
Ucapan Mama Ratih menjadi memperkeruh suasana. Nisa semakin memanas, hingga terucap kata ingin berpisah.
"Oh, ya? Aku istri yang banyak menuntut? Apa aku tak salah dengar ya? Sekarang aku tanya sama Mama, apa Mama mau berada di posisi aku saat ini?" tanya Nisa dengan tatapan tajam. Hatinya sudah teramat sakit di bilang istri yang banyak menuntut.
Mama Ratih terdiam, dan Reynaldi hanya melongo tak percaya. Istrinya kini menjadi sosok yang berani. Rasa tertekan yang dirasakan Nisa, membuat dia berani memperjuangkan dirinya sendiri. Nisa merasa lelah berada di posisi tertindas, padahal dirinya berada di posisi benar.
"Mama dan aku sama-sama seorang wanita. Apa pantas seorang wanita saling menyakiti. Aku ini sedang dizalimi anak Mama. Merasa apa yang dilakukan dirinya selama ini benar. Boleh tidak aku curiga, jika mengetahui suamiku tak ada di rumah setiap aku tidak di rumah dan bahkan aku melihat sendiri hari ini dia baru pulang!”
"Selama di Yogya, dia bilang sama aku. Dia berada di rumah, dan pernah berkata dia bangun kesiangan karena tak bisa tidur semalam. Dengan alasan merindukan anak dan istrinya. Berkata manis, padahal aslinya sangat pahit. Selama aku di sana jarang sekali memberi kabar, dengan alasan sibuk ini itu. Dia pikir aku percaya? Aku tahu Ma, kalau yang dia ucapkan hanya untuk menutupi kedoknya saja."
Papa Faisal sangat mengerti yang dirasakan menantunya. Menurutnya, memang semua ini karena kesalahan sang putra. Dia akan menyerahkan semuanya kepada Nisa. Sebagai orang tua, dirinya merasa malu karena merasa gagal mendidik anaknya menjadi laki-laki yang setia dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
"Papa sebagai orang tua hanya bisa berdoa dan menjadi penengah di rumah tangga kalian. Rey, kamu sudah dengarkan letak kesalahan kamu selama ini. Menurut Papa, apa yang dilakukan Nisa itu benar," ucap Papa Faisal.
Nisa mengatakan lagi, hari ini Reynaldi sudah berani menampar wajahnya di depan Khanza. Hatinya sangat sakit, dia tak menyangka sang suami akan seperti ini.
"Bukan hanya hatiku yang kamu sakiti, tetapi aku sudah kehilangan cinta suamiku. Aku ini pasanganmu, bukannya musuhmu! Tak perlu kamu siksa aku seperti ini. Aku lelah menjalani semua ini! Aku tak bisa lanjutkan lagi kisah ini bersamamu. Aku ingin pisah dari kamu, mungkin perceraian yang terbaik untuk kita," ucap Nisa.
Reynaldi bersujud di kaki Nisa, meminta maaf atas semua kesalahan yang dia perbuat selama ini kepada Nisa. Dia mengakui kalau dirinya khilaf. Reynaldi juga mengatakan kalau dirinya tak ingin pisah dari Nisa, dia sangat mencintai Nisa.
"Please, Yang! Kasihan Khanza, bagaimanapun dia membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya," ungkap Reynaldi.
Mereka bertiga berpelukan, dada Nisa terasa begitu sesak. Nisa sempat menatap wajah anaknya yang sedang menangis.
"Apa kamu tega merenggut kebahagiaan Khanza? Dia membutuhkan kita berdua. Aku mengaku salah, karena sempat terlena terhadap sesuatu yang sebenarnya tak lebih baik dari kehidupanku saat ini," ungkap Reynaldi menyesali perbuatannya.
Nisa masih tak menanggapi, karena tak semudah itu dia bisa memaafkan kesalahan suaminya.
"Masalahnya ini pengkhianatan Mas, tak semudah itu aku bisa terima dan memaafkan kamu. Selama ini aku masih bisa bersabar menghadapi Mama yang tak menyukaiku. Aku masih bisa sabar jika masalahnya ekonomi, atau apalah," ungkap Nisa tegas.
