Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pegawai Biasa


"Rey ingin menjual mobil Ma untuk biaya hidup kita," ungkap Rey lesu.


"Kalau dijual, nanti kita naik apa Ay?" tanya Viona yang akhirnya ikut bicara.


"Nanti aku beli motor saja untuk transportasi sehari-hari kalau keluar rumah. Aku terpaksa Ay, daripada kita enggak makan," jelas Rey.


Tambah parah saja kehidupan Rey. Membuat Viona bertambah lesu. Wajahnya semakin tua tak terurus. Wajahnya terlihat tak ceria. Dia menjadi orang yang sangat posesif dengan Rey, dia takut kalau Rey akan meninggalkan dirinya.


Rey merasa senang. Setelah sekian lama menganggur, akhirnya dia mendapatkan panggilan interview. Dia berharap, bisa segera bekerja kembali. Rey sudah terlihat rapi, dan siap untuk berangkat ke perusahaan tempat dia akan melakukan interview. Dia terlihat percaya diri.


"Bagaimana Rey interview kamu? Apa kamu di terima kerja?" tanya Mama Ratih kepada sang anak.


Rey baru saja sampai di rumah, setelah cukup lama menganggur. Akhirnya dia bisa bekerja kembali. Dia sudah di terima di perusahaan perdagangan, tetapi hanya sebagai pegawai biasa. Awalnya Rey sempat ingin menolak, karena gaji di perusahaan itu hanya 4 juta. Tentu saja sangat jauh dengan gaji dia dulu, saat bekerja menjadi manager.


Namun, Rey terpaksa menerimanya. Karena tabungannya sudah menipis. Dia juga sudah tak mempunyai mobil, sehari-hari dia hanya sepeda motor yang dia beli dari hasil menjual mobilnya.


"Iya Ma, aku sudah di terima. Mulai besok, aku sudah bisa bekerja. Tetapi gajinya sangat kecil, karena aku hanya bekerja sebagai pegawai biasa. Gajinya hanya 4 juta," jelas Reynaldi.


"Apa? 4 juta? Cukup untuk apa gaji segitu?" ucap Mama Ratih terkejut. Bagi mereka, gaji segitu sangat sedikit, karena gaji Rey dulu puluhan juta.


"Rey juga terpaksa Ma, daripada kita enggak makan. Tabungan Rey untuk kehidupan sehari-hari kita, sudah menipis. Awalnya, Rey juga ingin menolak. Karena harus bekerja menjadi pegawai rendahan seperti itu," sahut Rey.


Rey pamit kepada sang Mama untuk ke kamarnya. Bukannya bersyukur, karena sang anak bisa bekerja lagi. Mama Ratih justru semakin menyalahkan Nisa, yang membuat kehidupan mereka menderita seperti sekarang.


"Kamu sudah pulang, Ay? Gimana? Diterima?" tanya Viona yang baru saja selesai mandi.


Sama halnya dengan Mama Ratih, Viona juga terkejut mendengar gaji Rey hanya 4 juta. 1 juta untuk transport dia bekerja, 3 juta untuk kebutuhan di rumah.


"Gaji segitu, kapan bisa seperti dulu lagi," sindir Viona.


"Kamu itu! Bukannya bersyukur, malah mencibir gaji suami. Harusnya kamu bersyukur! Meskipun enggak seberapa, tetapi kita tak akan kelaparan. Belajar menghargai uang, atur sebaik mungkin. Kamu kira aku tak tertekan menerima tawaran ini? Aku juga awalnya ingin menolak. Dulu seorang manager, sekarang bagian gudang. Mengurus keluar masuk barang," ungkap Reynaldi.


"Harusnya kamu sadar! Siapa yang membuat kamu seperti ini? Kalau saja mantan istri kamu tak melaporkan kamu, kita tak akan hidup menderita seperti ini," cerocos Viona.


"Sudah! Sudah! Aku tak mau bahas lagi! Aku yakin dia juga mendapatkan balasannya. Dia pasti hidup menderita, dan harus membiayai Khanza sendiri. Karena aku tak akan pernah memberikan uang untuk Khanza. Semua itu karena kesalahan ibunya, yang membuat ayahnya harus kehilangan pekerjaannya.


"Bagus deh, kalau kamu seperti itu. Biar tahu rasa dia," ucap Viona tersenyum puas.


Bunda Anita sudah di perbolehkan pulang. Namun, dia mulai melakukan cuci darah kembali. Setiap minggu Nisa yang mengantarkan sang bunda ke rumah sakit.


Nisa sudah memutuskan untuk berhijab. Memakai pakaian syar'i. Membuat dia semakin cantik.


"Ibu tak perlu berterima kasih. Berkali-kali Nisa katakan. Semua ini sudah menjadi tanggung jawab seorang anak untuk mengurus ibunya. Banyak manfaat yang Nisa rasakan dari perceraian ini. Hati Nisa menjadi lebih tenang, Nisa juga bisa mengurus Bunda, dan satu lagi. Nisa sekarang sudah berhijab. Nisa yakin kalau semua ini sudah di atur Allah. Allah sangat tahu, apa yang terbaik untuk Nisa," ucap Nisa.


