
Disaat sang dokter berusaha menyelamatkan nyawa istrinya, Reynaldi justru membisikkan kalimat syahadat kepada sang istri. Menuntunnya untuk mengubahnya, meskipun Viona mengucapnya dengan terbata-bata. Reynaldi begitu sabar menemani sang istri, di saat sang istri menghadapi sakaratul maut. Air mata keduanya tampak menetes tak tertahan lagi, dada Reynaldi rasanya begitu sesak. Namun, dia mencoba untuk ikhlas melepas sang istri. Karena dia tak tega melihat sang istri tersiksa dengan penyakit kankernya.
Reynaldi tampak memberikan kecupan di pucuk kepala, keningnya sang istri, dan juga tangan sang istri.
"Pergilah sayang, aku ikhlaskan kamu! Aku mencintaimu. Aku enggak tega melihat kamu tersiksa seperti ini," ucap Reynaldi. Dia langsung mencium bibir istrinya dan sedikit **********. Meskipun di sana ada dokter dan perawat.
Air mata Reynaldi mengalir semakin deras, saat napas sang istri akhirnya terhenti. Viona telah pergi untuk selamanya, membawa cintanya kepada Reynaldi. Reynaldi langsung memeluk tubuh istrinya yang kini terbaring kaku, tak bernyawa.
"Selamat jalan sayang, semoga kamu bahagia di sana. Semoga kamu meninggal dalam keadaan husnul khotimah, dan Allah mengampuni semua dosa-dosa kamu. Paling tidak kamu sudah meminta maaf dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Reynaldi.
Mama Susan dan sang kakak baru saja sampai, dan melihat perawat sedang mencabut alat-alat medis di tubuh Viona. Mereka langsung berlari menghampiri sang anak dan juga sang adik.
"Viona, kenapa meninggalkan mama? Maafkan mama dan kakak yang datang terlambat. Hingga kami tak bisa melihat kamu di saat detik-detik kepergian kamu. Mama sayang sama Vi. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa kamu, dan di terima di sisi Allah SWT," ucap sang mama.
"De, maafin kakak yang jarang menengok kamu. Bahkan kakak tak bisa bertemu kamu untuk terakhir kalinya. Kamu sudah enggak sakit lagi, De. Kamu sudah tenang di sana, InsyaAllah husnul khotimah," ucap sang kakak.
Wajah Viona terlihat bersinar, dan dia pun meninggal dalam keadaan tersenyum. Seperti orang yang tak merasa kesakitan. Dia merasa senang, karena Reynaldi selalu ada di saat dirinya akan pergi untuk selamanya.
Dari kejauhan Viona tampak memandang tubuhnya yang kini sudah terbujur kaku. Senyuman terbit di sudut bibirnya, saat melihat sang suami yang terlihat begitu sedih melihat kepergiannya.
"Terima kasih untuk semua yang kamu berikan untukku. Terima kasih sudah mewujudkan permintaan aku, aku sangat bahagia. Sekarang aku sudah tenang. Aku mencintaimu, sampai ketemu nanti di alam yang berbeda. Semoga kamu bisa meraih kebahagiaan, meskipun bukan denganku," ucap Viona.
Menurut kesepakatan Reynaldi dengan mama dan sang kakak, jenazah almarhumah Viona akan di kebumikan ke rumah orang tua Viona, dan sesuai permintaan Viona, Viona akan di makamkan di sebelah makam sang papa.
"Ma, Rey urus administrasi dulu ya. Agar Viona bisa segera di makamkan. Mama tolong persiapkan menyambut almarhumah. Rey juga akan mengurus untuk pemakaman Viona," ujar Reynaldi.
Reynaldi akan melakukan yang terbaik, sampai mengantarkan sang istri ke peristirahatan terakhirnya. Rey tak ingin berlarut dengan kesedihan, yang terpenting baginya yaitu segera menguburkan sang istri.
Reynaldi langsung bergegas mengurus administrasi. Dia juga sempat mengirimkan pesan chat ke Abi, untuk memberitahu kepergian sang istri untuk selamanya.
