Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Setelah Kepergian Sang Mama


Kini saatnya acara pemakaman sang mama. Namun sebelumnya, sang mama akan disholatkan terlebih dahulu. Melani terpaksa tak bisa mendampingi sang suami selama proses pemakaman sang mertua.


Reynaldi tampak meneteskan air matanya, saat menyolatkan sang mama. Dia begitu kehilangan sang mama. Dia masih tak menyangka. Reynaldi sejak dulu memang sangat menyayangi sang mama.


"Reynaldi sayang mama. Kenapa sih, mama pergi secepat ini? Kenapa gak melihat cucu mama lahir dulu?" ujar Reynaldi dalam hati.


Reynaldi ikut naik ke mobil jenazah. Mendampingi sang mama. Mengantarkan sang mama ke peristirahatan terakhirnya. Kini mereka sudah sampai di tempat Mama Ratih akan di makamkan. Reynaldi ikut menggotong keranda sang mama. Dia juga ikut turun ke Liang lahat, meletakkan jenazah sang mama.


Dia berusaha untuk kuat, tidak meneteskan air matanya. Dia tak ingin memberatkan sang mama. Reynaldi berusaha untuk ikhlas. Kini sang mama sudah tertutup tanah. Sebagai seorang anak, Reynaldi meminta maaf semua kesalahan yang diperbuat sang mama kepada semua yang mengantarkan sang mama ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Keluarga besar Mama Ratih pun akhirnya datang, dan ikut mengantarkan. Meskipun dulu, Mama Ratih bersikap sombong kepada mereka. Namun, Nisa tak datang ke acara pemakaman mantan ibu mertuanya.


Dia hanya mengucapkan turut berduka cita lewat pesan singkat. Karena kondisinya saat ini tak memungkinkan. Kondisinya saat ini sedang hamil. Di wakilkan oleh Abi dan juga Khanza. Mereka ikut ke pemakaman Mama Ratih.


"Makasih ya Bi, sudah mau datang dan mendoakan almarhumah mamaku! Sampai permintaan maaf mamaku kepada Nisa. Tolong dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya!" ucap Reynaldi.


Sudah tujuh hari sang mama pergi meninggalkan dunia. Rasanya masih seperti mimpi. Reynaldi tampak murung. Sesekali Reynaldi masih saja meneteskan air matanya. Dia tak mampu membendung kesedihannya setelah kepergian sang mama.


"Ma, Reynaldi kangen sama mama," ucap Reynaldi dalam hati.


"Sabar ya Sayang! Insya Allah, mama sudah tenang! Kamu jangan seperti ini terus! Kasihan mama. Nanti dia sedih di sana melihat kamu seperti ini," Melani mencoba mengingatkan sang suami.


"Iya, kamu benar. Seharusnya, aku tak boleh seperti ini," sahut Reynaldi. Reynaldi langsung menghapus air mata di wajahnya.


"Aku tak boleh sedih lagi, aku harus kuat! Makasih ya Sayang, sudah hadir di hidup aku. Aku tak akan kesepian. Untungnya kamu hadir di hidupku. Jika tidak, pasti sekarang aku sedang termenung sendiri," ucap Reynaldi.


Melani dan Reynaldi tampak berpelukan. Reynaldi begitu menyayangi Melani.


"Jangan pernah tinggalkan aku ya! Aku tak ingin sendiri. Aku sayang kamu. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup bersama lebih lama lagi," ucap Reynaldi dan Melani mengaminkan ucapan suaminya.


Reynaldi melabuhkan kecupan di pucuk kepala, kening, dan kedua pipi Melani.


Keduanya sama-sama saling mencintai, meskipun awalnya hanya sebuah keterpaksaan. Namun akhirnya, cinta menyatukan keduanya. Kini rasa cinta mereka semakin kuat, karena mereka akan memiliki seorang anak di tengah-tengah pernikahan mereka.


"Sudah yuk kita tidur! Kamu harus beristirahat! Lihatlah di kaca! Kamu sampai mata panda. Tubuh kamu terlihat lebih kurus. Ayolah bangkit demi aku dan anak kita!" ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan. Sudah saatnya dia melanjutkan hidupnya tanpa sang mama.