Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keterkejutan Khanza


"Kita makan dulu ya! Mas laper, tadi setelah selesai praktek belum sempat makan," ujar Abi. Abi mengajak sang istri makan di depan rumah sakit.


"Kamu mau makan apa? Soto ayam, mie ayam, baso, nasi padang, atau apa?" Tanya Abi kepada sang istri.


Nisa tampak berpikir, apa yang ingin dia pesan. Hingga akhirnya, pilihannya jatuh pada soto ayam lamongan. Mereka memilih untuk makan dulu, sebelum menjemput Khanza di sekolahnya.


"Alhamdulillah kedua anak kita sehat. Mas sangat bersyukur. Semoga kamu pun selalu diberikan kesehatan," ucap Abi diaminkan oleh Nisa.


Tak lama kemudian makanan datang, mereka langsung menikmatinya. Abi memesan nasi padang memakai ayam bakar. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung ke sekolah Khanza.


Kini mereka berdua sudah berada di sekolah Khanza, untuk menjemput Khanza. Abi memilih meninggalkan motornya di rumah sakit, demi bisa pulang bersama anak dan istrinya.


Jam bel pulang berbunyi, Nisa langsung turun dari mobil dan menunggu di depan kelas Khanza. Melihat sang bunda, Khanza pun langsung mencium tangan sang bunda. Nisa menggandeng tangan sang anak menuju parkiran mobil.


"Ada Papa juga Bun?" Tanya Khanza.


"Iya, tadi papa nemenin bunda periksa dede bayi. Setelah itu, baru ke sini," sahut Nisa.


Nisa memutuskan untuk tidak membahas terlebih dahulu tentang pertemuan dia tadi dengan Reynaldi.


Khanza langsung mencium tangan sang papa. Khanza sangat menyayangi Abi, seperti ke papa kandungnya sendiri. Abi melajukan kembali kendaraannya.


"Kakak mau makan apa?" Tanya Abi kepada sang anak.


"Apa ya? Bingung. Bunda mau makan apa?" Tanya Khanza kepada sang bunda.


"Bunda tadi sudah makan soto ayam, sekalian nemenin papa makan di depan rumah sakit," sahut Nisa.


"Enggak apa-apa Bun makan lagi. Biar sehat. Nanti juga papa makan lagi," ujar Abi sambil terkekeh.


"Gimana Bun tadi periksanya? Dede sehat 'kan bun?" tanya Khanza.


"Ya, Alhamdulillah dede sehat," sahut Nisa.


Suasana terasa hening, tak ada pembicaraan lagi. Namun, tak lama kemudian lanjut lagi. Nisa dan Abi menanyakan tentang sekolah Khanza.


Setelah makanan datang, mereka langsung makan. Khanza terlihat makan dengan lahap. Nisa ikut senang melihat Khanza senang.


"Setelah makan, ada yang mau di beli enggak?" Tanya Abi.


Khanza dan Nisa tampak kompak, keduanya menjawab tidak. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen.


Nisa atau pun Abi masih menutup rapat pertemuan dengan Rey. Setelah sampai di apartemen. Khanza langsung berganti pakaian, dia belum mau mandi karena masih ingin bersantai menonton televisi.


"Ka, sebenarnya ada yang ingin Bunda bicarakan sama kamu," ujar Nisa yang menghampiri sang anak. Nisa langsung duduk di sebelah sang anak.


"Bunda memangnya mau bicara apa?" Tanya Khanza yang kini menatap serius ke arah sang bunda.


Nisa sempat terdiam.


"Ngomong saja bun, aku ingin tahu," pinta Khanza sedikit memaksa. Dia menjadi penasaran dengan apa yang sang bunda ingin bicarakan sama dia. Hingga akhirnya Nisa mengatakan kalau dia tadi bertemu di rumah sakit dengan ayahnya Khanza. Nisa juga mengatakan kalau ayah Rey bekerja di rumah sakit tempat sang bunda periksa, sebagai cleaning service.


Khanza terkejut mendengarnya. Merasa tak percaya.