
Kini Nisa dan Khanza sudah berada di supermarket. Sejak tadi ternyata Viona mengikuti Nisa dan Khanza, sampai mereka masuk ke supermarket. Dia hanya bisa memandangi Nisa yang asyik berbelanja semua yang dia butuhkan.
"Kakak ada lagi enggak yang mau dibeli cemilannya?" Tanya Nisa kepada sang anak.
"Itu sudah banyak bun, sudah cukup," sahut Khanza.
"Ya sudah, kita langsung bayar ya," ujar Nisa dan Khanza menganggukkan kepalanya.
Viona mencoba menjauh, karena Nisa semakin mendekat ke arahnya. Tanpa sengaja Viona menabrak troli orang, dan orang tersebut mengumpat Viona. Hal itu membuat Nisa dan Khanza menoleh ke arah keributan.
Keduanya tampak mengerutkan keningnya, melihat Viona yang sedang bertengkar dengan orang tersebut.
"Loh, itu 'kan istri ayah. Ngapain dia di sini? Jangan bilang dia ngikutin kita," ujar Khanza.
Nisa menarik tangan Khanza, melarang Khanza menghampiri Viona. Rasa dendamnya kepada Viona sangat besar. Karena Viona telah merebut sang ayah dari dirinya dan sang bunda. Ingin rasanya dia menghampiri Viona, dan mengumpat kasar Viona.
"Jangan Ka!" Nisa mencoba mengingatkan Khanza. Dia khawatir kalau sang anak akan menambah keributan.
"Aku ingin mempermalukan dia, bun! Biar semua orang tahu, kalau dia pelakor," ucap Khanza.
"Sudah biarin saja! Kita tak boleh dendam, lagipula hidupnya sekarang sudah menderita. Sedangkan Allah memberikan kebahagiaan untuk kita," ucap Nisa yang mencoba memberi pengertian kepada sang anak.
"Biar Allah yang membalasnya! Ayo kita pulang saja!" Ajak Nisa dan Khanza menganggukkan kepalanya. Akhirnya dia mengerti dan menahan emosinya. Karena, apa yang dikatakan bundanya itu memang benar.
Akhirnya Nisa dan Khanza memilih langsung pulang ke apartemen. Tak butuh waktu lama, Khanza dan Nisa sudah sampai. Berhubung barang belanjaan mereka banyak. Nisa menghubungi ART-nya untuk meminta bantuan membawakan barang-barang belanjaan.
"Bunda mandi dulu ya sama sholat ashar," ujar Nisa.
"Iya bun, aku juga," sahut Khanza.
"Mba, tolong rapikan barang-barang belanjaan ya! Ibu soalnya mau langsung mandi sama belum sholat ashar," pinta Nisa dan sang ART mengiyakan.
Setelah mandi, Nisa langsung menjalankan ibadah sholat ashar. Setelah itu, mereka memilih untuk mengobrol sambil menonton film drama Korea.
"Papa kemana bun? Kok belum pulang?" Khanza menanyakan sang papa yang belum pulang bekerja.
"Ada pasien papa yang gawat, makanya tadi bunda ke rumah sakit bawakan makanan. Kami makan siang bersama di sana," sahut Nisa dan Khanza ber oh ria.
"Ka, kamu masih belum mau ketemu Ayah Rey? Tadi bunda ketemu lagi di rumah sakit, dia menanyakan kamu. Dia ingin bertemu kamu," ujar Nisa.
Keputusan Khanza masih sama, dia masih berkeras hati tak ingin bertemu sang ayah. Rasa kecewa kepada sang ayah begitu besar.
"Bunda serius? Kok papa bisa si menikah sama wanita sombong dan jahat itu. Papa Abi 'kan laki-laki yang baik. Untung saja mereka berpisah, dan akhirnya Papa Abi bisa bertemu bunda. Kalau tidak, kasihan Papa Abi harus hidup sama wanita jahat itu," ujar Khanza.
"Iya, bunda serius. Bunda juga kaget dengarnya, Bund baru tahu tadi pas pertemuan," sahut Nisa.
