Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Tak Pernah Berubah


Operasi berjalan lancar, Mama Ratih sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Hanya tinggal siuman saja. Reynaldi tampak menggenggam tangan sang mama, rasa sayangnya kepada sang mama begitu besar. Meskipun sang mama 'lah yang membuat rumah tangga dia hancur dan dia harus merasakan menjadi pengangguran.


"Ay, sebaiknya kamu pulang saja! Karena hanya bisa satu orang saja yang menjaga mama. Lebih baik kamu di rumah dan besok pagi masak, untuk aku makan di rumah sakit. Kita harus irit Ay," ucap Reynaldi mengingatkan istrinya. Reynaldi tak mampu untuk membayar kamar rawat inap VVIP, hingga mama Ratih harus di rawat di kelas 2. Karena kelas 1 penuh.


Semenjak Bi Surti diberhentikan. Reynaldi meminta Viona belajar masak. Meskipun hasilnya tak seenak masakan Nisa. Kadang membuat Viona merasa kesal, karena sang mertua seperti bos yang tak pernah membantunya. Sama halnya Reynaldi. Kehidupan Reynaldi menjadi tak teratur. Dia kerap bangun siang, dan tak sholat. Memang benar apa yang dikatakan bosnya dulu, apa istri barunya bisa mengantarkan dia kepada kesuksesan. Perlahan Viona justru menghancurkan hidupnya.


Nisa baru saja sampai di Yogya. Bunda Anita terkejut saat melihat sang anak datang bersama cucunya. Terlebih Nisa membawa koper dan juga tas banyak. Dia langsung menghampiri cucu dan anaknya keluar.


"Nisa? Khanza? Kalian kok kesini enggak bilang? Ayo kita masuk ke dalam," ucap Bunda Anita.


"Iya, Bun. Nanti kita ngobrol ya Bun," sahut Nisa sambil mencium tangan sang Bunda, Khanza pun melakukan hal yang sama kepada sang nenek.


Nisa terlihat duduk di ruang TV, sedangkan Bunda Anita pergi ke dapur membuatkan teh hangat untuk anak dan juga cucunya. Wajah Nisa terlihat lesu, karena kecapean di jalan, ditambah akhir-akhir ini dia sering kali susah tidur atau terbangun di kala malam hari.


"Diminum dulu tehnya! Khanza, ayo minum dulu tehnya agar tubuhnya hangat," ucap Bunda Anita kepada anak dan juga cucunya.


"Kalian sudah makan belum? Mau Bunda gorengkan telur dadar tidak? Soalnya Bunda jarang masak. Lebih sering beli lauk matang saja. Kalau masak capek dan sayang kalau ke buang, yang makan hanya sendiri," ungkap Bunda Anita.


"Kami sudah makan kok Bun, tadi di jalan. Bunda tak perlu repot-repot. Khanza mandi ya? Bunda masakkan air panas ya Nak," ucap Nisa dan Khanza mengiyakan.


Nisa langsung memasak air panas untuk dia dan juga Khanza, sambil bercerita tentang perjalanan mereka tadi. Bunda Anita sengaja tak membahas masalah anaknya, dia ingin Nisa yang bercerita lebih dulu.


Viona baru saja sampai di rumah, wajahnya terlihat kesal. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tak butuh waktu lama, dia tertidur pulas. Mama Ratih baru saja siuman, perlahan membuka matanya. Dia tampak meringis, merasakan sakit di bekas jahitan.


"Rey ...," panggil Mama Ratih lemah. Mama Ratih masih terlihat lemas, wajahnya masih terlihat pucat.


Rey yang sedang tertidur pulas, akhirnya terpaksa membuka matanya dan menghampiri sang mama. Wanita yang dia sayangi. Rey tampak duduk di sebelah sang mama. Demi sang mama, Rey rela tidur di lantai hanya beralaskan tikar.


"Alhamdulillah Mama sudah sadar. Rey senang melihatnya," ucap Reynaldi. Rey yang sekarang sangatlah berbeda. Semenjak permasalahan di hidupnya, wajahnya terlihat tak bercahaya, dan wajah dengan banyak beban. Dia terlihat lebih tua, karena kehidupan yang sulit.


