
Hari terus berlalu, sudah lima hari Melani belum sadarkan diri. Reynaldi masih terus setia mendampingi istrinya di rumah sakit. Reynaldi menyuruh Lina pulang ke Indonesia, karena dia sendiri yang akan mengurus istrinya di rumah sakit.
Reynaldi lebih memprioritaskan kesembuhan istrinya, daripada pekerjaan dia di Jakarta. Dia ingin, istrinya segera siuman dari komanya. Setiap harinya, Reynaldi selalu membisikkan kata cinta kepada istrinya. Dia juga membersihkan tubuh istrinya yang seperti sebuah patung, agar selalu bersih. Bukan itu saja, dia juga kerap melantunkan ayat suci Al-Quran di dekat telinga istrinya. Tapi sayangnya, semua tak ada artinya. Sang istri, sampai saat ini belum juga membuka matanya.
"Bangunlah, Sayang! Aku merindukan kamu!" ucap Reynaldi kepada sang istri.
Reynaldi tampak menggenggam tangan Melani, masih terus berharap. Kalau sang istri akan segera membuka matanya. Dia merasa sedih, melihat sang istri yang hanya terdiam seperti sebuah patung.
Sampai akhirnya, Reynaldi tertidur sambil memegang tangan istrinya. Selama dia menjaga istrinya di rumah sakit. Reynaldi tak bisa tidur dengan nyenyak. Tubuhnya sudah sangat lelah. Namun, tak sedikitpun dia ingin pergi meninggalkan istrinya. Tubuhnya pun terlihat kurus, karena dia menjadi tak nafsu makan.
Dia tertidur cukup lama. Sampai akhirnya, Reynaldi membuka matanya kembali. Saat dia membuka matanya, sang istri masih saja menutup matanya.
"Selamat sore, Pak. Gimana istrinya? Sudah ada perubahan belum?" tanya sang dokter yang menangani Melani.
"Belum, Dok! Masih sama aja, belum ada perubahan. Gimana ya Dok, solusinya? Apa perlu dilakukan tindakan operasi? Untuk membuang sel-sel kanker," ucap Reynaldi.
Akhirnya, Reynaldi dan sang dokter sepakat untuk mengoperasi Melani. Reynaldi langsung mengurus administrasinya. Reynaldi sudah menghubungi orang tua Melani, dan meminta mereka untuk datang ke Singapura. Untuk melihat kondisi sang anak. Hari ini kedua orang tua Melani akan datang. Reynaldi tak ingin nantinya akan menjadi masalah.
"Sayang, kamu akan segera di operasi. Semoga saja, kamu bisa segera sehat. Aku sayang sama kamu. Aku tak peduli, meskipun kamu botak. Rasa cintaku kepada kamu begitu besar," ucap Reynaldi di telinga sang istri.
Orang tua Melani baru saja datang. Sang ibu mertua langsung nangis saat datang, saat melihat kondisi sang anak. Mereka kaget, tak menyangka kalau sang anak seperti ini. Selama ini Melani tak pernah menceritakan penyakit yang dia derita.
"Mel, mengapa kamu gak bilang tentang penyakit kami?" Sama halnya dengan Reynaldi. Sang mam pun menyayangkan kenapa Melani merahasiakan penyakitnya.
"Bangun, Sayang! Kasihan Reynaldi, dia begitu menyayangi kamu. Dia begitu terpukul, melihat kondisi kamu seperti ini. Katanya, kamu ingin memiliki anak, memiliki keluarga kecil? Beberapa jam lagi kamu akan di operasi. Semoga kamu bisa sembuh dari penyakit kamu! Mama dan papa sayang kamu," ucap sang mama.
Terlihat kesedihan di wajah sang mama. Anak yang selama ini tak pernah mengeluh sakit, anak yang selama ini semangat bekerja, dan anak yang selalu mandiri. Hari ini, terbaring lemah tak berdaya. Besar harapan mereka, setelah operasi Melani akan sehat kembali. Kedua orang tua Melani, memberi kekuatan untuk Reynaldi.