Viona baru saja sampai di rumah, dan ternyata Reynaldi sudah sampai lebih dulu di rumah. Wajahnya terlihat masam, melihat sang istri baru sampai rumah.
"Darimana saja kamu?" Tanya Reynaldi, saat kakinya memasuki rumah.
"Refresh otak dulu, main dulu ke Mall duduk santai," sahut Viona cuek. Dia langsung memilih untuk mandi, membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, dia berniat ingin makan. Viona berjalan mendekati meja makan, dan berniat untuk makan. Tapi ternyata tak ada makanan apapun di meja makan.
"Kamu enggak masak Bi? Kok enggak masak?" Tanya Viona kepada sang ART.
"Uang belanja dari bapak habis bu, jadi tadi saya makan mie instant. Mama Ratih saya buatkan telur dadar," sahut sang ART.
"Huhft, nasib ... nasib jadi orang susah. Mau makan saja susah. Tak bisa seperti Nisa yang bisa membeli apapun yang dia inginkan," gerutu Viona. Viona beranjak bangkit lagi dari tempat duduknya. Selera makannya jadi hilang. Hingga akhirnya dia tak jadi makan.
Viona memilih menghindar dari suaminya, dan memilih untuk masuk ke kamar. Reynaldi akhirnya mengikuti sang istri masuk ke kamar.
"Jadi, dokter Abimanyu itu mantan suami kamu?" Tanya Reynaldi memulai pembicaraan.
"Iya, dia mantan suami aku. Aku menyesal, dulu meninggalkan dia kalau akhirnya aku harus hidup susah seperti ini. Aku kira, aku akan hidup bahagia bersama kamu. Tapi nyatanya, aku malah hidup menderita," sahut Viona ketus.
Hingga akhirnya, Reynaldi tersulut api amarah. Karena Viona tak menyadarinya, kalau dirinya susah karena mempertahankan hubungan dengannya. Hingga akhirnya dia harus kehilangan yang dulu dia punya. Reynaldi harus kehilangan anak, istri yang luar biasa, dan juga jabatan yang bagus.
"Ternyata, kamu itu enggak sadar-sadar ya? Bukan menyadari kesalahan apa yang diperbuat, ini justru malah menyalahkan orang. Kamu pikir, kau enggak menyesal menikahi kamu? Jika akhirnya aku harus seperti ini, aku juga pasti enggak akan menikah sama kamu. Istri yang tak berguna. Sudah penyakitan, enggak bisa memberikan keturunan, dan enggak bisa untuk memuaskan suami di ranjang. Jadi kamu maunya apa? Kamu mau kita cerai saja? Kalau membahas tentang penyesalan, akulah yang sangat menyesal," Cerocos Reynaldi.
"Sekarang kamu bisa bicara seperti itu ya? Giliran dulu, kamu puja-puja aku," sindir Viona.
"Aku menyesal, karena tak bisa menahan nap*su aku. Padahal aku telah memiliki segalanya dari Nisa. Semua ini hukuman untuk kita, karena kita enggak pernah bersyukur dengan apa yang kita miliki selama ini. Seperti kamu, padahal aku lihat dokter Abi itu laki-laki yang baik. Eh kamu malah minta cerai. Susah si kalau otak sudah mesum, pikirannya ranjang terus," ujar Reynaldi.
Viona tampak terdiam, karena apa yang di katakan suaminya itu ada benarnya juga. Semua ini terjadi karena kesombongannya di masa lalu. Dia tak pernah merasa bersyukur dengan apa yang dia miliki. Dia juga lebih mengikuti hawa nap*su.
"Jujur, aku juga sudah bosan sama kamu. Setiap laki-laki pasti menginginkan pasangan yang sempurna. Aku juga masih ingin memiliki seorang anak, dan membantu aku menyalurkan hasrat kelelakian aku. Aku tak munafik, dan dalam hal ini kamu tak mewujudkannya," ujar Reynaldi. Membuat air mata Viona menetes satu persatu. Hatinya terasa sakit mendengar penuturan suaminya itu.