Saat itu Abi belum sempat melihat pesan chat dari Reynaldi, karena masih sibuk praktek. Fokus memeriksa pasien-pasiennya. Mama Susan juga langsung menghubungi ART di rumah untuk mengurus.
"Ma, Kakak pulang saja dulu ya ke rumah. Kita bagi tugas saja. Kakak yang urus di rumah ya, kasihan si bibi kalau urus sendiri," ujar sang kakak.
Ternyata kepergian Viona memberikan sebuah tanda kepada Nisa. Tiba-tiba saja dia teringat pada Viona.
"Mengapa sejak tadi aku teringat Viona terus ya? Gimana ya keadaannya sekarang? Kasihan, tersiksa banget. Meskipun dulu dia jahat padaku, tetap saja aku merasa tak tega melihatnya. Sulit sekali untuk sembuh, paling hanya bisa bertahan saja," ucap Nisa.
Semua administrasi sudah selesai, jenazah almarhumah Viona sudah bisa di bawa ke pulang. Reynaldi dan sang mama ikut naik ke mobil jenazah. Reynaldi ikut mengangkat tubuh sang istri untuk naik ke mobil jenazah.
Reynaldi mencoba menahan air matanya, dia tak tangisnya akan memberatkan sang istri untuk pergi. Dia mencoba menahannya, meskipun harus merasa sesak di dadanya. Reynaldi tampak mengusap punggung sang ibu mertua dengan lembut. Mencoba untuk menguatkannya.
"Sabar ma, ikhlaskan Viona. Kasihan! Sekarang dia sudah tenang, sudah tak merasa sakit lagi. Lebih baik sekarang kita doakan dia yang terbaik," ucap Reynaldi kepada sang ibu mertua, dan akhirnya Mama Susan menganggukkan kepalanya.
Mobil jenazah yang membawa Viona akhirnya sampai di rumah duka yang sudah terpasang bendera kuning. Para tetangga terdekat turut membantu sang kakak menyiapkan semuanya.
Untungnya para tetangga begitu sigap membantu. Termasuk mengurus untuk tempat pemakaman. sang ibu mertua tak mengizinkan Reynaldi yang mengurusnya. Hingga akhirnya mereka terpaksa meminta bantuan kepada sang tetangga. Reynaldi hanya memberikan uang untuk biaya pemakaman.
Reynaldi rela mengeluarkan uang sebesar lima juta rupiah untuk pemakaman sang istri. Dia juga memberikan uang dua juta kepada kakaknya Viona untuk mengurus semuanya, termasuk acara tahlilan untuk nanti malam.
Dia berusaha melakukan yang terbaik untuk terakhir kalinya. Padahal, stok uangnya sekarang sudah menipis. Bahkan dia tak bisa mengontrak tahunan lagi nantinya, mau tak mau dia harus pindah ke rumah kontrakan petakan. Dia terpaksa harus menjual barang-barang, dan hanya membawa barang-barang yang cukup untuk di petakan.
Reynaldi duduk di sebelah jenazah sang istri, melantunkan surat yasin. Ternyata, dia tak mampu menahannya lagi. Air matanya menetes saat membacakan surat yasin. Dia masih tak menyangka kalau sang istri telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Pihak keluarga Viona sudah mulai berkumpul, para pelayat sudah berdatangan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.00, Viona hendak di mandikan. Reynaldi ikut memandikan jenazah sang istri. Hatinya terasa miris melihat tubuh dan area sensitif istrinya, pantas saja selama di rumah sakit sang istri tak mau di bersihkan. Viona selalu meminta bantuan sang suami membawanya ke kamar mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, pasien Abi sudah mulai berkurang. Karena jam prakteknya memang sudah selesai. Dia berniat ingin memberi kabar kepada sang istri, kalau hari ini dia pulang agak sedikit terlambat.
Alangkah terkejutnya dia, saat melihat pesan chat dari Reynaldi yang mengatakan kalau Viona sudah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun," ucap Abi.
Abi mencoba menghubungi ponsel Reynaldi. Mendengar ponselnya berbunyi, Reynaldi langsung meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Dia langsung menerima panggilan dari Abi.
"Assalammualaikum," ucap Abi mengucap salam mengawali pembicaraan di panggilan telepon.
