
"Bun, hari ini aku mau daftarkan Khanza sekolah," ucap Nisa sambil dirinya sibuk memasak.
Dia merasa tenang hidup di kampung, jauh dari hiruk pikuk kehidupan di Jakarta. Meskipun kehidupan di kampung, penuh dengan kesederhanaan. Tak ada kemewahan yang dia rasakan. Pagi ini Nisa berniat masak tempe goreng, sayur sop baso, dan juga sambal.
Sebisa mungkin Nisa berusaha untuk irit, terlebih tabungannya semakin menipis. Dia berniat untuk menemui Fina sahabatnya dulu sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas. Fina adalah orang yang begitu baik kepadanya dulu, dia kerap mentraktir Nisa jajan. Karena Fina berasal dari keluarga berada.
Melihat kondisi seperti ini, Nisa berniat membuka usaha kecil-kecilan. Agar dia tak merepotkan sang bunda untuk mengurus Khanza. Nisa tetap ingin mengurus Khanza sendiri.
"Ya sudah, Bunda mau belanja ke pasar dulu beli bahan. Ada pesanan," sahut Bunda Anita.
Nisa sengaja mencari sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah. Bagi Nisa semua sekolah sama, mampu mencerdaskan seorang anak. Meskipun saat ini Khanza hanya bersekolah di sekolah negeri yang berada di daerah. Meskipun mereka hidup dengan keterbatasan, Nisa ingin membuktikan kalau dirinya mampu mendidik Khanza menjadi anak yang pintar.
"Baik Bu, terima kasih. Saya pamit ya Bu," ucap Nisa.
Urusan sekolah Khanza sudah selesai. Dia berniat mengajak Khanza main ke rumah orang tua Fina. Nisa berharap, orang tua Fina masih di tinggal di rumah yang lama. Karena dia yakin, Fina pasti sudah pindah tempat tinggal. Sudah ikut dengan suaminya. Semenjak Nisa memutuskan kuliah dan bekerja di Jakarta, dia tak pernah lagi bertemu Fina. Setiap pulang ke Yogya, dia lupa untuk mengunjungi rumah temannya. Dia berniat bersilaturahmi ke rumah Fina.
"Assalamualaikum."
Nisa mengucap salam dan menekan bel, agar orang yang berada di dalam rumah bergegas keluar untuk menghampiri dirinya. Sang ART yang pertama kali keluar menemui Nisa.
"Maaf, Mbok. Bu Fina ada?" tanya Nisa.
"Bu Fina sudah tidak tinggal di sini. Sekarang tinggal di kota Yogya. Setelah menikah, Bu Fina ikut suaminya," jelas Mbok Darmi, ART yang bekerja di rumah orang tua Fina.
"Oh gitu Mbok. Saya boleh tidak minta alamatnya. Soalnya saya sudah lama tak pernah ketemu sama dia. Saya Nisa, teman Bu Fina sewaktu masih duduk di bangku SMA," jelas Nisa. Dia berharap Mbok Darmi bisa memberitahu alamat Fina sekarang.
"Ayo Mba, masuk dulu! Saya coba tanyakan dulu ke ibunya Non Fina," ujar Mbok Darmi.
"Oh, ibunya Bu Fina ada ya? Boleh enggak Mbok saya bertemu Tante Lusi?" tanya Nisa.
Mbok Darmi menyuruh Nisa untuk masuk ke dalam rumah. Nisa dan Khanza akhirnya masuk ke rumah orang tua Fina. Orang tua Fina adalah orang terkaya di kampung Nisa. Jarak rumah Fina dengan Nisa cukup jauh, harus memakan waktu sekitar 15 menitan dari rumah.
"Hai Nis, apa kabar? Kemana saja kamu? Fina kangen sama kamu. Dia sering ke rumah kamu, tetapi kamu jarang pulang kampung kata Bunda kamu," jelas Tante Lusi.
