakit. Sang ART langsung turun dan meminta tenaga bantuan untuk menggendong Viona.
Viona langsung dilarikan ke IGD. Kondisinya saat itu terlihat lemah, tak berdaya. Viona langsung mendapatkan pertolongan.
"Duh, ibunya kemana ya? Aku khawatir nyawa Ibu Viona tak bisa tertolong," sang ART bermonolog.
"Mba yang tadi telepon saya ya?" Tanya ibunya Viona yang datang menghampiri sang ART.
"Iya, Ibu. Ibu orang tua dari Ibu Viona ya?" sahut sang ART.
"Iya, Mba. Ibu Viona mana?" Tanya ibunya Viona.
Sang ART langsung mengajak ibunya Viona untuk masuk ke dalam, untuk melihat kondisi Viona saat ini.
Sang ibu merasa sedih melihat kondisi sang anak yang saat ini memakai selang oksigen, dokter juga sempat menggunakan alat pacu jantung. Karena kondisi jantung Viona yang sempat melemah.
"Pasien kritis! Kita harus segera pindahkan ke ruang ICU," ujar sang dokter.
"Apa dok? Anak saya kritis?" Tanya sang ibu untuk memastikan, dan sang dokter mengiyakan.
Sang perawat langsung mengurus kepindahan Viona ke ICU, kondisinya darurat.
"Na, ayo semangat Na! Jangan tinggalkan mama!" sang mama tampak menangis, memegangi tangan sang anak yang terasa dingin. Air matanya menetes satu persatu. Bahkan sang ART Viona pun ikut merasa sedih melihat majikannya.
Sampai-sampai sang ART lupa akan tujuan awalnya, untuk segera pulang ke rumah.
"Bu, Pak Reynaldi harus dikasih tahu. Dia 'kan kerja di rumah sakit ini. Harus cari dia," ujar sang ART.
"Ya sudah, saya coba cari Pak Reynaldi dulu ya. Saya titip anak saya dulu ya," ujar Ibunya Viona, dan sang ART menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya dia berat meninggalkan sang anak. Tapi, dalam hal ini Reynaldi harus tahu. Sang mama langsung menghapus air mata di pipinya, dan langsung mencari keberadaan menantunya itu.
Berbeda halnya dengan mamanya Viona yang tampak tegang, karena sang anak mengalami kritis. Mama Ratih justru sedang marah-marah, karena sang ART sampai sekarang belum pulang juga.
"Bukannya cepat pulang, ini malah sibuk ngurusin wanita penyakitan itu. Bikin pusing saja. Kasihan Reynaldi nikah sama dia, sial. Nyesel aku. Kalau tahu begini, aku tak akan menyuruhnya menikah dengan Reynaldi. Dipikir-pikir, mending Reynaldi dulu sama Nisa saja," gerutu Mama Ratih.
Akhirnya, mamanya Viona berhasil menemukan Reynaldi. Dia mencari keliling keberadaan Reynaldi di rumah sakit.
"Reynaldi," panggil sang ibu mertua.
Mendengar ada yang memanggil, Reynaldi pun akhirnya menengok untuk mencari sumber suara. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat sang ibu mertua berada di hadapannya.
"Mama?" sahut Reynaldi.
Tanpa basa-basi, sang ibu mertua langsung mengatakan kalau saat ini Viona kritis. Dia berada di ruang ICU. Dia mengatakan kalau Viona jatuh pingsan, saat di rumah, dan saat ini kondisinya kritis.
"Mama memangnya tahu dari mana, kalau Viona pingsan?" Tanya Reynaldi.
"Dari ART kamu, tadi dia telepon mama dari nomor telepon ibu kamu. Dengan teganya, mama kamu melarang ART kamu membawa Viona ke rumah sakit. Padahal, kondisi Viona kritis. Nyawanya bisa saja tak tertolong. Tadi saja, Viona mengalami sesak napas, dan menggunakan alat pacu jantung karena kondisi jantungnya yang melemah. Mama tadi paksa saja ART kamu, hingga akhirnya dia meninggalkan ibu kamu di rumah sendiri.