
"Ka, besok Ayah ingin mengajak kamu jalan-jalan. Sudah lama juga, kita gak pergi bareng," ucap Reynaldi kepada Khanza sang anak. Saat ini dia sedang melakukan panggilan telepon dengan Khanza.
Mereka sepakat. Besok, Reynaldi akan mengajak sang anak pergi jalan-jalan. Khanza memberitahu sang bunda, kalau sang ayah menghubungi dia, dan mengajak dia pergi. Tentu saja Nisa tak akan melarangnya. Dia memperbolehkan Khanza pergi bersama mantan suaminya itu.
Reynaldi berharap bisa mengurangi kegalauan hatinya karena sang istri tak kunjung kembali, dan kebetulan dia juga sudah lama tak bertemu dengan Khanza. Dia juga ingin membahagiakan Khanza.
Senyuman melengkung di sudut bibirnya, saat melihat nomor telepon istrinya menghubunginya. Namun, senyuman itu perlahan memudar. Berganti rasa shock yang dia rasa saat ini, karena yang menghubunginya bukan istrinya. Tetapi Lina asisten istrinya.
"Baik, saya segera berangkat ke sana. Tolong kirimkan rumah sakit istri saya di rawat!" ujar Reynaldi kepada Lina.
Wajah terlihat panik. Dia langsung memesan tiket keberangkatannya ke Singapura. Dia ingin segera ke menemui istrinya. Lina mengatakan, Melani mengalami koma. Sampai saat ini Melani belum sadarkan diri.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan istriku! Aku sangat menyayanginya! Angkatlah penyakit di dalam tubuh istriku! Aamiin." Doa yang Reynaldi ucapkan.
Reynaldi sampai meneteskan air matanya, saat perjalanan pulang ke rumah. Dia hendak mengambil pakaiannya terlebih dahulu, untuk dia bawa ke Singapura. Dia takut, nyawa istrinya tak tertolong lagi.
"Sebenarnya, kamu sakit apa? Apa inikah alasannya, yang membuat kamu gak pernah mau melakukan panggilan telepon atau video denganku? Kamu bohongi aku?" Reynaldi bermonolog. Akhirnya dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan selama ini.
Reynaldi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, agar dia bisa segera sampai di rumah. Dia harus segera berangkat ke bandara. Dia harus terbang tiga jam lagi. Akhirnya, mereka sudah sampai di rumah. Reynaldi langsung bergegas menuju kamarnya. Dia langsung menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan selama di sana.
Setelah semua selesai disiapkan, Reynaldi langsung menghampiri sang mama di kamarnya. Reynaldi langsung memberitahu kepada sang mami, kalau Melani mengalami koma di rumah sakit di Singapura.
"Rey harus berangkat sekarang. Do'akan Melani ya, Ma! Semoga Melani bisa segera sadar, dan penyakit dia derita saat ini bukan penyakit yang bahaya," ucap Reynaldi kepada sang mama.
"Rey, sebenarnya mama sempat curiga. Saat Melani mengungkap tentang kematiannya kepada mama. Dia juga menitipkan kamu sama Mama. Mama bilang padanya. Dia itu masih muda, sehat jangan bicara seperti itu. Mama saja yang sudah tua dan penyakitan, masih ingin hidup lebih lama lagi. Tapi, Melani tak cerita sama mama. Kalau dia sakit," ungkap Mama Ratih.
"Astagfirullahalazim, Melani bicara seperti itu sama mama? Kenapa dia bicara gitu ya? Semoga ini bukanlah sebuah pertanda. Reynaldi benar-benar shock, saat mendengar kabar dari asistennya tadi. Rey langsung pesan tiket pesawat ke sana. Ya udah, Rey berangkat dulu ya. Soalnya, takut ketinggalan pesawat," ujar Reynaldi.
"Iya, Rey. Berangkatlah kamu! Semoga Melani bisa segera sadar, dan sehat kembali. Salam untuk Melani. Insya Allah mama akan bantu doa!" sahut sang mama.
