
"Kami sudah melunasi pembayaran ya Bu, berarti ibu secepatnya harus pindah dari sini," ucap Sis Feni tegas.
"Sombong sekali dia! Benar-benar tak ada toleransi banget," gerutu Mama Ratih dalam hati. Tentu saja dia tak akan berani mengumpat secara terang-terangan. Yang ada Sis Feni akan membatalkan pembelian rumahnya.
"Iya, Sis. Setelah selesai beres-beres, saya akan pindah. Saya mohon izin dulu ya Sis. Saya harus ke kantor polisi dulu, mengurus anak saya dulu agar bisa keluar. Setelah itu, barulah kami keluar dari rumah ini. Biar anak saya yang akan mengurusnya," jelas Mama Ratih.
Viona baru saja sampai di rumah. Dirinya terkejut, saat melihat rumah mertuanya tampak acak-acakan dengan barang-barang yang sudah mulai di pisahkan.
"Assalamualaikum."
"Ini kenapa Ma? Ada apa?" tanya Viona yang berjalan menghampiri ibu mertuanya. Wajahnya tampak bingung.
"Rumah ini sudah mama jual untuk mengeluarkan Reynaldi dari penjara. Kamu mau ikut apa rapi-rapikan barang saja? Soalnya, kita harus segera pindah," ujar Mama Ratih.
"Terus, kita mau tinggal dimana Ma?" tanya Viona. Tambah lesu saja dia. Kehidupan Reynaldi bertambah terpuruk.
"Terpaksa mengontrak. Uang dari penjualan rumah ini tak cukup untuk beli rumah," sahut Mama Ratih lesu. Dadanya terasa sesak, kala mengingat kehidupannya sekarang.
Viona memutuskan untuk ikut menjemput Mama Ratih menjemput sang suami di penjara. Bukan Mama Ratih saja, Viona pun terlihat pucat tak bersemangat. Terlebih, rasa sakit di perutnya semakin terasa. Jika dia stres atau kecapean.
Mereka kini sudah dalam perjalanan menuju kantor polisi. Reynaldi tampak gelisah menunggu kedatangan sang Mama membebaskan dirinya.
Viona dan Mama Ratih baru saja sampai di kantor polisi. Mama Ratih langsung ingin menemui Kepala unit di penjara itu. Dia ingin masalah anaknya segera selesai.
"Permisi Pak, saya ibu dari Reynaldi. Kedatangan saya kesini ingin mengembalikan semua uang yang anak saya pakai. Ini uangnya Pak," ujar Mama Ratih sambil memberikan satu buah amplop coklat berisi uang 500 juta.
Mereka langsung melakukan penghitungan uang di sana bersama.
"Berarti anak saya sudah bisa bebas 'kan Pak? Saya 'kan sudah mengembalikan semua yang diminta," ucap Mama Ratih.
"Belum. Karena Ibu belum memberikan uang untuk tim kepolisian," ujar Kanit unit penjara membuat kedua mata Viona dan Mama Ratih membulat sempurna.
"Berapa Pak? Kami sudah tak punya uang lagi. Ini saja hasil dari jual rumah," ucap Mama Ratih penuh iba. Jika dia memberikan uang lagi ke tim polisi, semakin berkurang saja stok uangnya untuk bertahan hidup.
Ketua unit tetap tak mau tahu, mereka meminta uang 10 juta untuk tim polisi yang bekerja mengurus kasus Reynaldi. Mau tak mau Mama Ratih harus mengeluarkan uang lagi sejumlah 10 juta.
"Makasih ya Ma. Mama sudah membebaskan aku dari penjara," ujar Reynaldi yang memeluk tubuh sang mama. Viona merasa kikuk, karena Reynaldi bersikap dingin kepadanya. Reynaldi merasa kecewa karena Viona tak menolongnya. Bahkan tak ada ucapan bela sungkawa atau sekadar basa basi atas meninggalnya papa mertuanya.
