Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Jakarta


Abi, Khanza, dan Nisa sudah dalam penerbangan menuju Jakarta. Khanza tampak sedang mengobrol dengan sang papa. Dia terlihat akrab dengan Abi. Sesekali Nisa pun ikut mengobrol dengan sang anak dan juga sang suami. Setelah melakukan penerbangan selama satu jam setengah, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandar udara Internasional Soekarno-Hatta.


Abi langsung memesan taksi online untuk pulang ke apartemen. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju apartemen. Khanza tampak tertidur menyenderkan kepalanya di bahu sang bunda. Melihat seperti itu, Abi pun merasa tak tega. Dia langsung mengambil Khanza dan memangkunya. Membiarkan Khanza tidur di pangkuannya.


"Kita langsung pulang saja ya? Nanti beli makannya lewat online saja ya! Kasihan Khanza soalnya, kalau mampir-mampir dulu," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, mereka sampai di apartemen. Sang ART sudah menunggu mereka di lobby. Karena Abi meminta sang ART untuk membantu dirinya membawakan barang-barang bawaan.


Nisa menggandeng tangan Khanza menuju unit apartemennya. Abi terpaksa membangunkan Khanza, dan menyuruhnya berjalan. Karena dia repot membawa barang-barang bawaan bersama sang ART.


Sesampainya di unit apartemennya. Khanza langsung membuka sepatu yang dia kenakan, membuka pakaiannya. Kemudian langsung masuk ke kamarnya untuk tidur.


"Kakak enggak makan dulu? Papa mau pesan makanan," ujar Abi. Namun, Khanza lebih memilih untuk tidur daripada makan. Matanya masih merasa mengantuk.


Sedangkan Nisa justru lebih memilih untuk mandi dan segera sholat magrib, sebelum waktu magribnya habis. Abi pun melakukan hal yang sama, bergantian dengan sang istri.


Keduanya sudah terlihat segar. Nisa sudah mengenakan daster, sedangkan Abi hanya menggunakan celana pendek sedengkul dan juga kaos oblong.


"Mau makan apa? Aku mau pesan makan," ujar Abi.


"Beli makanan di restoran seafood saja mas! Beli ayam goreng mentega, puyung hay, capcay saja. Si bibi sudah masak nasi," sahut Nisa dan Abi mengiyakan.


Abi langsung memesan makanan lewat aplikasi online. Sambil menunggu makanan datang, Nisa sambil membereskan barang-barang yang dia bawa, dan juga mengeluarkan baju-baju kotor.


"Bi, ini daster untuk kamu," ujar Nisa sambil memberikan dua buah daster. Tentu saja hal itu membuat sang ART merasa senang mendapatkan oleh-oleh dari majikannya.


Setelah selesai merapikan, Nisa duduk di sebelah sang suami. Mereka berbincang sambil menunggu makanan datang. Nisa menyenderkan tubuhnya di sofa, sekarang-sekarang ini dia sudah mulai merasa lelah.


"Kenapa? Lemas ya?" Tanya Abi dan Nisa mengiyakan.


Abi mengelus-elus perut istrinya dengan lembut, membuat sang bayi bergerak. Tentu saja hal itu membuat Abi merasa senang.


"Assalamualaikum. Senang ya di elus sama papa? Apa kamu sudah lapar? Sabar ya, papa sudah memesan makanan untuk kalian. Nanti Bunda, papa suruh makan yang banyak. Biar kalian kenyang," ujar Abi seakan dirinya bicara sama kedua buah hatinya yang masih di dalam perut sang istri.


Abi sudah merasa tak sabar ingin melihat kedua buah hatinya lahir ke dunia. Menjadi pelengkap di rumah tangga mereka.


"Aku ambil makanan dulu ya ke lobby. Pesanannya sudah datang," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Abi langsung turun ke lobby, untuk mengambil pesanannya. Setelah mengambil, Abi langsung naik kembali ke tempatnya.