Reynaldi menceritakan atas apa yang terjadi dengan sang mama, bahwa sang mama baru saja melakukan operasi pemasangan ring di jantungnya. Mama Ratih merasa terkejut mendengarnya, dari mana sang anak mendapatkan uang untuk operasinya. Mama Ratih tampak terdiam, hanya air mata yang menunjukkan perasaannya saat ini. Namun, dia masih saja tak menyadari apa yang telah dia perbuat selama ini. Lagi-lagi dia menyalahi Nisa.


Jika saja Nisa tak melaporkan anaknya ke sang bos, sang anak pasti saat ini masih bekerja. Dia tak akan merasa sulit seperti ini. Mereka pasti masih hidup enak. Tak seperti sekarang, yang hanya bisa di menginap di kelas 2.


"Semua ini gara-gara Nisa," ucap Mama Ratih.


"Sudahlah Ma, jangan seperti itu! Ingat, mama belum sembuh! Tak boleh banyak pikiran! Lagipula, semua ini bukan murni kesalahan Nisa. Wajar, Nisa berbuat seperti itu," jelas Reynaldi.


Mama Ratih tak pernah berubah, penyakit yang dia derita tak membuat dia sadar. Dia justru semakin menyalahkan Nisa.


"Kalau saja, kamu masih kerja. Mama tak akan di rawat di kelas 2 seperti ini. Gabung sama yang lain. Mobil Papa juga tak akan ke jual seperti sekarang," ujar Mama Ratih.


"Sudahlah Ma, tak perlu di bahas lagi! Harta bisa dicari. Lagi pula 'kan masih ada mobil Rey. Yang terpenting kesehatan dan keselamatan Mama lebih penting. Semoga Rey bisa cepat dapat kerja lagi, agar bisa menyenangkan hati Mama lagi. Mama sabar ya! Rey sayang mama," ucap Rey yang langsung memeluk sang mama.


Mama Ratih pun sangat menyayangi Rey. Sampai-sampai dia merasa cemburu dengan Nisa. Saat dulu Rey begitu perhatian dengan Nisa.


Bunda Anita terkejut saat mendengar penuturan sang anak tentang perceraiannya dengan Reynaldi. Dia tak menyangka, kalau Reynaldi akan seperti itu lagi. Bunda Anita mengira, kalau Reynaldi sudah insyaf dan tak akan mengulangi kesalahannya lagi.


"Sabar ya Nisa, mungkin ini yang terbaik dari Allah. Makanya Allah segera menunjukkannya kepada kamu, agar kamu tahu kalau dia mengkhianati kamu. Tetap semangat, jangan patah semangat! Bunda yakin, kalau suatu saat nanti, kamu pasti mendapatkan kebahagiaan," ucap Bunda Anita yang memberi semangat kepada sang anak.


Kali ini Nisa terlihat lebih tegar, tak ada lagi air mata yang menetes untuk menangisi suami yang tega mengkhianati cinta mereka. Obrolan mereka harus terhenti, karena malam semakin larut, dan bahkan saat ini sudah menjelang pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi WIB.


"Sebaiknya, kita lanjut besok lagi ngobrolnya. Tubuh kamu butuh istirahat! Pasti kamu merasa lelah, habis jalan jauh," ujar Bunda Anita dan akhirnya Nisa menyetujuinya. Dia juga tak ingin ibunya sakit, karena harus begadang menemaninya mengobrol.


Nisa sudah di kamar, ternyata kenangan bersama suaminya begitu banyak. Dia teringat saat dia pulang kampung dan melakukan hubungan intim, saat hamil anak keduanya dulu.


"Aku kira, kamu sudah berubah Mas. Karena kamu membuat aku untuk memaafkan kamu. Sudah cukup air mata yang menetes selama ini. Kini saatnya aku untuk bangkit dari keterpurukan," ucap Nisa lirih. Rasa lelah dan kantuk, membuat dia tertidur pulas.