Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Malam Pertama Abi dan Nisa


"Yang, boleh enggak malam ini aku meminta hak ku kepada kamu?" tanya Abi lembut. Membuat wajah Nisa memerah. Wajah Nisa juga terlihat tegang seketika.


Setelah mereka menikah, mereka belum pernah melakukan malam pertama layaknya seorang pengantin baru. Selama ini Abi berusaha untuk mengerti, kalau Nisa butuh waktu untuk melakukan hal ini.


Semenjak Bunda Anita ikut bersamanya dan sang Bunda resmi menikah dengan Papa Abi. Khanza sudah tidur terpisah dengan sang Bunda. Tetapi selama ini, Nisa meminta waktu kepada sang suami untuk menunda untuk melakukan hubungan suami istri.


Nisa tampak terdiam. Mencoba berpikir. Apa sudah saatnya dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tak mungkin dia terus menerus menolak permintaan suaminya.


"Iya Mas, boleh. Kali ini aku akan mengabulkan permintaan Mas," jawab Nisa.


Tentu saja hal ini membuat Abi merasa senang, karena akhirnya dia bisa memiliki sang istri seutuhnya.


"Kita mandi dulu ya bergantian! Setelah itu, kita sholat dua rakaat. Agar kelak anak kita menjadi anak yang sholeh atau sholeha," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Abi menyuruh Nisa untuk mandi lebih dulu. Sebenarnya, Nisa merasa malu mandi malam-malam. Tetapi, dia tak mungkin menolak suaminya lagi.


Setelah Nisa sudah selesai mandi, Nisa masuk ke kamar kembali. Berganti Abi yang mandi. Setelah itu, mereka melakukan sholat bersama, dan berdoa agar memiliki anak yang sholeh atau sholeha.


Nisa terlihat gugup, seakan dia merasa seperti baru pertama kalinya. Karena dia akan melakukan dengan suami barunya. Nisa tampak pasrah, saat Abi mulai melucuti pakaian yang Nisa kenakan. Kini dirinya sudah dalam keadaan polos. Abi pun melucuti pakaian yang dia kenakan. Hingga kini keduanya sudah sama-sama polos.


Abi langsung menggendong sang istri, dan membawanya ke ranjang. Inilah pertama kalinya mereka berciuman. Awalnya Nisa merasa canggung berciuman dengan Abi. Dia terlihat kaku. Namun perlahan, akhirnya dia terhanyut.


Terlebih tangan sang suami kini asyik mere*mas bukit kembar Nisa. Membuat Nisa mende*sah. Tentu saja Abi semakin bersemangat membuat sang istri terbang melayang. Tubuh Nisa bergeliat, merasakan sensasi yang luar biasa.


Sudah cukup lama Abi tak merasakan nikmatnya bercinta. Sudah cukup lama juga dia menduda. Sama halnya dengan Nisa.


"Sayang, aku mau dong milik aku di manjain sama kamu!" pinta Abi. Suara Abi terdengar berat, dia menginginkan Nisa mengulum miliknya.


Hingga akhirnya Nisa menuruti permintaan suaminya, Nisa mulai memasukkan milik suaminya ke dalam mulutnya, dan Nisa mulai memainkannya. Abi sudah terlihat merem melek.


Rasanya Abi sudah mau keluar. Hingga akhirnya dia memutuskan meminta sang istri untuk membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Aku mulai ya Sayang?" tanya Abi dan Nisa tampak menganggukkan kepalanya.


Abi mulai melebarkan kedua pangkal paha istrinya, dan mulai mengarahkan miliknya. Keduanya mende*sah, saat Abi berhasil membenamkan miliknya. Bertemu dengan milik Nisa.


Meskipun Abi bukan yang pertama, Abi merasakan nikmat yang luar biasa. Abi mulai memompanya secara perlahan. Dia pun sambil asyik menyusu seperti seorang bayi.


Semakin lama, Abi semakin mempercepatnya. Karena kini dirinya sudah merasa di titik *******. Abi merasakan milik Nisa yang menggigit miliknya.


"Kita keluarkan bersama!" titah Abi. Hingga akhirnya mereka mengerang bersama.


Abi berhasil menumpahkan cairan hangat di rahim Nisa. Berharap, secepatnya akan hadir buah cinta mereka di rahim Nisa.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Abi sambil memberikan kecupan di kening istrinya. Menunjukan perasaan cintanya kepada sang istri.


Keduanya tampak sedang mengatur napas dan jantungnya yang berdetak begitu cepat. Abi tampak membaringkan tubuhnya di samping sang istri, sambil menggenggam tangan istrinya.


Setelah sudah merasa normal, mereka keluar kamar secara bergantian untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Setelah membersihkannya, Nisa ke ruang makan untuk mengambil minum yang berada di dalam kulkas.


Nisa mengambil satu botol minum air putih dan juga satu buah gelas, dan membawanya ke kamar untuk sang suami.


"Diminum dulu Mas, air putihnya!" Nisa menawarkan sang suami untuk minum air putih.


Nisa tampak malu-malu, wajahnya memerah kala mengingat kegiatan panas mereka tadi.


"Semoga, segera hadir buah hati kita di rahim kamu," ucap Abi. Mereka tak akan menunda untuk memiliki anak. Nisa sudah siap untuk memberikan anak untuk Abi, dia ingin membahagiakan sang suami dan juga mertuanya. Mereka sudah menantikan sejak dulu, sayangnya Viona tak bisa memberikannya kepada Abi.