
Nisa sudah terlihat mulai membaik dari sebelumnya, meskipun wajahnya masih terlihat murung. Rasa sedihnya belum bisa hilang sepenuhnya. Dia semakin saja membenci mertuanya.
Hari ini sang kakak berencana akan datang, untuk menengok kondisi dirinya. Sebagai seorang kakak, tentu saja Rania ikut merasa sedih. Masih dia ingat, bagaimana perjuangan Nisa selama ini untuk mempertahankan bayi itu.
"Sayang, Kak Rania hari ini jadi datang? Maaf ya aku tak bisa menemani kalian. Soalnya Andre mengajak aku bertemu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," ucap Reynaldi dan Nisa hanya mengiyakan.
Reynaldi pamit pergi, dan tak lupa mengecup kening Nisa sebelum dirinya pergi. Nisa sudah menjalankan kewajiban sebagai istri, meskipun belum sepenuhnya.
Berbagai alasan Reynaldi ucapkan, untuk bertemu dengan Viona. Dia berencana ingin menjemput Viona di rumah orang tua Viona. Reynaldi menunjukkan keseriusannya kepada Viona. Hubungan mereka kali ini terlihat lebih serius.
"Ma, Vi pergi dulu ya," ucap Viona kepada sang Mama dan juga papanya. Reynaldi pun ikut pamit dan mencium tangan calon mertuanya.
"Ma, memangnya Reynaldi belum menikah sampai sekarang? Kok mereka berhubungan lagi?" tanya sang papa. Saat yang anak sudah berangkat.
"Mama juga tidak tahu kalau urusan itu. Ya sudah biarkan saja dulu, Mama senang melihat Viona terlihat ceria kembali. Mungkin memang jodohnya Viona kali Pa. Menikah sudah dua kali, tetapi akhirnya sama si Reynaldi lagi ujung-ujungnya," ucap Mama Susan.
Viona dan Reynaldi kini sudah dalam perjalanan, selama perjalanan mereka tampak mesra.
"Ay, kedua orang tua kamu sudah tahu tentang hubungan kita? Mereka memangnya setuju, jika kamu menikah sama aku?" tanya Reynaldi kepada Viona.
"Hanya sekadar tahu, tetapi mereka tak tahu kalau kamu sudah menikah," sahut Viona.
Hari ini mereka berniat untuk menonton bioskop dan jalan-jalan ke Mall. Viona yang sekarang bukan hanya berniat merebut Reynaldi dari Nisa, dia juga kerap meminta uang dari Reynaldi. Membuat Reynaldi tak bersifat jujur dalam urusan uang kepada Nisa.
"Ay, aku boleh tidak minta dibelikan kosmetik. Kosmetik aku sudah mau habis," rayu Viona yang kini merangkul kekasihnya.
"Tentu saja boleh, Sayang! Apapun yang kamu minta, akan aku turuti," ucap Reynaldi sambil tersenyum.
"Makasih ya Ay, kamu memang paling the best. Membuat aku semakin cinta sama kamu," rayu Viona yang langsung mendaratkan kecupan di pipi kekasihnya.
Mereka kini sudah berada di pusat perbelanjaan yang berada di Jakarta. Viona tampak menggandeng mesra tangan Reynaldi. Viona tersenyum, kala melihat tas belanjanya sudah terisi dengan kosmetik yang dia inginkan.
"Ay, beli lingerie dong," pinta Reynaldi.
Kini mereka sudah berada di sebuah counter yang menjual pakaian dalam dan juga lingerie.
"Nanti pulang dari sini, langsung coba ya! Sudah lama, Ay," ucap Reynaldi dan Viona mengiyakan.
Sudah cukup lama Reynaldi tak berhubungan intim dengan Nisa, begitu juga dengan Viona. Hari ini dirinya meminta kepada Viona. Karena dirinya tak tega, jika meminta kepada Nisa.
Sebelum mereka ke kosan yang mereka sudah sewa. Mereka mampir dulu ke minimarket untuk membeli minuman dan cemilan. Viona mulai mengkonsumsi pil KB kembali, agar tak hamil.
"Sini dong Ay, tidur sama aku," pinta Reynaldi, saat melihat sang kekasih yang masih saja sibuk dengan ponselnya.
Tanpa basa basi, Reynaldi langsung membuka semua pakaian. Kemudian naik ke kasur. Reynaldi meminta Viona mengganti pakaiannya dengan lingerie di depannya.
"Gitu dong, biar aku semakin cinta," rayu Reynaldi saat Viona sudah tidur di sebelahnya.
"Bagaimana Nis, keadaan kamu sekarang? Apa masih nyeri?" tanya Kak Rania.
