Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pertemuan Melani dengan Mama Ratih


Sebenarnya, Melani merasa tak nyaman berada di kondisi saat ini. Dia tampak kegerahan, karena kontrakan Rey tampak sempit, panas tak ada AC, dan juga lingkungannya kotor. Tapi, dia mencoba menahannya. Dia sudah memilih Rey, itu berarti dia harus menerima keadaan Reynaldi apa adanya.


Mama Ratih merasa sikap Melani tak baikk kepadanya. Seakan dirinya merasa jijik kepada Mama Ratih. Dia jadi curiga, kalau rasa cinta Melani kepada anaknya tak tulus. Tapi, Mama Ratih memilih memendamnya dalam hati.


"Rencananya, kami akan menikah minggu depan. Nanti, Ibu tinggal di rumah saya saja ya! Jangan tinggal di sini lagi!" Ucap Melani kepada Mama Ratih dan Mama Ratih hanya mengiyakan. Mama Ratih berharap, kalau semua ini hanya perasaan takut yang tak tak beralasan.


Setelah berbincang selama kurang lebih satu jam. Akhirnya, Melani pamit untuk pulang. Dia langsung mencium tangan calon ibu mertuanya. Rey mengantarkan Melani sampai depan gang. Sampai Melani ke mobilnya lagi.


"Makasih ya Bu, sudah menyempatkan waktunya untuk bertemu mama saya!" Ucap Reynaldi.


"Iya, sama-sama. Nantikan, mama kamu akan menjadi mertua aku. Wajar, jika aku seperti sekarang ini," sahut Melani dan Rey mengiyakan.


Melani sudah pergi meninggalkan Rey, dan Rey langsung kembali ke kontrakannya. Dia langsung menghampiri sang mama. Rey duduk di tepi sang mama tidur. "Gimana Ma, kesan pertama kali bertemu Melani?" Tanya Reynaldi.


Mama Ratih memilih menutupi perasaan yang dia rasakan. Baginya, kebahagiaan sang anak yang terpenting. Mama Ratih memilih berbohong, dengan mengatakan kalau Melani wanita yang baik.


"Jadi, mama setuju aku menikah dengannya?" Tanya Reynaldi kepada sang mama. Mama Ratih mengiyakan. Mama Ratih setuju dengan rencana pernikahan sang anak.


"Doakan Rey ya, Ma! Semoga ini akan menjadi pernikahan terakhir di hidup aku," ucap Rey kepada sang mama. Sama halnya dengan sang anak, mama Ratih pun berharap pernikahan anaknya akan berjalan lancar, dan semua ini hanya perasaannya saja.


Rencananya, Rey akan menikah dengan Melani minggu depan. Melani yang akan menyuruh orang untuk mengurus pernikahan mereka. Rey senang, karena Melani mau menemui sang mama, dan menerima kondisi dirinya.


Bukan itu saja, Melani juga yang akan membiayai semua biaya pernikahan mereka. Rey hanya di suruh duduk manis. Pernikahan mereka pun hanya akad nikah saja, tak ada pesta di pernikahan mereka. Ini sesuai permintaan Melani, padahal kedua orang tua Melani ingin di adakan pesta. Mengingat, Melani adalah anak satu-satunya mereka.


"Assalamualaikum.Ya, Bu," ucap Rey mengawali pembicaraan.


"Waalaikumsalam. Rey, kamu kenapa si masih memanggil aku Ibu. Aku ini calon istri kamu. Apa tak ada panggilan sayang untukku?" Protes Melani.


Reynaldi masih merasa sungkan dengan panggilan yang akan dia berikan kepada Melani. Memanggil Melani dengan panggilan sayang. Melani bosnya tempat dia bekerja.


"Hei, kenapa kamu jadi diam? Mengapa kamu seperti itu?" Tanya Melani.


"Apa tak masalah, jika saya memanggil Ibu dengan panggilan sayang?" Tanya Rey balik. Dia ingin memastikannya.


