
"Ma, Rey pergi dulu ya! Mau coba melamar pekerjaan. Doakan Rey ya, Ma! Semoga Rey bisa cepat dapat pekerjaan," ucap Rey kepada sang mama, sambil mencium tangan sang mama. Dia juga mengecup kedua pipi sang mama. Rey sangat menyayangi sang mama. Hanya sang mama dan Khanza, yang dia miliki di dunia ini.
Meskipun dulu, sang mama 'lah yang membuat dirinya hancur. Rey tak pernah membenci sang mama. Dia hanya sempat kecewa kepada sang mama. Rey selalu meminta doa kepada sang mama. Bagi dia, doa sang mama akan di dengar oleh Allah.
"Iya, Rey! Mama doakan, semoga lancar semuanya! Kamu bisa segera mendapatkan pekerjaan!" ucap sang mama dan diaminkan oleh Reynaldi.
Rey, tak pernah merasa putus asa. Dia justru terus bersemangat demi bisa membahagiakan sang mama. Rey melajukan motornya mencari pekerjaan. Satu demi satu, dia datangi. Dia tak akan memilih pekerjaan. Yang terpenting baginya sekarang, dia bisa bertahan hidup bersama sang mama. Dia juga bisa membayar sang ART yang sudah mengabdi kepadanya.
Saat itu jam menunjukkan pukul 12.00 siang, Rey memilih untuk beristirahat dulu. Dia merasa sangat lelah. Namun, sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Rasanya, hidup begitu sulit. Begitu berat dia melewatinya.
"Ya Allah, aku mohon! Tolong berikan aku pekerjaan! Aku membutuhkan pekerjaan!" Reynaldi terus berdoa.
Rey juga mencari pekerjaan lewat aplikasi online. Segala cara dia lakukan, untuk bisa segera mendapatkan pekerjaan. Namun, dia masih terus di suruh untuk bersabar.
Tiba-tiba saja Rey teringat sang anak. Dia merindukan Khanza sang anak. Hingga akhirnya, dia berniat menghubungi sang anak. Namun, Nisa yang akhirnya menerima panggilan telepon dari mantan suaminya itu. Khanza sedang sekolah, dan tidak membawa ponselnya. Nisa menerima panggilan telepon dari sang suami, karena khawatir ada yang penting.
"Assalamualaikum," ucap Nisa, saat menerima panggilan telepon dari sang mantan suami. Rey terkejut, karena ternyata sang mantan istri yang menerima panggilan telepon darinya. Bukanlah sang anak. Dia lupa, kalau Khanza di sekolah swasta yang jadwal pulangnya setelah sholat ashar.
"Waalaikumsalam. Kamu Nis, yang angkat telepon Mas? Memangnya, Khanza ke mana ya?" Tanya Reynaldi.
Ada perasaan canggung yang di rasa Rey, saat mendengar suara sang mantan istri. Untungnya, mereka hanya berbicara lewat panggilan telepon. Sehingga Nisa tak melihat ekspresi wajah mantan suaminya saat ini.
"Khanza masih sekolah. Dia pulangnya habis ashar dari sekolah. Ada pesan enggak, untuk Khanza?" Tanya Nisa.
Meskipun mereka sudah bercerai, Nisa akhirnya sepakat tetap menjaga hubungan silahturahmi dengan mantan suaminya itu demi Khanza buah hati mereka. Bagi Nisa, Rey tetap ayah kandung Khanza. Namun, dia tetap menjaga jarak kepada mantan suaminya. Dia tak ingin mengecewakan suaminya. Rasa cintanya kepada Rey pun sudah hilang, dan tak pernah terpikir untuk kembali kepada mantan suaminya itu.
"Oh, gitu? Aku lupa, kalau Khanza sekolah di SDIT. Jadi, pulangnya sore. Enggak ada yang penting kok, Nis. Hanya kangen saja sama Khanza. Nanti tolong sampaikan ya sama Khanza, kalau aku tadi telepon. Sabtu ini, apa aku boleh mengajak Khanza pergi jalan-jalan?" Ujar Reynaldi kepada Nisa.
"Iya, nanti aku sampaikan ya, kalau Khanza sudah pulang. Untuk hari Sabtu, nanti aku tanya Khanza dulu. Sabtu ada kegiatan enggak dia di sekolah. Kalau aku, enggak masalah kok. Aku enggak melarang kamu mengajak Khanza pergi sama kamu," ucap Nisa dan Rey mengucapkan terima kasih.
