
"Kita Mau kemana Bun?" tanya Khanza.
"Kita ke rumah Bude Rania dulu saja ya, nanti coba kita pikirkan. Besok Khanza izin dulu saja ya, Bunda akan coba izin sama Bu guru," ujar Nisa.
Nisa terlihat lebih tegar, tak ada lagi air mata yang menetes. Dia sudah mengikhlaskan semuanya, mungkin ini semua yang terbaik untuknya. Malam ini dia memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan rumah yang selama tujuh tahun dia tempati.
Nisa menatap sekeliling kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki kenangan yang indah bersama suaminya, dan juga kamar yang menjadi saksi bisu kesedihannya selama ini. Sudah cukup selama ini dia bersabar. Kini dia harus melangkah mencari kebahagiaannya sendiri.
Gila, memang gila. Bisa-bisanya sang suami secara tidak langsung meminta dirinya untuk menerima Viona sebagai madunya, dan menerima di poligami oleh suaminya.
"Aku tak sudi menerima wanita ja*lang itu sebagai maduku. Lebih baik aku bercerai, daripada di poligami oleh kamu," ucap Nisa.
Reynaldi baru saja sampai di rumah, dia menyetir mobil seperti kesetanan. Untungnya jalanan tak macet saat itu. Hingga dirinya bisa cepat sampai di rumah. Reynaldi terkejut saat melihat Nisa mulai menurunkan barang-barangnya di bawah. Dia juga sudah memesan taksi online untuk menjemputnya.
Reynaldi bergegas menghampiri Nisa, dan bersimpuh di kaki Nisa. Dia terlihat menangis, dia takut Nisa akan meninggalkan dirinya. Mama Ratih semakin tanda tanya besar, saat melihat anaknya seperti itu, dan sejak tadi memperhatikan Nisa yang menuruni beberapa tas dan juga koper.
"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku janji, aku akan berbuat adil, dan bahkan aku akan tetap memprioritaskan kamu dan Khanza," ucap Reynaldi. Terlihat sekali penyesalan di wajahnya.
"Kamu pikir, aku percaya? Sudah cukup kamu permainkan perasaan aku, dan kini saatnya aku mencari kebahagiaan aku sendiri. Aku akan mengurus perceraian kita. Kamu tinggal tunggu saja. Selamat, akhirnya kamu wujudkan keinginan Mama kamu untuk bercerai dengan aku. Aku pamit, Khanza aku bawa. Dia akan ikut aku," ujar Nisa tegas.
"Khanza, maafkan Ayah! Ayah mohon, jangan tinggalkan Ayah. Ayah sayang Khanza, Ayah sayang Bunda. Ayah tak mau kehilangan kalian," ungkap Reynaldi.
"Khanza benci Ayah, Ayah tak sayang Khanza. Ayah tega menyakiti hati Bunda," teriak Khanza.
Melihat sang anak di perlakuan seperti itu, tentu saja Mama Ratih merasa tak suka. Hingga akhirnya dia ikut bicara.
"Dasar anak tak punya sopan santun! Sudah Rey, biarkan saja mereka pergi! Biarkan anak kurang ajar itu ikut ibunya. Dasar wanita sombong, aku ingin lihat apa kau bisa bertahan hidup tanpa Reynaldi anakku. Sudah Rey! Kau sudah mendapatkan kebahagiaan bersama Viona, tak perlu pedulikan mereka," cerocos Mama Ratih.
"Tuh, kamu dengar 'kan ucapan Mama kamu! Aku pergi, kita bertemu di pengadilan. Jika kamu masih ingin diaku menjadi Ayah dari Khanza, nafkahi dia. Karena bagaimanapun dia anak kandung kamu! Kamu akan berdosa, jika tak menafkahi Khanza. Mungkin akan ada status mantan istri atau suami, tetapi tak akan pernah ada status mantan anak ataupun mantan Ayah. Khanza akan tetap menjadi tanggung jawab kamu, sampai kapanpun," ucap Nisa.
"Sayang, aku mohon! Aku akan ceraikan Viona, jika kamu meminta. Yang terpenting kamu mau kembali kepada aku," ucap Reynaldi membuat Mama Ratih melongo.