"Alhamdulillah Kak, hanya saja belum boleh mengangkat yang terlalu berat," ujar Nisa.
Selama ada Kakaknya Nisa, Mama Ratih memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Dia tak mau menemui kakaknya Nisa.
"Oh ya Kak, dapat salam dari Mas Reynaldi. Tadi dia sempat titip salam untuk Kakak, maaf tak bisa menemani," ungkap Nisa.
"Nis, hubungan kamu sama Reynaldi bagaimana sekarang? Apa dia masih suka selingkuh? Survey membuktikan, jika seorang suami pernah berselingkuh. Dia ada kemungkinan akan berselingkuh lagi. Kamu harus tetap waspada," ujar Kak Rania kepada sang adik.
Nisa menjelaskan kalau sang suami, sampai saat ini masih menunjukkan sikap baiknya. Berharap suaminya tak akan mengulangi kesalahannya dulu. Mengkhianati kepercayaannya lagi. Kata-kata sang kakak, membuat Nisa tersadar kembali. Akhir-akhir ini sang suami sudah mulai banyak alasan pergi.
"Semoga semua ini hanya ketakutan aku saja. Mas Reynaldi tak mungkin seperti itu lagi. Dia sudah tahu konsekuensinya, kalau sampai dia melanggar lagi," gumam Nisa dalam hati.
Padahal semua itu bukan sebuah ketakutan dirinya saja, suaminya memang seperti itu lagi. Selingkuh kembali, dan pada orang sama.
"Duh, lama banget si Kakaknya pulang," gerutu Mama Ratih. Padahal perut dia sudah terasa lapar. Hingga akhirnya dia memilih janjian dengan teman sosialitanya.
Mama Ratih sudah bersiap-siap untuk pergi. Dia sudah terlihat rapi. Dia keluar dengan menunjukkan wajah tak suka. Bahkan saat Riana menyapanya, dia bersikap cuek. Dia pergi begitu saja.
"Nis?" seakan Kak Riana bertanya, Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
Padahal Reynaldi bukan seorang kaya raya, hanya kaya biasa. Tetapi sang Mama bergaya seperti seorang konglomerat. Dia terlihat sombong.
"Kalau menurut Kakak, sebaiknya kamu pindah rumah Nis! Lebih baik hidup mandiri, meskipun memiliki rumah yang sederhana. Setelah menikah memang sebaiknya pisah dari mertua," ucap Kak Rania, mengingatkan sang adik.
"Iya Kak, aku juga sudah mencoba bicara dengan Mas Reynaldi. Untuk mengajak dia pindah dari sini, untuk hidup mandiri. Tetapi selalu saja menolak, dengan alasan kasihan mamanya. Terlebih, papa mertua sekarang sudah tak ada. Semakin Mas Reynaldi tak tega meninggalkan sang Mama. Ya, sudah! Mau bagaimana lagi," ucap Nisa lesu.
Memang, suatu pilihan yang sulit untuk Nisa. Karena suaminya masih saja bersikukuh untuk tinggal di rumah yang seperti neraka bagi Nisa. Padahal Reynaldi tahu, kalau sang mama tak menyukai istrinya. Bahkan membuat anaknya meninggal.
"Nis, Kakak pamit ya! Kalau kamu ada masalah apa pun, kamu jangan sungkan untuk bercerita ya," ujar Kak Rania dan Nisa mengiyakan.
Nisa memberikan uang kepada Nabila, anak sang kakak. Nisa tak pernah sayang untuk berbagi, terutama kepada sang kakak dan juga sang Bunda. Tak pernah takut, kalau uangnya habis. Dia justru yakin, kalau rezekinya akan terus mengalir, dan uang yang dia miliki menjadi berkah.
"Ay, bangun! Pulang yuk! Aku takut Nisa mencari aku," ujar Reynaldi yang mencoba membangunkan kekasihnya.
Perlahan Viona membuka matanya. Kini mereka sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Ay, maaf. Sepertinya aku tak bisa mengantarkan kamu pulang, dan tak sempat mengajak kamu makan. Kamu makan dan pulang sendiri saja ya, nanti aku transfer uangnya. Aku khawatir Nisa mencari aku, aku harus segera pulang," ujar Reynaldi.
Sakit? Namun, dirinya bisa apa? Viona sendiri yang memilih jalannya seperti ini.
Gemes ya? Sama. Author juga nulisnya emosi banget sama laki model begitu dan mertua jahanam. Ingin cepat kasih balasan untuk mereka, agar mereka bisa membuka mata siapa yang terbaik untuk mereka. 😊😃