
Abi meraih ponselnya di dekat bantalnya. Ternyata sepupunya yang dekat dengannya.
"Em, kenapa? Ganggu saja. Mas lagi tidur," ucap Abimanyu. Rasanya dia masih enggan membuka matanya. Namun, sepupunya menghubungi dirinya.
"Tidur terus kerjaannya kalau libur. Cari istri dong Mas. Sampai kapan Mas hidup sendiri terus? Aku ingin melihat Mas hidup bahagia. Apa perlu aku kenalkan sama sahabat aku? Dia cantik, baik, pintar. Sempurna banget. Namun sayangnya, rumah tangganya tak semulus wajahnya. Suaminya selingkuh, dan dia harus berjuang membesarkan anaknya sendiri. Aku berniat menolongnya, tetapi dia masih ingin fokus mengurus ibunya yang sakit," ujar Fina.
Abi langsung terbangun, dan duduk. Dia langsung teringat dengan anak pasiennya. Mengapa kisahnya sama dengan sahabat yang sepupunya ceritakan.
"Mas, kok diam si? Mau enggak? Aku juga enggak terlalu yakin si, dia mau aku kenalkan dengan Mas atau tidak. Karena sepertinya dia masih ingin hidup sendiri," jelas Fina.
"Iya, enggak perlu. Jangan terlalu maksa. Itu keputusan dia, biarkan saja. Lagi pula, Mas lagi jatuh hati pada seorang wanita. Namun, masih butuh proses. Dia anak, pasien Mas di rumah sakit. Doakan saja, semoga Allah menjodohkan kami. Mas si yakin kalau dia wanita yang baik dan tepat untuk Mas," ujar Abi.
"Fina doakan, semoga Mas bisa menemukan wanita yang mencintai Mas dengan tulus. Fina menyuruh Abi untuk main ke rumahnya. Abi mengiyakan, sekalian dia gym. Karena rumah Fina berada di kota.
"Ya sudah, Mas mandi dan bersiap-siap dulu. Nanti Mas kesana numpang makan. Masak makanan yang enak-enak ya! Nanti Mas mampir sekalian mau nge-gym," sahut Abi.
"Wah, Mas tambah keren dong. Pengen dong lihat roti sobeknya," goda Fina.
"Huh dasar, enggak boleh. Tubuh Mas hanya untuk istri Mas nanti. Ya sudah, Mas mandi dulu," ujar Abi. Hubungan Fina dengan Abi sangat dekat. Fina menganggap Abi seperti kakak kandungnya sendiri.
Hari ini Nisa berniat mengajak sang anak mengunjungi Fina. Dia berniat untuk membicarakan masalah modal untuk dia membuka usaha. Hanya Fina yang bisa menolongnya, karena Nisa sudah tak memiliki uang. Uang tabungannya sudah habis. Ini pun dia hanya memiliki uang seratus ribu. Dia berharap Fina saat ini berada di Indonesia.
"Bun, Nisa berangkat dulu ya ke rumah Fina. Doakan Nisa ya Bu! Semoga Fina bisa menolong kita. Nisa ingin membahagiakan Ibu, dan juga ingin Khanza tetap sekolah," ujar Nisa saat mencium tangan ibunya.
Kehidupan Nisa semakin berat. Karena dia tak memiliki penghasilan. Uang tabungan yang ada akhirnya habis. Namun, dia tak patah semangat. Karena dia masih memiliki teman yang baik kepadanya. Dia tak ingin mengecewakan kebaikan Fina, memanfaatkan uang pinjaman itu dengan baik.
Dengan mengendarai sepeda motor maticnya dia menuju ke kota. Meskipun cukup jauh, tak menjadi alasan untuk Nisa mengurungkan niatnya.
Abimanyu baru sampai di rumah Fina. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran mobil Fina dan langsung di sambut sepupunya.
"Langsung makan dong, Mas lapar," ucap Abi. Abi tak pernah canggung kepada Fina. Seperti menganggap rumahnya sendiri. Kini dirinya sudah duduk di meja makan.
Fina sudah menyediakan aneka macam makanan untuk sepupunya itu. Dia juga ikut makan bersama Abi.
