Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Di pecat


"Reynaldi, sekarang juga kamu ke ruang saya!" titah Pak Adrian Di panggilan telepon.


"Tumben Pak Adrian bicaranya serius banget, kenapa ya? Perasaan aku tak punya kesalahan apapun sama dia," gumam Reynaldi.


Hari ini Reynaldi sudah mulai masuk kerja, setelah dia cuti dengan alasan ada acara keluarga. Padahal dia cuti, karena ingin menikmati masa pengantin baru dengan istri baru. Hari ini dia di kejutan dengan pemecatannya di perusahaan yang selama ini memberikan penghasilan cukup fantastis. Posisi dia di sana adalah manager sekaligus merangkap orang kepercayaan Pak Adrian.


"Permisi Pak," ucap Reynaldi saat membuka pintu ruangan Pak Adrian. Tak lupa dia mengetuk pintu ruangan Pak Adrian terlebih dahulu.


"Silahkan duduk!" Pak Adrian menyuruh Reynaldi, tatapan matanya terlihat tajam dan wajahnya tampak serius. Melihat Reynaldi menjadi tegang. Jantungnya berdegup dengan cepat. Reynaldi tak berani menatap wajah Pak Adrian yang begitu menakutkan. Bahkan ini hal pertama kali Reynaldi lihat.


"Ini surat pemecatan untuk kamu! Mulai hari ini kamu saya pecat dari perusahaan ini," ucap Pak Adrian tegas. Membuat Reynaldi langsung mengangkat kepalanya dan menatap Pak Adrian. Jantungnya seakan terhenti seketika. Dadanya terasa sesak, dia terlihat shock.


"Memangnya saya salah apa, sampai Bapak memecat saya? Selama ini saya selalu berusaha melakukan pekerjaan dengan baik, tak membuat Bapak kecewa," ucap Reynaldi, dia mencoba membuat pembelaan. Tentu saja dia tak terima melepaskan posisi yang begitu membanggakan begitu saja.


"Saya tak butuh seorang pengkhianat yang tega menelantarkan anak dan istrinya. Lebih baik sekarang kamu bereskan semua barang-brang kamu! Saya sangat kecewa dengan kamu. Saya kira kamu bisa membuat Nisa bahagia, saya menyesal menyuruh kamu untuk mencintai Nisa. Saya ingin kamu menyesal, karena telah membuang sebuah berlian," jelas Reynaldi.


Ucapan Pak Adrian membuat dia melongo. Ternyata Nisa yang membuat dia di pecat dari jabatan emasnya. Tentu saja hal itu membuat Reynaldi merasa kesal. Dia terlihat sudah mengepalkan tangannya. Pak Adrian pun bisa membaca gelagat kemarahan dari Reynaldi.


"Tak perlu menyalahkan Nisa, dia tak salah. Dia hanya tak rela membiarkan istri baru kamu menikmati perjuangan kamu sama dia. Harusnya kamu sadar, siapa yang membuat kamu berada di posisi itu? Dia adalah Nisa, istri pertama kamu. Istri yang selalu mendukung kamu dan mendoakan kamu setiap hari, agar kamu berada di posisi kemarin. Selamat berjuang dengan istri baru kamu, semoga dia bisa mengantarkan kamu ke dalam kesuksesan seperti yang pernah Nisa lakukan kepada kamu," sindir Pak Adrian.


Mau marah pun, dia tak bisa. Ini sudah menjadi keputusan pemilik perusahaan. Pak Adrian tak pernah takut ataupun kehilangan Reynaldi, orang yang selama ini dia percaya. Rasa kecewanya terlalu besar, lagi pula posisi Reynaldi kemarin karena ada andil Nisa. Nisa yang merekomendasikan suaminya, dan Pak Adrian yakin kalau Reynaldi seperti kemarin karena dia bersama orang yang tepat, tak yakin istri barunya akan menuntunnya ke jalan yang benar.


Reynaldi keluar meninggalkan ruangan Pak Adrian dengan penuh kecewa. Wajahnya terlihat lesu. Tak bersemangat. Dia bingung memikirkan kehidupan selanjutnya, dan harus berjuang mencari pekerjaan baru, untuk menafkahi istrinya dan juga mamanya.


