Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Yogyakarta


"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar ya ma. Terima kasih atas bantuan mama untuk kelancaran acara ini," ucap Nisa kepada sang ibu mertua.


"Iya, sama-sama. Mama juga senang bisa ikut membantu kelancaran acara ini. Semoga kembar kelak menjadi anak yang sholeh dan sholeha," sahut sang mama.


Sore ini rencananya Abi akan mengantarkan Nisa ke rumahnya, baru beberapa bulan meninggalkan rumah itu. Nisa sudah merindukannya. Dia juga ingin mengajak sang suami main ke Malioboro, menikmati malam minggu di sana. Mumpung mereka sedang berada di Yogyakarta.


"Sholat ashar dulu deh, baru kita jalan," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Setelah sholat ashar Nisa, Abi, dan Khanza pamit kepada orang tua Abi untuk berangkat. Sebenarnya Fina pun mengundang mereka untuk main ke rumahnya, Fina masih ingin mengobrol dengan sahabatnya itu.


Kini Abi, Nisa dan Khanza sudah dalam perjalanan menuju rumah mereka yang di urus sang ART. Nisa terlihat senang memandang jalanan kota Yogyakarta. Suasana di sana sangat berbeda, tak seperti saat di Jakarta.


Mereka sudah sampai di depan rumah sekaligus tempat usaha Nisa. Nisa turun duluan. Melihat sang majikan datang, sang ART langsung berlari untuk segera membuka pagar.


"Assalamualaikum, Bi." Nisa mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Bu Nisa," sahut sang ART.


Abi memarkir mobilnya di depan rumahnya. Baru beberapa bulan meninggalkan rumah itu, Nisa sudah merindukan rumah itu. Dia memasuki tempat konveksi. Semua pegawai sudah pulang. Karena kalau hari sabtu, mereka hanya bekerja setengah hari. Nisa masuk ke dalam dan menuju ruang kerjanya dulu. Ada perasaan sedih di benaknya. Dulu, saat di Yogyakarta dia begitu tenang tak pernah bertemu dengan mantan suaminya.


Nisa berbincang-bincang dengan sang ART, menanyakan semua yang terjadi saat dia tak ada di Yogyakarta. Dia juga tak pernah tahu, kapan dia bisa ke Yogyakarta lagi. Abi dan Khanza tampak duduk mendampingi Nisa.


"Yang, menurut aku tempat ini sepertinya sudah tak memadai. Gimana kalau kita beli rumah lagi saja? Tempat ini khusus untuk usaha. Jadi, nanti kita rombak total tempat ini. Agar lebih luas tempatnya," jelas Abi.


Nisa tampak berpikir. Jujur, dia merasa betah tinggal di rumah itu. Memang benar si, apa yang dikatakan suaminya itu. Sekarang ini, permintaan pesanan semakin melimpah. Kapasitas pekerja tak cukup, hingga akhirnya kerap dilempar ke pabrik garment miliknya. Selama tinggal di sana, mereka pun menjadi terganggu memarkirkan mobilnya. Jika saat jam kerja. Abi dan Nisa terpaksa harus memarkirkan mobilnya di luar rumah tak bisa di garasi mobil.


"Coba nanti aku pikirkan lagi ya Mas yang terbaik. Aku masih bingung soalnya. Memang si tempat ini sudah sepantasnya hanya dijadikan untuk usaha, agar bisa lebih luas lagi tempat usahanya," sahut Nisa.


Nisa menjadi teringat apa yang terjadi dulu padanya, sungguh tak mudah baginya untuk bisa berada di posisi saat ini.


"Ibu kapan kembali lagi kesini?" Tanya sang ART.


"Kami belum tahu, Bi. Soalnya bapak masih kontrak bekerja di sana, jadi belum bisa kembali kesini," jelas Nisa kepada sang ART. Nisa terpaksa masih harus menitipkan rumah itu kepada sang ART.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka pamit pulang. Karena mereka ingin langsung main ke malioboro. Kini mereka sudah sampai di malioboro. Nisa dan Khanza langsung turun, sedangkan Abi harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Jika datang siang hari, pasti Nisa akan beli nasi gudeg yang terkenal di Yogyakarta. Berhubung sudah malam, Nisa memilih makanan lain.


