Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Memulai Aktivitas Kembali


Kondisi Melani semakin membaik. Sudah tiga bulan lamanya dia melakukan pemulihan. Hari ini dia ingin kembali bekerja. Dia sudah merindukan perusahaan yang selama ini dia perjuangkan. Melani sudah terlihat cantik dengan balutan busana muslimah, dan menggunakan jilbab. Dia merias wajahnya dengan riasan natural. Agar tak terlihat pucat. Dia ingin terlihat cantik, agar suaminya tak berpaling darinya.


"Ayo kita sarapan! Aku sudah selesai," ajak Melani dan Reynaldi langsung menghentikan permainannya. Dia langsung bangkit dari sofa, dan berjalan keluar bersama sang istri.


Kini mereka sudah di meja makan, untuk menikmati sarapan pagi. Setelah operasi, Melani tak lagi merasa sakit. Rambutnya pun sudah mulai tumbuh kembali. Wajahnya juga sudah terlihat segar. Setelah selesai makan, Melani dan Reynaldi pamit kepada Mama Ratih. Mama Ratih merasa bahagia, karena akhirnya sang anak bisa hidup bahagia.


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju perusahaan. Mereka sepakat tak menggunakan jasa supir pribadi. Reynaldi yang menyetir mobil sendiri. Agar mereka bisa bebas bermesraan di dalam mobil.


"Yang, aku ingin ikut promil. Agar aku bisa segera hamil. Usiaku semakin tua. Resiko melahirkan secara normal, sangat tinggi. Gimana, kamu setuju gak?" Melani mengungkap keinginannya kepada Reynaldi.


"Iya, Sayang. Aku setuju saja. Namun yang terpenting bagi aku, kamu harus sehat dulu," jawab Reynaldi.


"Aku sudah sehat kok. Tak ada keluhan lagi. Makanya, aku sudah memberanikan diri untuk hamil," jelas Melani.


Akhirnya, Reynaldi setuju, dan mengikuti keinginan istrinya untuk promil. Mereka sepakat mendatangi dokter kandungan Sabtu ini. Ingin melakukan tes kesuburan, berkonsultasi dengan dokter untuk promil.


Mereka sudah sampai di perusahaan. Melani turun lebih dulu, sedangkan Reynaldi harus memarkirkan mobil terlebih dahulu. Semua karyawan yang berpapasan dengan Melani, langsung menundukkan kepalanya. Ada juga yang berbasa-basi menanyakan kondisinya saat ini. Penampilan Melani saat ini, sangat berbeda. Dulu yang mereka kenal, bosnya itu kerap berpenampilan seksi dan glamor. Sekarang Melani memakai pakaian syar'i. Memakai gamis dan juga jilbab. Dia tampak tersenyum ramah.


"Bu Melani beda banget ya sekarang penampilannya. Ramah lagi, gak sombong. Benar-benar berubah. Senang melihatnya," ucap seorang karyawannya.


"Iya, alhamdulillah. Mungkin, karena kemarin dia sempat mengidap penyakit mematikan. Makanya, dia insyaf. Mumpung dikasih kesempatan untuk hidup. Pak Reynaldi, berhasil bisa membawa pengaruh positif untuk Bu Melani," sahut karyawan lainnya.


Reynaldi dan Melani kini sudah berada di ruangan Melani. Reynaldi tampak sedang menunjukkan laporan kepada istrinya. Tanpa diminta istrinya, dia sudah langsung memberikannya kepada sang istri. Selama ini, dia selalu bersikap jujur. Tak korupsi, meskipun perusahaan itu milik istrinya sendiri.


Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setelah bekerja selama dua jam, kini saatnya Melani beristirahat. Di dalam ruangannya, terdapat sebuah kamar untuk dia beristirahat. Melani mengajak sang suami, untuk menemaninya.


"Tapi, pekerjaan aku belum selesai. Kalau kamu merasa lelah atau mengantuk, kamu istirahat saja dulu! Nanti aku nyusul ya," Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


"Sudah, tinggalkan saja dulu pekerjaan kamu! Temani aku dulu, di kamar!" pinta Melani.


Hingga akhirnya, mau tak mau dia menuruti permintaan istrinya. Selama Melani sakit di Singapura, sampai sekarang. Mereka belum pernah berhubungan suami istri lagi. Reynaldi merasa tak tega, untuk memintanya kepada sang istrinya. Dia lebih memilih menahan hasratnya.


Reynaldi melepaskan sepatu yang dia kenakan saat itu, dia juga merenggangkan dasinya. Setelah itu, dia langsung naik ke ranjang. Berbaring di sebelah istrinya. Melani terlihat sudah membuka jilbab yang dia gunakan. Menunjukkan kepalanya yang sudah mulai memiliki rambut.


"Aku kangen. Sudah lama juga kita gak bercinta. Kamu kepengen gak?" ujar Melani kepada sang suami.


"Iya. Tapi, memangnya sudah boleh? Aku merasa tak tega melihat kondisi kamu. Kalau nurutin kepengen sih, aku gak munafik. Aku laki-laki normal. Namun, aku tak ingin menjadi suami yang egois. Aku juga harus melihat kondisi kamu. Aku mencintai kamu, bukan hanya sekadar naf*su belaka," jelas Reynaldi.


Melani tampak tersenyum kala mendengar pernyataan suaminya.


"Ya sudah, kalau begitu. Sekarang saja, gimana? Aku sudah sehat kok. Kamu tak perlu mengkhawatirkan kondisi aku lagi," Melani meyakinkan sang suami, kalau mereka bisa bercinta lagi.


"Kamu yakin itu?" tanya Reynaldi kembali, untuk memastikannya kembali. Melani menundukkan kepalanya, sebagai tanda kalau apa yang dia katakan benar.