Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Tinggal Di Rumah Melani


Melani sudah terlihat cantik, dia sudah bersiap-siap untuk sarapan pagi. Sedangkan Reynaldi baru saja selesai mandi. Dia keluar hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Dia lupa tak menyiapkan pakaiannya. Menikah dengan Melani tentu saja sangat berbeda, saat dirinya menikah dulu dengan kedua mantan istrinya. Terlebih lagi, saat menikah dengan Nisa.


Nisa selalu memperhatikan dirinya. Mulai dari menyiapkan pakaiannya dan juga melayani dirinya di meja makan. Nisa pun sangat pintar memasak, dan merupakan istri yang baik. Semua murni kesalahannya, yang menyia-nyiakan Nisa. Pernikahannya yang sekarang pastinya sangat berbeda, Melani tak akan mau menyiapkan pakaiannya. Apalagi memasak makanan untuknya. Dia pun harus mengambil makanan sendiri, karena istri barunya tak akan pernah melakukan itu kepadanya.


"Hei, mengapa kamu bengong?" Panggil Melani.


"Ah, tidak! Aku hanya kepikiran Mamaku," ucap Reynaldi berbohong. Dia tak mungkin mengatakan apa yang dia rasakan sebenarnya. Dia tak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu, dan dia tak ingin berdebat.


Reynaldi harus memahami istri barunya itu. Melani seorang yang kaya raya. Selama ini, dirinya selalu dilayani. Pernikahan dirinya masih sangat baru, dia hanya butuh waktu untuk memahami sikap sang istri. Lagi pula, dia bisa melakukannya sendiri. Istri bukanlah seorang pembantu, yang harus selalu melayani dirinya.


"Ya, sudah! Cepat pakai pakaian kamu! Ayo kita makan keluar! Aku sudah lapar," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.


Reynaldi langsung bergegas memakai pakaian, sambil memperhatikan gerak gerik sang istri yang saat itu sibuk memainkan ponselnya. Melani terlihat cuek kepadanya. Lagi-lagi dia harus menghilangkan perasaan itu. Dia tak boleh terlalu mendramatisir keadaan.


"Ayo!" ajak Reynaldi. Dia sudah terlihat rapi. Dalam hal berpakaian pun, dia harus memantaskan istrinya itu. Melani sangat berkelas, dia harus memperhatikan penampilan.


Reynaldi menggandeng tangan Melani, dia berusaha bersikap mesra kepada sang istri. Meskipun dirinya masih merasa kaku. Reynaldi merasa, kalau mereka saat ini menjadi pusat perhatian orang-orang. Entah apa yang salah dari mereka, Reynaldi berusaha untuk cuek. Reynaldi baru menyadari, kalau menikah dengan Melani tak seindah dalam bayangnya. Beban mental untuknya.


Mereka kini sudah di meja makan sedang menikmati sarapan pagi. Reynaldi sempat terkejut, saat Melani menyuruh dia mengambilkan air putih. Tetapi akhirnya, dia mencoba memahaminya. Dia pun pernah melakukan itu kepada Nisa dan juga Viona. Tapi mengapa, dia merasa kalau Melani lebih terkesan memerintah dirinya.


"Nanti Mama kamu di jemput supir saja ya! ART kamu suruh persiapkan semua barang-barangnya! Aku ada pertemuan dengan teman-teman sosialita aku, aku lupa kemarin, dan sekarang baru ingat," ucap Melani dengan santainya. Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya.


Dia tak mungkin protes. Ingin rasanya dia protes. Mereka itu baru menikah, dan ternyata bagi Melani sang Mama tak penting baginya. Dia lebih memilih untuk pergi berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Reynaldi hanya bisa memendam dalam hati. Yang terpenting baginya, sang Mama bisa tinggal di rumah yang layak, dan dia bisa tetap mendapatkan penghasilan.


"Sebentar ya, aku terima telepon dulu!" ucap Melani. Dia memotong pembicaraan Reynaldi, karena ingin menerima panggilan telepon dari circlenya. Reynaldi hanya bisa memandang wajah sang istri, yang asyik berbincang dengan circlenya.


"Iya tenang, gue pasti datang! Jam 11.00 siang 'kan? Ya sudah, sampai bertemu nanti ya! Babay ...," ucap Melani. Untungnya, percakapan itu tak lama. Tak ada sedikitpun permintaan maaf dari Melani. Dia pun tak meminta persetujuan Reynaldi lebih dulu, sebagai seorang suami. Reynaldi merasa tak di anggap. Namun, dia harus berusaha untuk sabar.