"Tumben kamu enggak ikut ke Inggris? Biasanya ngikut suami terus," sindir Abi sambil mulutnya sibuk mengunyah.
"Iya, lagi malas. Aku enggak bisa meninggalkan butik aku terus menerus, kalau Nisa bisa menggantikan posisi aku. Mungkin, aku bisa sedikit tenang kalau jarang pulang ke Indonesia," sahut Fina dan Abi hanya angguk-angguk kepala.
Obrolan mereka harus terhenti, karena sang ART mengatakan kalau ada tamu di depan.
"Siapa Mbok namanya?" tanya Fina.
"Mba Nisa. Yang pernah kesini sama anaknya, Bu," sahut sang ART.
"Baru diomongin, datang orangnya. Ya sudah Mbok, suruh masuk saja ke dalam. Saya selesaikan dulu makannya, nanti saya langsung keluar," ujar Fina.
"Sebentar ya Mba Nisa, ibunya mau menyelesaikan makan dulu," ujar sang ART.
Ternyata Fina berubah pikiran, dia akhirnya memutuskan untuk menemui Nisa keluar dan mengajak Nisa dan anaknya makan bersamanya.
"Ayo Nis makan, enggak usah malu-malu. Hanya ada sepupu aku doang kok. Dia orangnya santai kok," rayu Fina.
"Makasih Fin. Beneran deh, aku sudah makan tadi sewaktu mau jalan kesini. Sudah sana kamu lanjut makan saja. Santai saja Fin. Aku tak apa kok nungguin kamu," ujar Nisa.
"Ya sudah. Minum deh minum. Khanza kali Nisa mau makan. Khanza mau es krim 'kan? Yuk makan es krim di dalam sama Kenzo," rayu Fina. Hingga akhirnya Nisa tak bisa menolaknya. Terlebih Khanza ikut menariknya untuk mau masuk ke dalam.
"Kamu itu masih kaku saja si Nis sama aku. Seperti sama siapa saja. Kalian 'kan harus menempuh perjalanan jauh dari rumah kamu kesini," ucap Fina.
Nisa tampak mengerutkan keningnya saat melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi meja makan, yang sedang sibuk menikmati makanan.
"Dokter Abimanyu?" ucap Nisa. Pelan, tetapi masih terdengar Fina. Bahkan ucapan Nisa membuat Abi menengok. Keduanya tampak terkejut.
"Kok Dokternya Nenek ada disini?" ucap Khanza.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Fina.
"Om itu, dokternya nenek aku," jelas Khanza.
Untungnya Abi sudah selesai makan, dan hanya tinggal mencuci tangan saja. Jika tidak, pasti dia langsung tak napsu makan. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia tak menyangka kalau Nisa adalah sahabat sepupunya.
***
Mama Ratih sudah terlihat segar, dia sudah bisa melakukan aktivitas tanpa bantuan Rey ataupun Viona lagi, dan mulutnya sudah kembali nyinyir kembali. Sudah mulai perang mulut antara Viona dan Mama Ratih, karena Viona tak juga hamil.
"Ma, jangan salahkan aku dong. Salahkan anak mama yang jarang sekali menyentuh aku. Wajar kalau sampai hari ini aku belum juga hamil," cerocos Viona.
"Apa benar Rey yang di ucap Viona?" tanya Mama Ratih yang kini menatap Rey sang anak.
Reynaldi menganggukkan kepalanya, apa yang diucap istrinya memang benar. Namun, dia tak bisa memungkirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Rey? Apa kamu masih memikirkan wanita kampung itu? Ingat, dia itu sudah membuat kamu susah! Membuat kamu menderita seperti ini," jelas Mama Ratih.
"Rey juga enggak mengerti Ma. Mungkin stres mempengaruhi penurunan keinginan bercinta. Lagi pula, untuk saat ini Rey memang belum menginginkan punya anak. Kehidupan kita masih seperti ini, masih sangat pas-pasan," jelas Reynaldi.
"Iya, tetapi anak itu penting di dalam sebuah rumah tangga. Paling tidak, satu anak," ujar Mama Ratih.
Yang tak suka dengan alur cerita ini, kalian boleh skip. Karena hidup pun butuh proses. 😔