Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kelahiran Buah Hati


Suara azan subuh sudah berkumandang di ponsel Nisa. Nisa dan Abi perlahan membuka matanya. Pertama kali yang Abi lihat adalah wajah istri tercintanya. Yang menatap ke arah dirinya, senyuman melengkung di sudut bibir sang istri.


Abi beranjak bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri sang istri.


"Sudah bangun? Gimana tidurnya semalam? Nyenyak 'kan?" Serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Abi sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Alhamdulillah, nyenyak Mas. Mas, aku mau sholat," ujar Nisa. Abi langsung membantu sang istri untuk duduk di ranjang. Nisa bertayamum, karena tak bisa berwudhu. Kemudian mereka sholat berjamaah.


Tak lama kemudian, datang dua orang perawat untuk melakukan tensi Nisa. Dia ingin mengecek tekanan darah Nisa, sebelum Nisa menjalani operasi. Sedangkan perawat yang satu menanyakan keluhan yang Nisa rasakan, dan meminta Abi untuk menyiapkan dua set perlengkapan bayi untuk kedua anak mereka saat lahir, dan perlengkapan Nisa setelah melahirkan.


Kedua orang tua Abi dan Khanza baru saja sampai di rumah sakit, mereka bergegas untuk segera sampai di ruang perawatan Nisa berada. Untungnya, mereka masih mendapatkan kesempatan sampai sebelum Nisa masuk ke ruang operasi.


"Doakan Nisa ya, Ma, Pa! Semoga operasi Nisa berjalan lancar," pinta Nisa kepada ibu mertuanya. Nisa tampak meraih tangan sang ibu mertua, kemudian mencium tangannya. Hal yang sama dia lakukan kepada bapak mertuanya.


"Iya. Insya Allah operasi kamu akan berjalan lancar. Semoga dimudahkan semuanya," sahut sang ibu mertua.


Nisa akan dibawa ke ruang operasi, untuk melakukan operasi sesar. Abi akan ikut masuk ke dalam kamar operasi, menemani sangat istri selama persalinan.


"Maaf, Ibu Nisa harus segera dibawa ke ruang operasi. Operasi akan segera dilakukan," ujar seorang perawat.


Abi membantu sang istri untuk pindah ke brankar yang nantinya akan membawa dia ke ruang operasi. Wajah Nisa tampak tegang saat dua orang perawat mendorong brankar. Abi terus menggenggam tangan Nisa selama perjalanan menuju ruang operasi.


Kini mereka sudah sampai di ruang operasi. Abi pun ikut merasa tegang mendampingi sang istri. Ini adalah hal pertama kali baginya, mendampingi istrinya melahirkan. Ruang operasi seakan horor baginya. Namun, Abi berusaha untuk tidak menunjukkan rasa tegangnya di hadapan istrinya.


"Sebentar lagi kita akan memulai operasinya. Semoga operasi berjalan lancar. Ibu dan kedua bayinya sehat," ucap sang dokter dan langsung diaminkan semuanya. Termasuk Nisa dan juga Abi.


Dokter anestesi mulai menyuntikan ke punggung Nisa sebanyak 2x. Nisa terlihat mulai tak sadarkan diri. Operasi sesar di mulai. Dokter mulai menyayat lapisan perut Nisa sepanjang 10-20 centimeter di bawah puser, hingga mencapai ke lapisan mendekati rahim.


Abi dapat melihat pengorbanan istrinya dalam melahirkan kedua buah hatinya. Perasaan tegang, bukan hanya dirasakan Abi saja. Kedua orang tua Abi dan juga Khanza ikut merasa tegang. Mereka terus berdoa, untuk mendoakan Nisa. Berharap operasi berjalan lancar, Nisa dan kembar bisa selamat.


"Sabar ya, Sayang! Nenek yakin, bunda akan baik-baik saja, dan adik bayi akan lahir dengan selamat. Bunda kamu itu wanita yang kuat," ujar sang nenek. Mencoba menenangkan Khanza yang sejak tadi bolak-balik di depan pintu kamar operasi. Khanza takut, kejadian dulu terulang lagi. Saat dia harus kehilangan kedua adiknya.


"Iya, Nek. Bunda adalah wanita yang kuat. Tapi, aku takut kehilangan kedua adikku lagi, seperti dulu," ungkap Khanza lirih.


"Insya Allah akan baik-baik saja semuanya," ucap sang nenek dan Khanza menganggukkan kepalanya.


Abi dapat bernapas lega. Dia sampai meneteskan air matanya, saat mendengar anaknya terlahir ke dunia. Satu persatu anak itu lahir. Anak yang pertama lahir berjenis kelamin laki-laki, di susul anak kedua berjenis kelamin perempuan. Suara tangis kedua bayi menggema di ruang operasi.


Abi sempat mengabadikan momen kebersamaan Nisa dan kedua bayinya di kamar operasi. Sayangnya, Nisa masih dalam kondisi belum sadarkan diri. Masih dalam pengaruh obat bius. Bahkan saat bayi itu diletakkan di dada Nisa secara bergantian, saat melakukan inisiasi menyusu dini. Nisa masih memejamkan matanya.


Abi masih berada di ruang operasi, setelah bayi itu dibersihkan dia ingin langsung melafazkan azan di telinga sebelah kanan sang anak dan iqomah di telinga sebelah kiri anaknya yang baru lahir secara bergantian.


Kedua bayi mungil itu adalah anugerah terindah


yang paling ditunggu mereka dan kelak akan menambah kebahagiaan di rumah tangga


mereka. Selain itu akan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tua Abi yang sudah sangat menginginkannya seorang cucu, dan hari ini mereka mendapatkan dua orang cucu sekaligus.