Rey mengakhiri panggilan telepon dengan sang mantan istri, karena dia ingin sholat zuhur. Dia belum sholat. Rey langsung mencari keberadaan mesjid. Kemudian memarkirkan motornya. Setelah itu, dia langsung berwudhu, dan sholat. Setelah sholat, barulah dia memutuskan untuk pulang. Kembali ke rumah.
Rey melajukan kembali motornya, menuju rumah. Dia ingin segera sampai di rumah. Sebelum pulang, dia mampir dulu untuk membelikan makanan untuk sang mama. Rey selalu teringat kepada sang mama. Rey berhenti dulu di sebuah toko roti. Meskipun keuangan dia terbatas, dia selalu menyenangkan hati sang mama. Dia yakin, jika kita berbuat baik kepada orang tua. Akan datang rezeki, tak terduga.
Setelah membelikan beberapa roti kesukaan sang mama, Rey melajukan motornya kembali menuju rumahnya. Kini Rey sudah dalam perjalanan pulang. Rey baru saja sampai rumah. Dia langsung memarkirkan motornya, dan membuka pintu pagar rumah secara perlahan.
Mendengar pagar di buka, sang ART langsung bergegas ke luar rumah. Rey sedang memarkirkan motornya di dalam.
"Bi, gimana keadaan Mama hari ini? Ada keluhan enggak? Makannya gimana, mau?" Tanya Reynaldi kepada sang ART. Dia selalu memperhatikan kondisi sang Mama, meskipun dia sibuk seperti apapun.
Rey memilih untuk hidup sendiri. Kalau pun dia ingin menikah lagi, dia ingin memiliki istri yang mau mengurus sang Mama. Yang bisa menyayangi sang Mama.
Setelah mendapatkan informasi dari sang ART, Rey langsung masuk ke kamar sang Mama berada. Rey tidur satu kamar dengan sang Mama. Mama Ratih tampak senang, melihat sang anak sudah sampai rumah.
"Mama sudah makan siang? Rey belikan Mama roti keju kesukaan Mama. Mau di makan sekarang rotinya?" Tanya Rey sambil dia mengganti pakaian, dengan pakaian rumah. Mama Ratih begitu terharu, karena sang anak tak pernah merasa jenuh mengurusnya. Rey memang anak yang bertanggung jawab.
"Nanti saja, Rey! Mama belum mau. Makasih ya Rey, kamu selalu peduli sama Mama. Maafkan Mama, yang selalu menyusahkan kamu. Semoga ada wanita yang tulus mencintai kamu apa adanya. Kamu patut bahagia, sudah cukup kamu menderita!" ucap Mama Ratih. Wajahnya terlihat sedih.
Rey duduk di tepi ranjang, dan terlihat tersenyum. Dia kini menghadap ke arah sang Mama. Menatap wajah wanita yang selalu ada di hatinya.
"Semua ini, sudah menjadi tugas Rey sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Rey belum terpikir, untuk menikah kembali Ma! Rey takut, kecewa lagi. Di otak Rey saat ini, hanya ingin membahagiakan Mama dan juga Khanza. Rey ingin menjadi anak dan ayah yang bertanggung jawab, untuk kalian. Kalian adalah penyemangat untuk Rey, yang membuat Rey tetap semangat menjalani hidup. Rey khawatir, tak ada wanita yang mau menerima Rey apa adanya. Daripada Rey kecewa untuk kedua kalinya, Rey memilih untuk hidup sendiri," jelas Rey kepada sang Mama.
"Kamu laki-laki dewasa Rey! Mama yakin, kamu butuh pasangan hidup untuk tempat menyalurkan hasrat kelelakian kamu," ucap sang mama.
"Ma, tujuan Rey menikah sekarang berbeda. Jika nanti Rey menikah kembali, Rey melakukan bukan semata-mata karena sebuah nap*su. Bukan hanya tempat untuk menyalurkan hasrat kelelakian Rey. Rey menikah, karena ingin memiliki pendamping hidup. Tapi sekarang, Rey memilih untuk sendiri. Jika Rey mau, Rey bisa kok melakukan sendiri dengan tangan. Namun sampai sekarang, Rey sama sekali tak berselera untuk hal itu," sahut Rey.