Rey langsung mencium tangan sang mama, karena dia harus segera berangkat. Kini dia sudah dalam perjalanan menuju bandara. Dia diantarkan supir Melani ke bandara. Sejak tadi dia merasa gelisah. Dia takut, kalau nantinya sang istri pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Seperti yang dia alami, saat mantan istrinya meninggal karena terkena kanker serviks.
"Hufft, akhirnya sampai juga," ucap Reynaldi.
Padahal penerbangan ke Singapura tak lama. Tapi rasanya, seperti berjam-jam bagi Reynaldi. Reynaldi sudah sampai di bandara Singapura. Dia langsung memesan taksi, menuju rumah sakit sang istri saat ini berada.
Reynaldi sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ruang ICU. Kondisi Melani saat ini kritis. Hal ini yang membuat Lina menghubungi Reynaldi. Dia takut, kalau nantinya nyawa Melani tak tertolong lagi. Dia terpaksa melanggar janjinya kepada bosnya.
"Lina, di mana istri saya?" tanya Reynaldi. Reynaldi baru saja sampai, dan melihat Lina yang sedang duduk di depan ruangan Melani di rawat. Dia begitu setia kepada bosnya itu. Demi menemani bosnya, dia rela tidur duduk di kursi ruang tunggu.
"Ibu, ada di dalam Pak. Kondisi ibu saat ini, kritis. Bapak langsung saja masuk, temui ibu! Semoga saja, Ibu bisa sadar karena mendengar suara bapak," ucap Lina.
"Sebenarnya, istri saya saat ini sakit apa? Mengapa dia seperti itu? Sejak kapan istri saya seperti itu?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Reynaldi.
Lina sempat terdiam. Dia merasa bingung, karena Melani meminta dia untuk merahasiakan penyakitnya dari siapapun. Tapi dia juga takut kesalahan, karena merahasiakan penyakit yang diderita bosnya itu.
"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, saya akan menuntut kamu jika terjadi sesuatu dengan istri saya!" ancam Reynaldi. Reynaldi sengaja mengancam Lina, agar Lina mau mengatakan penyakit apa yang di derita Melani.
"Sebaiknya, Bapak temui dokter yang menangani Ibu! Biar Bapak tahu semuanya secara jelas, apa penyakit ibu. Saya sudah berjanji kepada Ibu, untuk tidak mengatakan apapun kepada bapak," jelas Lina.
"Kamu memang asistennya. Tapi, bukan berarti kamu harus menurutinya jika yang dia inginkan tak baik. Jika sampai terjadi sesuatu sama istri saya, saya tak akan pernah memaafkan kamu!"
Reynaldi masih saja mengancam Lina. Agar Lina akhirnya mau buka omongan. Reynaldi yakin, kalau asisten istrinya mengetahui semuanya. Reynaldi menjadi kesal dengan sikap Lina, yang menutupi apa yang terjadi dengan istrinya.
Reynaldi langsung masuk ke dalam ruangan sang istri berada. Dia begitu sedih, saat pertama kalinya melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya, dengan menggunakan alat-alat medis.Reynaldi berjalan menghampiri istrinya.
"Ya Allah, aku mohon! Selamatkan istriku! Aku sangat menyayanginya," ucap Reynaldi dalam hati.
Kini Reynaldi semakin mendekat. Dia membisikkan kata semangat di telinga istrinya. Berharap sang istri terbangun dari komanya, karena mendengar suaranya.
"Bangunlah, Sayang! Aku datang untuk kamu! Aku sangat menyayangi kamu. Aku akan menemani kamu di sini, sampai kamu akhirnya membuka matamu. Sebenarnya, kamu sakit apa? Mengapa kamu tak jujur padaku? Mengapa kamu membiarkan diri kamu berjuang sendiri, melawan penyakit kamu? Aku ini suami kamu. Sudah sepantasnya aku berada di samping kamu, sampai kamu dinyatakan sehat! Bukanlah mata kamu, dan kita raih kebahagiaan kita berdua!" bisik Reynaldi. Suaranya terdengar lirih.