Kini Abi sudah kembali, dia meminta sang ART untuk menyiapkan makanan. Makanan sekarang sudah tersusun di meja makan. Nisa dan Abi langsung ke berjalan ke meja makan. Dia langsung mengambilkan makanan untuk sang suami. Melayani sang suami dengan telaten. Keduanya kini sedang menikmati makan bersama.


"Iya, Mas. Nanti aku coba bangunkan Khanza," sahut Nisa.


Setelah selesai makan, Nisa langsung ke kamar anaknya. Untuk membangunkan sang anak untuk makan.


"Ka, makan dulu!" Nisa mencoba membangunkan sang anak. Khanza perlahan membuka matanya, tetapi matanya masih terasa berat.


"Emmm, kenapa Bun?" Tanya Khanza dengan suara khas bangun tidur.


"Ayo makan dulu! Papa Abi menyuruh kamu makan. Takutnya kamu lapar," ujar Nisa kepada sang anak.


"Laper si, tapi aku ngantuk Bun. Besok pagi saja deh," sahut Khanza.


"Ayo makan dulu saja! Nanti setelah itu, kalau mau tidur lagi enggak apa-apa," ucap Nisa.


Dengan perasaan malas, akhirnya Khanza beranjak duduk dan mencoba menyegarkan tubuhnya dulu. Setelah itu, dirinya barulah beranjak turun dari ranjang. Nisa dan Khanza keluar dari kamar Khanza.


"Makan, Ka! Nanti habis makan, tidur saja lagi kalau masih ngantuk," ucap Abi saat melihat Khanza keluar dari kamarnya. Khanza hanya menganggukkan kepalanya. Dia langsung duduk di kursi meja makan, dan sang bunda langsung mengambilkan makanan untuk dirinya. Khanza langsung memakannya.


Setelah itu Khanza langsung pamit untuk melanjutkan tidur lagi. Tubuhnya terasa lelah, dan matanya masih mengantuk. Sama halnya dengan sang anak, Abi dan Nisa pun memutuskan untuk masuk ke kamar untuk beristirahat. Besok dirinya harus mulai bekerja kembali.


"Oh ya, kamu belum minum susu ya? Aku lupa membuatkannya. Kamu juga enggak ngomong si," ucap Abi. Abi terpaksa turun lagi dari ranjang, dan berjalan ke dapur untuk membuatkan susu untuk sang istri. Abi selalu perhatian kepada sang istri. Menunjukkan perhatian kepada istrinya.


Tak butuh waktu lama, dia masuk kembali ke kamar dengan membawa satu cangkir gelas berisi susu coklat yang menjadi kesukaan sang istri.


"Ayo diminum dulu susunya!" Abi memberikan gelas itu kepada sang istri, dan Nisa langsung menenggak susu itu hingga habis.


"Makasih ya Mas susunya," ucap Nisa dan Abi mengiyakan.


Nisa membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sedangkan Abi berjalan keluar untuk menaruh gelas itu ke dapur. Setelah itu dirinya masuk kembali ke kamar, dan naik ke ranjang.


"Selamat tidur istri aku yang cantik. Have a nice dream. I love you," ucap Abi sambil memberikan kecupan di kening istrinya. Tak lupa dia pun mencium perut buncit istrinya.


"Selamat tidur anak papa yang sholeh dan sholehah. Jangan ganggu bunda tidur ya! Kasihan bundanya capek, butuh istirahat!" Ucap Abi, seakan dia bicara dengan kedua buah hatinya yang masih berada di dalam perut istrinya.


Setelah itu, Abi pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya. Abi tampak mengelus-elus rambut istrinya dengan lembut. Membuat mata sang istri perlahan akhirnya meredup, hingga akhirnya tertidur nyenyak. Dia pun akhirnya ikut menyusul sang istri untuk tidur.


Berbeda halnya dengan Abi dan Nisa yang sudah tertidur nyenyak. Reynaldi justru masih duduk termenung di teras rumahnya sambil menikmati rokok dan juga secangkir kopi. Hidupnya terasa hampa, hidup tanpa pendamping hidup di sisinya.