Melani mengatakan kepada Rey, kalau pernikahan mereka sudah diurus, dan mereka akan menikah minggu depan. Besok, Melani akan mengajak Rey ke toko perhiasan untuk membeli perhiasan untuk mas kawin mereka. Dia juga akan mengajak Rey untuk memesan jas dan juga kebaya untuk pernikahan mereka.


"Ya sayang, aku ikut saja! Kamu atur saja!" Sahut Rey. Melani merasa senang, saat mendengar Rey memanggil dia dengan panggilan sayang.


"Ya sudah, sampai ketemu besok di kantor ya sayang! Assalamualaikum," ucap Melani mengakhiri pembicaraan telepon mereka.


"Waalaikumsalam," sahut Rey. Namun sayangnya, Melani sudah menutup panggilan telepon itu.


Rey tampak duduk di kursi yang berada di teras rumah, sambil menikmati secangkir kopi dan juga rokok. Pikirannya melayang tanpa arah. Sebentar lagi, dia akan mengakhiri masa dudanya. Dia akan menikah kembali.


Malam semakin larut, Rey memutuskan untuk masuk, dan terus tidur. Besok pagi, dia harus berangkat ke kantor, dan mempersiapkan pernikahannya dengan Melani. Rey membaringkan tubuhnya di sebuah kasur lipat. Dia tidur satu ruangan dengan sang mama. Sedangkan sang ART tidur di ruangan paling depan. Rey terlihat sudah memejamkan matanya, tak butuh waktu lama dia sudah tidur nyenyak.


Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi WIB. Rey terlihat sudah rapi, dan siap untuk segera berangkat ke perusahaan. "Ma, Rey berangkat dulu ya!" Rey pamit kepada sang mama. Dia langsung mencium tangan sang mama, dan pergi melajukan motornya menuju kantor.


Ternyata, dia datang lebih cepat. Rey memilih untuk sarapan dulu. Dia langsung memarkirkan motornya, kemudian memesan nasi uduk yang letakkan tak jauh dari perusahaan tempat dia bekerja. Setelah sarapan, barulah dia melajukan kembali motornya menuju perusahaan. Kini dia sudah sampai di perusahaan, Rey langsung memarkirkan motornya. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam perusahaan. Melani belum sampai di perusahaan.


Rey langsung masuk ke ruangannya, dan mulai bekerja. Meskipun sebentar lagi dia akan menjadi suami dari pemilik perusahaan, tak menjadikan alasan untuk dia malas bekerja. Rey tetap fokus dengan pekerjaannya.


Melani baru saja sampai di perusahaan, dia langsung masuk ke dalam perusahaan, dan langsung di sambut para pekerjanya. Mereka tampak menyapa Melani dan menundukkan kepalanya. Melani langsung masuk ke ruangannya. Dia langsung menghubungi Rey, dan meminta Rey untuk ke ruangannya.


"Masuk!" Perintah Melani. Saat Rey mengetuk pintu ruangan Melani. Rey langsung masuk ke dalam ruangan Melani. Melani menyuruh Rey untuk duduk. Awalnya, Rey merasa canggung. Namun, Melani memaksa untuk dia duduk. Hingga akhirnya Rey mengikuti permintaan Melani.


Sekarang, Melani sudah duduk di hadapan Rey. Melani mengatakan, kalau hari ini mereka harus pergi berdua untuk mengurus persiapan semuanya. Rey mengikuti saja. Mereka akan pergi dengan mobil Melani. Seperti biasa, Melani meminta Rey yang akan menyetir mobil.


"Gimana kalau kita berangkat sekarang saja? Biar cepat selesai? Motor kamu biar di sini saja dulu, nanti kita pulang ke sini lagi," ucap Melani.


"Tapi, pekerjaan saya belum selesai," ujar Rey.


"Sudah, tinggalkan saja dulu! Kita berangkat sekarang saja! Nanti aku yang akan bicara dengan bagian HRD, kalau kamu sekarang adalah calon suami aku, dan saat ini kita sedang mempersiapkan pernikahan kita," sahut Melani dan lagi-lagi Rey hanya mengiyakan.