"Nisa, kamu keterlaluan! Kau hancurkan karierku! Aku kecewa banget sama kamu. Ternyata diam-diam kamu jahat ya, sifat kamu enggak baik. Tampang saja alim, lembut, ternyata di belakang aku kamu menusuk. Aku tahu kalau kamu kecewa sama aku, tapi aku enggak nyangka kamu berbuat senekat itu. Kamu yang buat aku kehilangan pekerjaan, jangan salahkan aku jika aku tak bisa nafkahi Khanza. Kamu yang ajak aku berperang. Aku kecewa banget sama kamu, Nis," ucap Reynaldi meluapkan perasaannya saat itu.


Reynaldi pergi meninggalkan perusahaan, tempat dia bekerja selama 10 tahun. Yang membawanya ke titik kesuksesan, dan hari ini dia akan melepasnya. Pak Adrian langsung menghubungi Nisa, memberitahu kalau dia sudah menepati janjinya untuk memecat Reynaldi dari perusahaannya.


Kini Reynaldi sudah dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Menangis pun rasanya tak bisa, dia masih merasa semuanya seperti sebuah mimpi. Harapannya hancur satu persatu. Perselingkuhan membuat rumah tangganya hancur, dan sekarang kariernya pun hancur.


"Puas kamu Nis membuat aku kehilangan pekerjaan? Menghancurkan hidup aku?"


"Entah aku harus bahagia atau kasihan mendengar kamu sudah di pecat dari perusahaan tempat kamu bekerja. Semoga kamu bisa menyadari apa yang selama ini kamu perbuat," ucap Nisa.


Reynaldi baru saja sampai di rumah, wajahnya terlihat lesu. Pakaiannya terlihat acak-acakan. Hilang sudah keangkuhan yang dia miliki. Dia langsung membanting tubuhnya untuk duduk di sofa. Mama Ratih yang melihat sang anak seperti itu, tentu saja merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan sangat anak. Dia langsung menghampiri sang anak dan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa Rey? Mengapa wajah kamu kusut sekali? Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?" tanya Mama Ratih yang kini menatap serius sang anak.


"Aku di pecat dari perusahaan. Nisa melaporkan aku kepada Pak Adrian kalau aku selingkuh dan menelantarkan dia dan juga Khanza," ungkap Reynaldi membuat Mama Ratih langsung terlihat marah.


"Dasar kurang ajar! Itu tuh wanita yang selama ini kamu puja-puja, dan akhirnya kamu merasa kecewa 'kan sama dia. Dari awal Mama sudah tak respect sama dia. Dia itu wanita bermuka dua, manisnya hanya di depan. Di belakang, nusuk kita. Dasar ular berkepala dua. Mama tak habis pikir, mengapa dia setega itu sama kamu. Mama tahu dia kecewa sama kamu, karena kamu menduakan dia. Tapi tak sepantasnya dia berbuat itu sama kamu. Sama saja dia menghancurkan hidup kamu. Ya sudah, kamu tak perlu kasih nafkah ke si Khanza! Biar mereka hidup menderita. Dasar wanita tak tahu diri," umpat Mama Ratih.


Mendengar keributan di bawah, Viona langsung turun menghampiri suami dan juga mertuanya di bawah. Dia pun akhirnya ikut bergabung dengan mereka.


"Ada apa Ay?" tanya Viona yang kini menatap suaminya serius.


"Itu, Vi. Si wanita itu melaporkan Reynaldi ke bosnya, dan sekarang Reynaldi di pecat dari pekerjaannya," jelas Mama Ratih membuat Viona merasa shock dan melongo. Dia terlihat diam seketika. Bayangan buruk tentang hidupnya langsung menari di pikirannya.


"Serius Ay? Apa yang Mama kamu bicarakan itu benar?" tanya Viona untuk meyakinkannya, dan Reynaldi tampak mengangguk kepalanya.


"Ya ampun Ay, terus hidup kita gimana kalau kamu tak bekerja? Kita makan apa? Aku jadi enggak bisa shopping dong, kalau kamu menganggur?" Viona bertanya apa yang menjadi kekhawatirannya. Mendengar penuturan Viona, tentu saja hal itu membuat Reynaldi tambah pusing dan kesal.


"Kamu itu, suami lagi pusing malah di tambahin. Bukannya di tenangkan, ini malah ribut enggak bisa shopping. Keterlaluan kamu. Sudahlah, aku pusing! Aku ingin sendiri dulu," ujar Reynaldi.


Dia langsung meninggalkan kedua wanita yang membuat dia pusing begitu saja. Dia memilih ke kamarnya.