"Kau ini, apa-apaan? Tidak! Mama tidak setuju kau bercerai dengannya. Kasihan dia. Masa iya harus menjadi janda, baru kemarin menikah dengan kamu," ucap Mama Ratih.
"Dasar pembohong! Dasar menjijikkan! Jangan-jangan selama ini, kamu pakai dia dan juga pakai aku. Aku tak menyangka, kalau kamu serendah itu. Meskipun kamu menangis darah pun, aku tak sudi kembali kepada kamu. Ya sudah, aku rasa sudah cukup kita berbicara. Tak adalagi yang perlu kita bahas! Ayo Khanza, kita pergi sekarang!" ajak Nisa kepada sang anak.
Nisa pergi meninggalkan Reynaldi yang masih diam terpaku. Dia pun tak menyangka, kalau dia bisa sekuat itu. Mungkin, rasa kecewa yang dia rasakan selama ini membuat dia kuat melewati semua itu.
Nisa memeluk tubuh sang anak erat, sang anaklah yang membuat dirinya merasa kuat. Hidup harus terus dijalani, dia harus bisa melewati semuanya. Meskipun dengan perjuangan.
"Besok Khanza izin dulu saja ya sama bu guru. Soalnya kita harus menitipkan barang-barang kita dulu ke Bude Rania. Sekalian kita cari kontrakan di dekat sekolah Khanza. Sekalian Bunda juga harus mengurus perceraian dengan Ayah," ujar Nisa dan Khanza menganggukkan kepalanya.
Nisa teringat akan sepeda motor miliknya, sepeda motor itu dia beli sendiri dari hasil kerjanya dulu. Reynaldi tampak menangis meratapi kesedihannya. Sampai-sampai dia melupakan
Viona. Dengan jahatnya, diam-diam Mama Ratih menghubungi Viona di kamarnya.
"Assalamualaikum, iya Ma," ucap Viona saat menerima panggilan dari Mama Ratih.
"Waalaikumsalam. Vi, cepat datang ke rumah Mama sekarang juga! Reynaldi lagi sedih karena si wanita itu meminta cerai darinya dan sudah meninggalkan rumah. Ini saatnya untuk kamu, untuk mengambil hati Reynaldi," ucap Mama Ratih.
Mendengar berita itu, tentu saja dia sangat bahagia. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istri satu-satunya Reynaldi.
"Iya Ma, Viona akan segera berangkat ke sana," ujar Viona.
"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku! Rumah ini terasa sepi tanpa kamu dan juga Khanza," ucap Reynaldi lirih. Dia terlihat masih terus menangis.
Setelah menghubungi Viona, Mama Ratih keluar kembali menghampiri Reynaldi. Yang masih duduk di ruang tamu meratapi kepergian istri dan juga anaknya.
"Sudah tak perlu di tangisi! Berarti kamu memang tidak berjodoh sama dia, sekuat apapun kamu berjuang untuk tetap bersamanya. Pada akhirnya kalian harus terpisah. Sudahlah Rey, biarkan saja! Dia sendiri yang sudah memutuskan untuk pisah sama kamu. Lagi pula, sekarang kamu 'kan sudah ada Viona. Viona justru yang jodoh kamu, karena pada akhirnya kalian bersama. Kamu bisa menata hidup baru bersamanya. Mama yakin kamu akan hidup lebih bahagia. Biarin saja si Khanza, si Nisa itu tak pernah bisa mendidik anak. Makanya si Khanza kurang ajar sama kamu. Nanti juga kamu bisa punya anak lagi dari si Viona. Biarkan saja si Khanza hidup sama ibunya," ujar Mama Ratih.
Bukannya mengiyakan, Reynaldi justru malah terlihat marah. Bahkan dia membentak sang Mama.
"Semua ini gara-gara Mama! Dengan teganya menghancurkan rumah tangga aku sama Nisa. Ah, bodoh kau Rey! Seharusnya aku tak perlu dengar kata Mama, seharusnya aku tak peduli saat Mama mengatakan Viona ingin bertemu aku, dan seharusnya aku tak bermain api. Hingga akhirnya aku sekarang yang terbakar. Aku harus kehilangan wanita yang aku sangat cintai dan aku harus kehilangan anakku," ungkap Reynaldi.