Aura Nisa semakin terpancar, dia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dengannya, dan bangkit dari keterpurukan. Obrolan mereka harus terhenti, karena kini giliran Bu Anita yang harus melakukan cuci darah.


"Kamu semakin cantik saja, menggunakan hijab seperti itu," tanpa sadar Dokter Abimanyu memuji Nisa, bahkan terlihat senyuman di sudut bibirnya tak kala melihat wanita cantik di dekatnya.


Bunda Anita tersenyum, kala melihat Dokter Abimanyu memandang wajah anaknya tak biasa.


"Ehem. Dokter sudah memiliki istri belum?" goda Bunda Anita. Hubungan Bunda Anita dengan Dokter Abimanyu terbilang dekat.


Dokter Abimanyu tampak grogi tak kala mendengar penuturan Bunda Anita.


"Emmm, belum Bu. Saya sudah lama menduda, sampai saat ini belum menemukan wanita yang pas," jelas Dokter Abimanyu. Sedangkan Nisa justru terlihat cuek. Karena dia memang belum terpikir untuk menjalin hubungan lagi dengan laki-laki manapun. Masih memiliki rasa trauma akan sebuah pernikahan.


"Oh, sudah memiliki anak Dok?" tanya Bunda Anita lagi.


"Belum. Kami belum sempat memiliki anak," sahut Dokter Abimanyu.


"Bunda ingin tahu saja kehidupan Dokter Abimanyu," sindir Nisa.


"Enggak apa-apa ya Dok? Kali aja, Ibu 'kan bisa mencarikan jodoh untuk Dokter," ucap Bunda Anita dan Dokter Abimanyu hanya tersenyum.


Hubungan Viona dengan Reynaldi semakin tak harmonis. Viona kerap merasa cemburu dengan Reynaldi. Dia takut kalau apa yang Reynaldi lakukan saat ini, seperti yang Reynaldi lakukan dulu kepada Nisa.


"Kamu selingkuh ya?" tuduh Viona. Dia terlihat sangat marah. Masa lalu di khianati, dan pernah menjadi pelakor membuat Viona merasa tak tenang. Kenangan buruk masa lalunya kepada Reza muncul, dan juga saat Rey berselingkuh dengannya.


"Kamu ini apa-apaan sih? Suami, baru pulang bekerja, malah di tuduh selingkuh. Aku ini lembur, untuk mencari tambahan. Suami pulang tuh, ditanya mau makan tidak atau di siapkan teh manis hangat. Bukan malah di tuduh. Aku ini capek. Capek bekerja, capek di jalan, capek pikiran, di tambah lagi kamu seperti ini. Lama-lama aku lelah berhubungan sama kamu," cerocos Reynaldi. Hingga akhirnya Reynaldi memilih untuk pergi meninggalkan Viona ke kamarnya.


"Benar yang dikatakan Rey. Suami itu harus diperhatiin, jangan sampai Rey mencari perhatian dari wanita lain. Suami berjuang keras, malah di tuduh selingkuh. Pikiran jangan kotor, lebih baik layani suami dengan baik," sindir Mama Ratih membuat Viona merasa kesal.


"Ah, lama-lama gue bisa gila terus menerus seperti ini. Wajar dong gue berpikir seperti ini? Karena Rey dulu pernah selingkuh sama gue, dan gue enggak mau hal yang terjadi sama Nisa dulu, terjadi sama gue. Aaahh, kesal gue. Kenapa gue selalu dihadapkan dengan posisi seperti ini. Reza yang dulu begitu mencintai gue dan laki baik-baik aja, dia bisa tergoda sama ulat keket si Meli," Viona bermonolog.


Hari ini hari Minggu, jadwalnya untuk Abi beristirahat. Hari Sabtu dan Minggu, Abi memilih untuk libur, kecuali jika ada pasiennya kritis dan membutuhkan dia. Dia terpaksa harus datang. Perceraian dengan Viona, mengajarkan dia banyak hal. Dia memutuskan untuk tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kelak jika dia menikah lagi. Dia tak akan memiliki permasalahan seperti ini lagi.


Abi terpaksa membuka matanya, saat itu jam menunjukkan pukul 09.00 pagi WIB. Setelah sholat subuh, dia memutuskan untuk tidur lagi. Waktu untuknya bersantai. Karena sore dia harus Gym. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk berolahraga. Meskipun dia harus membutuhkan waktu 1 jam untuk ke tempat gym yang berada di pusat kota. Saat ini Dokter Abi menempati rumah yang disediakan oleh pemerintah daerah. Karena rumah orang tuanya berada di kota Yogya. Dia harus menempuh 1-1,5 jam untuk ke rumah orang tuanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di dekat rumah sakit dia bekerja.