
"Sabar Sayang, jangan berkecil hati! Kita ini baru menikah beberapa bulan saja. Di luar sana, banyak yang sudah bertahun-tahun belum juga hamil. Jika sudah waktunya, aku yakin kamu akan hamil. Aku pun tak akan menuntut kamu untuk segera memberikan keturunan untuk aku. Aku memahaminya. Yang terpenting bagiku, kamu selalu sehat," ujar Reynaldi menenangkan istrinya yang kini sedang bersedih.
"Iya. Tapi, aku maunya bisa segera hamil. Bagaimana, kalau aku suntik hormon? Melakukan program kehamilan sesuai arahan dokter. Atau mungkin, kita program bayi tabung saja. Pokoknya, aku ingin secepatnya hamil. Ayo kita coba buat lagi sekarang!"
Reynaldi tersenyum, dan memeluk tubuh sang istri.
"Sabar, Sayang! Aku tak ingin kamu tertekan seperti ini. Aku sayang sama kamu," ucap Reynaldi sambil mengusap punggung sang istri lembut.
Melani langsung merenggangkan pelukannya, dan menatap wajah suaminya lekat. Netra mereka saling bertemu.
"Aku takut, kalau nantinya kamu akan selingkuh dengan wanita lain. Karena aku tak bisa memberikan kamu keturunan," ucap Melani manja. Wajahnya begitu menggemaskan bagi Reynaldi.
"Kamu takut, karena aku dulu pernah menjadi laki-laki yang gak setia ya? Aku selingkuh dari Nisa, padahal dia telah memberikan aku segalanya," Reynaldi bertanya dan Melani menganggukkan kepalanya. Masa lalu suaminya, membuat dia takut.
"Insya Allah, hal itu tak akan terjadi lagi. Cukup satu kali, aku kehilangan wanita yang aku cinta dulu. Sekarang, aku gak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintai kamu. Masa lalu akan aku jadikan pelajaran yang paling berharga di hidup aku," ucap Reynaldi sambil mengusap wajah istrinya lembut.
Perlahan bibir mereka menyatu, ciuman pun terjadi. Reynaldi langsung menggendong tubuh istrinya, tanpa melepaskan pagutannya. Dia membawa sang istri ke ranjang.
"Kita coba lagi ya malam ini!" ucap Reynaldi sambil melepaskan pakaian yang dia gunakan. Melani pun melakukan hal yang sama. Tubuh keduanya kini sama-sama polos.
Keduanya kini sudah bergairah. Ciuman mereka begitu hot. Reynaldi kini beralih ke leher sang istri. Membuat Melani mende*sah. Dia begitu menikmati permainan lidah suaminya. Perlahan, lidah itu pun turun. Kini bermain di bukit kembar istrinya. Menyesapnya, seperti seorang bayi.
Melani semakin tak karuan. Terlebih, saat jari tangan suaminya bermain di area sensitifnya. Matanya sudah terlihat merem melek, menikmati permainan di bawah sana. Secara spontan Melani mendorong kepala sang suami, dan membenamkan agar lebih dalam.
"Sayang, aku mulai ya?" Reynaldi bertanya kepada sang istri, Melani menganggukkan kepalanya. Dia pun sudah sangat menginginkannya.
Reynaldi memulai percintaan mereka. Dia melakukan dengan penuh kelembutan. Perlahan namun pasti. Keduanya sudah hampir mencapai titik kli*maks. Reynaldi semakin mempercepat permainannya. Hingga akhirnya keduanya mengerang bersama.
Dia juga masih menjalankan perintah dokter. Tapi, Allah masih saja menguji kesabarannya. Sampai dia merasa frustasi, ingin melakukan bayi tabung.
"Apa kamu sudah tak bisa bersabar lagi? Kenapa sampai harus program bayi tabung? Aku yakin, kita bisa memiliki anak secara alami. Kamu hanya perlu bersabar saja," ujar Reynaldi.
"Aku sudah memutuskan untuk program bayi tabung," sahut Melani.
Reynaldi terpaksa mengikuti keinginan istrinya. Dia tak mungkin menolaknya. Tak ingin membuat istrinya kecewa. Dia khawatir, kalau istrinya nanti malah salah paham dengannya.
"Ya udah, kapan kita akan melakukan program bayi tabung? Aku harus mempersiapkan dengan baik. Agar sper*ma aku kualitasnya baik. Kita bisa berhasil," ujar Reynaldi.
"Gimana, kalau sabtu ini? Sebaiknya, kita jangan berhubungan intim dulu. Agar nanti di sana lebih efektif, dan kualitas sper*manya baik," sahut Melani dan Reynaldi mengiyakan.
Reynaldi akan mulai mengkonsumsi protein hewani lebih banyak. Dia juga harus beristirahat yang cukup, dan makan makanan yang bergizi. Semua dia lakukan demi mendapatkan buah hati.
Sampai akhirnya, waktunya pun tiba. Melani dan Reynaldi sudah berada di rumah sakit. Melani rela menahan rasa sakit, dalam proses berlangsung. Baik Reynaldi maupun Melani berharap, proses ini berhasil.
Berbagai tahap mereka melakukan. Mereka kini berada di sebuah ruangan. Reynaldi di rang*sang, agar berhasil mengeluarkan sper*manya. Dia disuruh menonton film blue dan melakukan juga dengan Melani di sebuah ruangan yang disediakan.
Melani bersabar dalam melewatinya. Membutuhkan kesabaran dan kerja keras. Semua sudah mereka lalui, kini mereka hanya tinggal menunggu hasilnya.
Melani sudah tak sabar menantinya. Tak henti-hentinya dia berdoa, berharap Allah akan segera memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi seorang ibu. Menjadi wanita yang sempurna.
Dalam do'anya, Melani kerap meminta kepada Allah untuk segera mengabulkan doanya. Berbeda halnya dengan Melani dan Reynaldi, yang masih menunggu hadirnya sang buah hati di rahim sang istri. Nisa justru sedang berbahagia. Anak yang saat ini sedang dia kandung berjenis kelamin laki-laki.