"Kamu mau pergi ninggalin aku?" Tanya Reynaldi dengan sangat hati-hati.


"Loh, emangnya kenapa? Kok bicaranya seperti itu? Aku 'kan sudah pernah bilang sama kamu, kalau aku paling enggak suka di kekang, dan aku pun enggak akan mengekang kamu! Memangnya, kamu keberatan aku tinggal?" Tanya Melani yang kini sedang menatap Reynaldi serius.


"Emmm, aku kira ...," ucap Melani.


Reynaldi pamit kepada Melani ingin menghubungi sang ART, untuk menyiapkan semua pakaian sang mama. Reynaldi akan membawa serta sang ART untuk tinggal di rumah Melani. Dia ingin sang Mama tetap terurus, untungnya dia sudah memiliki orang kepercayaan,


"Assalamualaikum, Bi. Tolong Bibi siapkan semua barang-barang kamu dan juga Mama Saya ya! Hari ini akan ada yang jemput kalian. Kalian akan tinggal bersama Saya di rumah istri Saya! Nanti Saya kabari lagi, jika supir istri Saya akan menjemput kalian ya!" Pesan Reynaldi kepada sang ART.


Setelah melakukan panggilan dengan sang ART, Reynaldi kembali lagi ke meja tempat mereka makan. Melani langsung mengajaknya pulang, karena dia ingin ke salon dulu sebelum datang ke acara perkumpulan nanti. Reynaldi hanya mengiyakan, dan menelan salivanya. Dia tak mungkin protes.


"Nanti kamu langsung pulang saja ya! Aku langsung ke Salon. Takutnya kamu kelamaan, kalau ikut," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.


Mereka langsung kembali ke kamar, dan merapikan barang-barang mereka. Lagi-lagi Melani memerintah Reynaldi, seharusnya semua itu Melani yang merapikannya, dan ini justru dia yang disuruh merapikan barang-barang yang mereka bawa.


Kini keduanya sudah dalam perjalanan pulang. Reynaldi sesekali melirik ke arah sang istri yang sibuk memainkan ponselnya, sibuk dengan dunianya. Tak mempedulikan kehadiran dirinya. Reynaldi tak mungkin menegurnya. Dia hanya bisa diam, dan menahan perasaannya.


Mereka sudah sampai di depan sebuah salon yang mewah. Melani pamit untuk turun, dan meminta sang suami tak usah menunggu dirinya, karena kemungkinan dia tak pulang dulu ke rumah. Dia akan langsung ke tempat pertemuan.


"Nanti Ibu kamu di jemput, setelah Hasan mengantarkan aku ke tempat acara ya! Atau mungkin Ibu kamu mau di jemput sekarang? Sebelum Hasan mengantar aku," ucap Melani.


"Nanti aku coba tanya dulu ya, mereka sudah siap apa belum. Kalau sudah, biar Pak Hasan jemput Ibu dulu," sahut Reynaldi.


"Ya sudah, nanti kamu tinggal kasih tahu Pak Hasan saja ya! Tetapi aku minta, Jam 10.00an dia sudah sampai di sini lagi. Aku enggak mau datang telat," ucap Melani.


"Kalau seperti itu, enggak akan keburu. Takutnya, jalanan macet. Ya sudah, nanti saja jemput Mamanya, kalau Pak Hasan sudah mengantar kamu. Mama 'kan bisa santai, bisa kapan saja. Kalau kamu 'kan enggak bisa telat. Sekarang juga, Pak Hasan enggak usah nganter aku ke rumah! Waktunya enggak akan keburu. Kasihan Pak Hasan juga, jadi bolak-balik. Aku pulang naik ojek online saja tak apa-apa," ucap Reynaldi. Dia tak ingin nantinya Melani akan menyalakan, karena Pak Hasan telat datang.


"Oh, gitu. Ya, sudah! Yakin kamu tak apa-apa pulang naik ojek online?" Tanya Melani untuk memastikan.


"Iya, tak apa-apa," sahut Reynaldi. Dia memang tak apa-apa, tetapi dia merasa kecewa dengan sikap istrinya yang tak menghargai dirinya sebagai seorang suami.