"Waalaikumsalam," sahut Reynaldi.
Abi mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya almarhumah Viona, Abi juga mendoakan yang terbaik untuk almarhumah mantan istrinya itu. Dia juga menanyakan jam berapa Viona akan di makamkan, dan rencananya dimakamkan di mana. Abi akan datang melayat. Dia juga berniat memberikan uang takziah senilai satu juta untuk Reynaldi.
Setelah selesai praktek ini, dia akan segera ke rumah orang tua Viona. Dia menanyakan kembali rumah orang tua Viona, karena dia sudah lupa. Sudah cukup lama dia tak pernah mengunjungi rumah mantan mertuanya itu.
Abi langsung menghubungi Nisa untuk memberitahu kabar meninggalnya Viona. Namun, dia tak mengizinkan Nisa untuk ikut melayat. Karena kondisi Nisa yang saat ini sedang hamil.
"Aku mau langsung ke rumah almarhumah. InsyaAllah langsung ikut sampai menguburkan. Kamu enggak usah ikut ya, orang hamil tak baik melayat orang yang meninggal. Aku mau kasih uang takziah satu juta ya. Kamu tak keberatan 'kan?" Tanya Abi.
Apapun itu, Abi berusaha untuk bersikap jujur dan berdiskusi dengan sang istri. Abi mengakhiri panggilan telepon dengan Nisa, dan langsung bergegas ke rumah Viona. Kini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Viona. Untungnya jalanan saat itu lancar. Hingga dia bisa segera sampai di rumah duka.
"Assalamualaikum."
Abi langsung berjabat tangan dengan para pelayat yang bertemu. Melihat Abi datang, Reynaldi langsung menghampiri Abi.
"Terima kasih ya dok, sudah mau datang. Saya ingin minta maaf sebagai perwakilan almarhumah. Mohon doanya untuk almarhumah," ucap Reynaldi.
"Sudah, jangan dibahas lagi! Saya dan istri sudah memaafkan. Ada salam dari istri saya, maaf tidak bisa datang. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk almarhumah. InsyaAllah ini yang terbaik dari Allah, agar almarhumah tak menderita sakit lagi. Ikhlaskan dia, agar dia pergi dengan tenang," ucap Abi. Abi juga tampak memeluk Reynaldi, dan menepuk-nepuk punggung Reynaldi. Untuk mencoba menguatkan.
"Apa sudah di sholatkan? Ini langsung dimakamkan ya?" Tanya Abi. Saat ini jenazah almarhumah Viona sedang di kafani. Setelah itu langsung di sholatkan. Viona pasti merasa senang, karena suami dan mantan suaminya akan ikut menyolatkan dirinya.
Reynaldi mengajak Abi masuk ke dalam menemui mama dari Viona.
"Makasih ya Bi, kamu sudah mau datang. Maafin Viona ya Bi," ucap Mama Susan.
"Iya bu, Abi dan Nisa sudah memaafkan kesalahan almarhumah. Semoga almarhumah di lapangkan kuburnya, di terima amal ibadahnya, di ampuni dosa-dosanya. InsyaAllah husnul khotimah. Salam dari Nisa, dia turut berduka cita. Maaf tidak bisa datang," ucap Abi.
Tentu saja kedatangan Abi menjadi pusat perhatian orang-orang yang masih mengingat Abi adalah mantan suami Viona. Sang kakak pun merasa terkejut saat melihat mantan adik iparnya. Karena sang mama belum menceritakan kepada sang kakak.
"Loh, Abi di Jakarta? Abi kok bisa tahu Viona meninggal? Tahu darimana?" Tanya kakak dari Viona.
Sang mama langsung menceritakan. Kalau Abi sekarang adalah suami dari mantan istri Reynaldi.
"Ya ampun, dunia sempit banget ya? Jodohnya seputaran itu saja. Ini jadinya, jodoh yang tertukar ya atau bertukar suami," ucap sang kakak.
"Ampun deh si Viona. Maafin Viona ya Bi," ujar sang mantan kakak ipar
"Iya, Kak. Kakak tenang saja, aku juga sudah memaafkannya kok," ujar Abi.