Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kesuksesan Nisa


Nisa tersenyum kala melihat usahanya berjalan lancar. Tentu saja hal itu membuat dirinya semakin sibuk. Namun, dia tak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dari Khanza. Perekonomian dia semakin membaik. Nisa sudah mulai bisa menabung. Dia juga selalu menyisihkan penghasilannya untuk mencicil modal yang Fina berikan untuknya.


"Terima kasih ya Allah, atas rezeki yang engkau berikan kepada aku. Aku bersyukur, karena usaha aku semakin ramai. Semoga aku bisa mencicil kepada Fina dan membahagiakan orang-orang yang aku sayang.


Nisa teringat sang Ibu. Karena kesibukannya, dia jadi jarang pulang menengok sang Ibu. Karena di hari libur, banyak pengunjung butik yang datang. Untuk hari biasa, dia lebih menghabiskan waktunya untuk memantau usaha konveksinya.


Nisa berniat menghubungi sang Ibu. Meskipun dia tak pulang, setiap hari Nisa selalu menghubungi ibunya untuk menanyakan kabarnya. Dia juga selalu mengirimkan uang kepada bundanya. Nisa tak mengizinkan bundanya menerima pesanan apapun. Semua Nisa yang tanggung.


"Kenapa perasaan aku tak enak ya dari tadi? Mengapa aku kepikiran Bunda terus ya?" Nisa bermonolog.


Nisa mencoba menghubungi sang Bunda. Namun sang Bunda tak mengangkatnya. Membuat dirinya semakin gelisah. Seperti sebuah ikatan batin dengan sang Bunda. Air mata Bunda Anita menetes. Dia terpaksa tak menerima panggilan telepon dari sang anak.


Saat ini sang Bunda sedang berada di rumah sakit. Bunda Anita meminta kepada para tetangganya untuk tidak memberitahukan, kalau saat ini dia masuk rumah sakit karena kondisinya drop. Bahkan kini dia harus memakai oksigen karena merasa sesak.


"Ibu mohon Nak Abi, jangan beritahu Nisa kondisi Ibu saat ini. Ibu tak ingin membuat kebahagiaan Nisa tercoreng dengan apa yang terjadi dengan Ibu. Ibu ingin lihat dia bahagia. Ibu senang, dia sekarang sudah sukses," ungkap Ibu Anita kepada Dokter Abimanyu. Dokter Abimanyu saat ini sedang bersama Bunda Anita. Sedangkan melakukan tindakan pertolongan kepada Bunda Anita.


Abi ikut merasa sedih. Begitu berat penderitaan Nisa. Ada saja masalah yang datang menghampirinya. Disaat dirinya meraih kesuksesan, sang Bunda kini dalam keadaan kritis. Abi berusaha untuk menyelamatkan Bunda Anita.


"Nak Abi, apa Ibu boleh bicara tentang masalah pribadi sama Nak Abi?" tanya Bunda Anita dan Abi tampak menganggukkan kepalanya. Sebagai tanda, dia mengizinkan Bunda Anita untuk mengatakan apa yang ingin Bunda Anita katakan.


"Ibu titip Nisa ya sama Khanza. Ibu berharap Nak Abi yang menjadi suami Nisa. Ibu yakin kalau Nak Abi adalah laki-laki yang baik, yang bisa membahagiakan Nisa dan menerima Khanza. Ibu tak memaksa. Kalau Nak Abi tak mau, tak apa-apa. Anggap Nisa adalah saudara Nak Abi. Tolong sayangi dia seperti Nak Abi menyayangi Fina. Ibu sangat menyayangi Nisa. Dia anak yang baik, hanya saja dia memiliki banyak cobaan hidup," ungkap Bunda Anita.


Abi tampak diam seketika. Entah dia harus melakukan apa. Sebenarnya, dia juga memiliki perasaan kepada Nisa. Namun, dia tak yakin kalau Nisa akan menerima dirinya.


"Iya Bu. InsyaAllah. InsyaAllah, saya akan menuruti permintaan ibu. Sebenarnya, saya juga memiliki perasaan ke anak Ibu. Sejak awal bertemu, saja sudah jatuh hati padanya. Namun, saya tidak percaya diri. Saya tak yakin kalau Nisa akan menerima saya," jelas Abi.