"Alhamdulillah Tan, kabar aku baik. Oh ya, Tan kenalkan ini anak aku namanya Khanza. Semenjak kuliah di Jakarta, aku memang jarang pulang. Hanya saat libur panjang saja. Itu pun hanya beberapa hari saja. Setelah lulus kuliah, aku memutuskan bekerja di sana, dan akhirnya aku menikah dengan orang Jakarta. Aku sempat pulang sewaktu aku lagi hamil adiknya Khanza dulu. Maaf, aku tak menemui Fina juga," jawab Nisa. Terlihat penyesalan di wajahnya.
"Ya sudah, tak apa-apa. Tante mengerti kondisi kamu. Setiap orang memiliki urusan masing-masing. Fina juga sekarang sibuk, dia sering ikut suaminya bolak balik keluar negeri. Fina pasti senang banget, kalau bertemu kamu. Sebentar, Tante kasih tahu alamatnya ya," sahut Tante Lusi dan Nisa mengiyakan.
Nisa memutuskan untuk langsung mengunjungi rumah Fina. Mumpung Fina juga sedang berada di rumahnya. Dengan mengendarai motor maticnya, dia membawa serta sang anak. Dia selalu mengajak sang anak, tak ingin menyusahkan ibunya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam, akhirnya Nisa sampai di rumah Fina. Rumah yang sangat mewah, dengan desain bangunan Eropa. Fina menikah dengan orang kebangsaan Inggris. Saat ini sudah di karunia satu orang anak. Fina merasa terkejut, saat sang ART menyebut nama Nisa yang mendatanginya.
Dia bergegas menghampiri sahabat yang selama ini dia rindukan.
"Nisa. Nisa aku kangen sama kamu. Kamu kemana saja si Nis? Sombong banget si sama aku. Berkali-kali aku mendatangai rumah Bunda kamu, tetapi kamu tak juga menemui aku," ungkap Fina. Dia bahkan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Iya, maafkan aku ya! Aku salah banget sama kamu. Selama ini aku sudah melupakan kamu, setiap aku pulang, aku tak pernah menemui kamu. Maafin aku ya Fin," ucap Nisa.
"Iya, aku ngerti. Sudahlah tak perlu di bahas! Aku sudah senang, akhirnya kamu datang kesini. Untungnya pas aku juga lagi di Indonesia. Aku sering ikut suami aku bolak balik keluar negeri. Silahkan duduk Nis! Mau minum apa?" tanya Fina.
"Sudah tak perlu repot-repot, Fin. Oh ya Fin, kenalkan ini anakku namanya Khanza," sahut Nisa. Nisa menyuruh Khanza untuk mencium tangannya Fina.
"Kamu kesini dalam rangka apa Nis? Kamu kesini enggak sama suami kamu?" tanya Fina.
Nisa mulai menceritakan kalau dia sudah bercerai dengan suaminya. Sekarang dia tinggal bersama Bundanya. Nisa berencana ingin membuka usaha. Fina terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Dia tak menyangka kalau hal ini terjadi dengan suaminya. Selama ini dia kerap mendengar tentang perselingkuhan seorang suami, dia tak menyangka kalau sahabatnya sendiri yang menjadi korban seorang pelakor.
"Sabar ya Nis! Aku turun prihatin mendengarnya. Kamu mau usaha apa? Aku akan bantu kamu, kalau kamu butuh modal. Aku ingin kamu tetap semangat, jangan pernah merasa sendiri di dunia ini. Oh ya, bagaimana kalau kamu pegang usaha butik aku? Bunda kamu 'kan seorang penjahit, kamu pasti mengerti juga dong dunia designer. Kamu hanya tinggal mengarahkan saja sih, karena sudah ada pegawainya juga," jelas Fina.
"Ya Allah Fin, kamu dari dulu baik banget sama aku. Jujur, kalau dunia butik aku tak mengerti. Aku justru pengen mencoba konveksi pakaian biasa. Maklum Fin, aku dan Bunda hanya penjahit kampung," sahut Nisa.
"Ih, jangan merendah. Kamu pikir aku bukan dari kampung? Kalau kamu minat menjadi seorang designer, aku bisa menyekolahkan kamu di Paris atau manapun. Kalau kamu berniat ingin maju, aku pasti akan mendukung kamu Nis," jelas Fina.