Mereka langsung mencari tempat untuk sholat. Setelah sholat barulah mereka mencari tempat makanan pinggir jalan. Nisa lebih memilih makanan pinggir jalan, dibandingkan makanan restoran.


Pilihan mereka jatuh pada nasi angkringan. Nisa membeli nasi kucing teri dan nasi kucing ayam. Khanza pun memasang nasi kucing ayam dan teri. Hingga akhirnya Abi ikut memesan yang sama dengan istri dan anaknya. Tak lupa teh hangat tawar. Teh asli Jawa pastinya sangat berbeda rasanya.


"Besok mau ke rumah Fina jam berapa?" Tanya Abi di sela-sela kebersamaannya, sambil menikmati makan nasi kucing.


"Aku janjian jam 10.00 pagi. Paling besok jalan jam 09.00 ya dari rumah?" sahut Nisa dan Abi pun menganggukkan kepalanya.


Suasana Yogyakarta saat malam minggu tampak rame. Di hibur dengan pengamen jalanan, yang menyanyikan lagu-lagu yang enak di dengar. Langit begitu indah di pandang, bertaburan bintang-bintang di langit.


Cukup lama mereka di sana, menghirup udara malam hari. Nisa ingin menikmati hidupnya dulu, sebelum keduanya anak terlahir ke dunia. Tentunya, dia tak akan seperti malam ini. Mereka mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam sebuah foto. Nisa dan Khanza pun foto berdua.


Setelah merasa puas, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Nisa dan Khanza pun sudah mengantuk, ingin segera pulang. Sampai di rumah. Khanza tampak tertidur di mobil, selama perjalanan.


Akhirnya, mobil yang membawa mereka sampai di rumah orang tua Abi.


"Duh, Khanza tidur lagi. Coba aku bangunin dulu," ujar Nisa.


"Jangan kasihan! Biar Khanza aku yang gendong saja. Dia sedang nyenyak tidur," ujar Abi, dan benar saja. Abi langsung menggendong Khanza ke dalam.


Ternyata sang mama belum tidur, masih asyik menonton. Melihat sang anak menggendong Khanza, sang mama langsung menyuruh Abi membawa Khanza ke kamarnya. Agar Khanza tidur kembali di kamarnya.


Setelah mencium tangan sang ibu mertua, Nisa langsung pamit untuk ke kamarnya, dan sang ibu mertua mengiyakan. Karena dia pun ingin tidur bersama cucu dan juga suaminya.


Abi sudah menyusul sang istri ke kamar. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Abi melihat sang istri yang sudah berganti daster. Sungguh begitu menggoda, terlihat seksi. Dia berjalan menghampiri sang istri yang berniat naik ke ranjang untuk tidur.


"Yang, pengen. Pengen coba main di kamar aku," pinta Abi.


Padahal tadinya Nisa ingin tidur, dia sudah mengantuk. Tetapi dia tak mungkin menolak suaminya juga. Terlebih sang suami sekarang-sekarang ini sudah jarang mendapat jatah.


"Ya sudah, ayo! Aku soalnya sudah ngantuk," ujar Nisa dan Abi mengiyakan. Abi langsung membuka pakaiannya, dan melempar pakaiannya. Kemudian naik ke ranjang dan langsung menyerang sang istri. Dia langsung mencumbu Nisa dengan penuh kemesraan. Lidah mereka saling membelit satu sama lain.


Semakin lama ciuman itu semakin bergairah, semakin menuntut lebih. Tubuh Nisa pun sudah dalam keadaan polos. Malam ini akhirnya terjadi pergulatan panas di ranjang. Keduanya tampak menikmatinya. Suara desa*han mulai terlontar dari bibir keduanya.