"Memang, semua butuh proses. Ibu akan bantu Nak Abi, Ibu akan coba bicara sama Nisa. Semoga Nisa bisa membuka hatinya untuk Nak Abi," ucap Bunda Anita dan Abi menganggukkan kepalanya.


"Nak Abi, ibu ingin minta tolong! Tolong tuliskan pesan kepada Nisa! Bilang padanya kalau ponsel ibu rusak hanya bisa chat, tak bisa melakukan panggilan telepon atau Video. Ibu kondisinya baik-baik saja, tak perlu khawatir! Ibu yakin kalau saat ini Nisa pasti gelisah dan khawatir," ucap Bu Anita dan Abi menurutinya. Abi mulai mengetik pesan chat untuk Nisa.


Benar saja, saat ini Nisa sedang menunggu kabar dari sang Ibu.


"Iya, Bu. Nisa transfer ya Bun. Bunda langsung minta tolong siapa gitu yang bisa antar Bunda ke counter handphone. Alhamdulillah kalau Ibu baik-baik saja. Nisa bisa tenang. Tadi Nisa khawatir banget, kalau penyakit Bunda kambuh. Nisa sayang Bunda. Maaf ya Bun, Nisa belum bisa menengok Bunda. Tapi Nisa akan usahakan," balas Nisa.


"Kamu benar-benar anak yang baik. Aku salut sama kamu," ucap Abi dalam hati.


"Ya sudah, saya lanjut ke yang lain dulu ya Bu. Ibu istirahat ya! Biar sehat kembali," ujar Abi.


"Iya Nak Abi, makasih ya. Makasih, karena Nak Abi begitu sabar merawat Ibu. Semoga Nak Abi bisa menjadi menantu Ibu," ucap Bunda Anita sambil tersenyum. Abi pun membalas dengan senyuman.


Berbeda halnya dengan Nisa yang sudah meraih kesuksesan. Reynaldi justru sedang merasa stres. Karena mama dan istrinya selalu menuntut lebih. Dengan pendapatan 4 juta rupiah, tak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Membuat Reynaldi memiliki banyak hutang. Dia terjebak hutang online. Hingga akhirnya dia bertindak tak jujur.


"Kalau seperti ini terus, aku terancam bisa di PHK. Tolong dong kalian mengerti kondisi keuangan kita. Kenapa kalian selalu saja menuntut si?" cerocos Reynaldi.


"Jadi kamu menyalahkan mama? Semua ini karena ulah istri kamu. Kerjaannya setiap hari jajan. Beli bakso, mie ayam, seblak, apa aja. Malas masak. Kamu tahu tidak, Bisa-bisanya dia shopping dan ke salon dari yang belanja yang kamu kasih. Mama kamu tak pernah di masakin," sahut Mama Ratih membela diri.


"Aku tuh bosan hidup susah terus. Di mana-mana menikah itu mencari kebahagiaan," ujar Viona ketus.


"Segala ngomong mencari kebahagiaan. Kamu saja belum bisa memberikan kebahagiaan untuk Reynaldi. Jangan-jangan kamu mandul! Makanya sampai sekarang masih belum hamil juga," sindir Mama Ratih membuat mata Viona membulat sempurna.


"Sudah! Sudah! Aku lagi pusing, ditambah lagi. Kalian berdua itu kerjaannya bertengkar terus. Padahal kalian dulu sangat dekat. Sampai-sampai kalian kompak untuk menyingkirkan Nisa dari hidupku," ujar Reynaldi.


"Anak dan anak lagi yang di ributkan. Ay, makanya kamu itu rajin menyentuh aku. Biar aku tak disalahkan terus menerus oleh Mama kamu. Aku tak usah mengkonsumsi pil KB lagi ya? Mungkin sudah waktunya aku memberikan kamu anak. Semoga saja, dengan hadirnya seorang anak. Rezeki kamu bertambah," ujar Viona dan Reynaldi mengiyakan. Padahal dulu, dia begitu semangat bercinta dengan Viona. Bahkan tega membohongi istrinya, agar bisa bersama Viona.