"Tetapi Mas tak ingin pisah, Yang! Lebih baik kamu hukum Mas. Tampar wajah Mas sepuasnya, atau apapun yang bisa merubah keputusanmu. Mas sayang banget sama kamu. Kamu tau 'kan, betapa sulitnya Mas dapatkan kamu. Berbagi cara Mas lakukan untuk mendapatkan kamu," ungkap Reynaldi sambil memeluk tubuh wanita yang masih menjadi istrinya.
Papa Faisal, ikut memohon kepada Nisa. Untuk berpikir lagi, sebelum mengambil keputusan. Papa Faisal meminta Nisa bisa memberikan kesempatan sekali lagi untuk Reynaldi. Namun, jika Reynaldi melanggarnya lagi. Papa Faisal menyerahkan keputusannya kepada Nisa.
"Kamu yakin Mas, tak akan mengulangi kesalahan kamu lagi?" tanya Nisa dengan wajah yang serius.
"Iya Mas janji," jawab Reynaldi dengan wajah penuh keyakinan. Padahal dia pun tak tahu, apakah dia bisa melakukannya atau dirinya justru malah melanggarnya, karena Viona pun tak akan bisa semudah itu dia tinggal.
Viona pasti menuntut dirinya, karena bukan sekali dua kali mereka berhubungan suami istri. Hubungan mereka sudah sangat jauh, bukan hanya sekadar pasangan kekasih. Dia pun sudah sering berjanji kepada Viona, untuk menikahi dirinya. Bahkan Viona tak ingin menjadi yang kedua.
Reynaldi sudah berada di posisi yang sulit untuk mengambil keputusan. Nisa dan Viona sama-sama penting dalam hidupnya. Dia menginginkan keduanya.
"Bukannya enak hidup sendiri Mas? Kamu tak akan punya beban, saat kamu berselingkuh. Kamu juga tak berdosa jika berselingkuh, menyakiti hati aku. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan, tanpa beban. Bahkan kalian bisa menikah," sindir Nisa.
"Tidak! Aku tidak mau! Sampai kapanpun hanya kamu istri aku, ibu dari Khanza, dan aku hanya menjadi Ayah untuk Khanza dan suami untuk Annisa," ucap Reynaldi.
Sikap yang dilakukan Reynaldi kepada Nisa, membuat Mama Ratih merasa kesal karena anaknya masih terus membelanya. Masih saja mempertahankan menantu yang tak diharapkannya.
"Bun, Khanza tak mau Bunda berpisah sama Ayah. Khanza mau dua2nya. Khanza sayang Ayah dan Bunda," rengek Khanza.
Sikap anaknya yang membela dirinya, membuat poin emas untuk Reynaldi. "Kamu dengar 'kan ucapan Khanza? Dia tak mau orang tuanya pisah. Apa kamu mau Khanza menjadi anak broken home karena perpisahan orang tuanya? Yang, aku mohon! Tolong buka hati kamu, jangan hukum Khanza dalam hal ini," ucap Reynaldi.
Nisa masih saja terdiam, dia menatap wajah anak dan suaminya secara bergantian. Mereka memohon iba kepadanya. Membuat diri merasa tak tega.
"Kamu yakin Mas, masih mau menjadikanku istri kamu? Masih mau mempertahankan rumah tangga kita?" tanya Nisa dengan suara yang terdengar berat. Rasanya sulit sekali untuk dia memaafkan suaminya. Namun, dia tak tega melihat wajah anaknya yang tak berdosa.
"Jika kamu melanggar lagi? Apa hukuman untuk kamu?" tanya Nisa lagi.
Berbagai cara dia lakukan, tetapi rasanya tak berarti untuk suaminya. Di saat dirinya pergi, suaminya justru semakin menggila. Memang, selama ini Reynaldi berusaha untuk tidak menyakiti hati Nisa. Walaupun dia berselingkuh.