"Sudah tak usah di bahas lagi. Jadikan belajar hidup, harus lebih hati-hati lagi menjalankan kehidupan. Kita cari tempat makan dulu yuk! Pasti kamu sudah lapar 'kan?" tanya Mama Ratih. Anaknya adalah sumber kehidupan untuknya. Dia bisa tersenyum kembali, meskipun harus kehilangan rumahnya.
Kini mereka sudah berada di restoran padang yang letaknya tak jauh dari polsek tempat Reynaldi di tahan.
"Kamu mau makan apa Rey? Mama ingin kamu makan sepuasnya! Pasti, selama di penjara kamu enggak bisa makan enak 'kan?" tanya Mama Ratih kepada sang anak.
Reynaldi menceritakan kehidupan dirinya dulu selama di penjara, membuat Mama Ratih merasa sedih. Untungnya dia masih memiliki harta untuk membebaskan sang anak dari penjara.
"Mulai sekarang kita harus menata hidup baru. Semoga kita bisa melewati kehidupan yang baru. Sebenarnya, Mama sedih harus kehilangan rumah kita. Rumah yang banyak menyimpan kenangan untuk kita. Tapi, mau apa lagi? Mama ingin kamu bisa bebas. Kita secepatnya harus mencari rumah kontrakan, untuk tempat tinggal kita," ujar Mama Ratih.
Viona hanya menyimak percakapan sang suami dengan ibu mertuanya.
"Kamu cari kerja juga Vi, bantu-bantu Reynaldi! Mulai sekarang, jangan banyak menuntut sama suami. Berapapun Reynaldi berikan, kamu harus terima. Jangan sampai kejadian ini akan terulang lagi!" cerocos Mama Ratih.
"Ma, dalam hal ini murni bukan kesalahan aku sepenuhnya. Mama juga harus menerapkan hal itu. Karena, bukan aku saja yang membuat Reynaldi nekat melakukan hal itu," sahut Viona, dia merasa tak terima di salahkan sepenuhnya oleh ibu mertuanya.
"Mama kira kamu kaya, ternyata sama saja. Tak bisa menolong Reynaldi," sindir Mama Ratih.
Ingin rasanya Viona membalas ucapan Mama Ratih yang menghina dirinya. Untungnya Viona sangat mencintai Reynaldi, jika tidak pasti dia akan memilih meninggalkan Reynaldi. Sudah tiga kali menikah, hidupnya tak pernah bahagia pada akhirnya.
Makanan sudah datang. Mama Ratih begitu memanjakan sang anak. Mama Ratih membelikan sang anak ayam bakar, rendang, dan juga gulai ikan mas. Reynaldi makan begitu lahap. Dia begitu kelaparan, karena di penjara tak bisa makan. Selama di penjara, Reynaldi tak nap*su makan.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Rencananya, mereka akan langsung mencari rumah kontrakan. Mereka kini sudah dalam perjalanan pulang dengan menggunakan taksi online.
Reynaldi terlihat lebih tua, kusam, dan kurus. Tak seperti dulu yang menarik perhatian. Mereka baru saja sampai di rumah. Reynaldi menatap sekitar rumah yang selama ini dia tempati, rumah itu terlihat tak seperti dulu yang memberikan kebahagiaan untuknya. Pengkhianatan yang dia lakukan, menghancurkan semuanya. Tak ada lagi dia wanita cantik yang menyambut dirinya, saat dirinya sampai di rumah.
"Apa kabarnya kamu Nis? Aku merindukan kamu. Maafkan aku yang telah menyakiti hati kamu, kini aku merasakan balasan atas perbuatan yang aku lakukan dulu kepada kamu. Andai aku tak mengkhianati kamu, pasti saat ini kita masih hidup bahagia bersama Khanza. Ingin rasanya aku bertemu sama kamu. Tapi, sepertinya. Kamu tak akan mau lagi bertemu sama aku," ucap Reynaldi lirih.
"Rey, kita langsung cari sekarang saja yuk! Soalnya, Sis Feni sudah mengusir kita untuk segera pindah dari sini," ujar Mama Ratih. Ucapan sang Mama, membuat Reynaldi tersadar dari lamunannya.