
Mama Ratih menjerit kesakitan, saat sang anak mencoba mengobati luka di punggungnya. Reynaldi tampak menangis selama dia mengobati luka sang mama. Dia merasa terpukul dengan kondisi yang di alami mamanya. Dia merasa tak tega melihatnya. Reynaldi sudah membersihkan luka sang mama dengan alkohol, dia juga sudah memberikan luka itu dengan betadine, dan menutup luka itu dengan perban.
"Nanti, setelah kita pindah kontrakan. Kita berobat ya Ma ke rumah sakit. Biar luka mama sembuh. Mama juga 'kan sudah lama tak berobat. Semoga saja, masih ada harapan mama untuk sembuh kembali. Sabar ya, ma! Rey sayang mama," ucap Reynaldi yang kini memeluk sang mama. Mereka menangis bersama. Reynaldi memberikan kecupan di pucuk kepala sang mama, sebagai bentuk rasa cintanya kepada sang mama.
Sang ART sudah selesai memasak. Saatnya Reynaldi menyuapi sang mama makan. Reynaldi begitu telaten menyuapi sang mama makan, sedikit demi sedikit. Mama Ratih sudah menerima keadaan dia sekarang ini. Seperti saat ini, dia tak protes saat sang anak menyuapi makan hanya dengan sayur bayam.
Rey lihat, tubuh sang mama semakin kurus. Dia khawatir, kalau saat ini sang mama mengidap penyakit diabetes. Terlebih sang mama memiliki luka yang basah di tubuhnya. Reynaldi bertekad untuk membawa sang mama ke rumah sakit. Namun saat ini, dia mencoba fokus untuk pindahan dulu. Karena dia sudah tak mampu lagi, untuk perpanjangan rumah itu.
"Sekarang, mama istirahat ya! Rey harus lanjut packing lagi. Soalnya, besok kita harus pindah," ujar Reynaldi dan Mama Ratih mengiyakan.
Reynaldi melanjutkan merapikan barang-barang yang akan dia bawa. Dia berusaha untuk kuat menghadapi kehidupan ini.
Berbeda halnya dengan Reynaldi yang semakin terpuruk, Nisa justru sedang berbahagia. Azzam dan Azzura tumbuh menjadi ajak yang sehat dan menggemaskan. Azzam dan Azzura terlihat sudah mulai belajar tengkurep. Usia mereka sebentar lagi tiga bulan.
Karier Abi pun semakin menanjak. Abi di tawarkan bekerja di rumah sakit lain. Dia berniat membicarakan terlebih dahulu kepada sang istri. Karena nantinya, waktunya akan semakin tersita untuk pekerjaannya. Pastinya, waktu untuk keluarga semakin sedikit. Karena di sore hari pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, dia harus praktek di rumah sakit lain. Untuk hari sabtu, dia praktek pagi.
Suatu pilihan yang sulit untuknya, dia membutuhkan uang yang banyak. Tetapi, waktu kebersamaan dengan keluarga pastinya akan semakin berkurang.
Abi baru selesai praktek, dia bergegas untuk pulang. Karena saat ini jam baru menunjukkan pukul 12.30 WIB, masih ada waktu untuk menjemput Khanza nanti. Karena hari ini Khanza pulang jam 15.00 dari sekolahnya. Hingga akhirnya Abi memutuskan untuk pulang dulu ke apartemen.
Bukan hanya Reynaldi, Abi pun berencana untuk memboyong keluarganya untuk pindah. Dia sudah mencari rumah kontrakan. Dia juga sudah menyiapkan uang untuk membeli perabotan. Karena saat ini dia tak memiliki barang apapun. Selama ini, dia menggunakan fasilitas dari apartemen yang dia sewa.
Semua Abi lakukan untuk keluarganya. Karena tempat mereka saat ini sudah tak memungkinkan. Dia butuh kamar untuk sang ART. Karena Nisa akan mulai bekerja kembali, meskipun bekerja dari rumah. Mereka butuh satu orang ART lagi untuk membantu Nisa mengurus kedua anak kembarnya. Rencana menambah ART saat itu, terpaksa dibatalkan karena tak ada tempat untuk sang ARTnya lagi.
Abi baru saja sampai di apartemen. Saat itu sang istri sedang tidur siang. Abi memilih untuk tidak membangunkan sang istri. Setelah sholat zuhur. Dia memutuskan untuk mengambil makan sendiri. Kini dia sedang makan di meja makan.
Semenjak kejadian waktu itu. Nisa selalu menyempatkan waktunya untuk memasak makanan untuk suami dan juga anaknya. Dia tak ingin nantinya Khanza merasa cemburu, karena merasa sang bunda tak perhatian lagi padanya. Semenjak kedua adiknya lahir ke dunia.
Nisa terbangun dari tidurnya, karena Azzam menangis. Abi yang saat itu baru selesai makan, dia langsung bergegas untuk menggendong sang anak. Agar tidur sang istri tak terusik. Namun sayangnya, dia telat. Sang istri sudah bangun lebih dulu.
"Mas Abi? Kamu sudah pulang Mas? Dari kapan? Kok enggak bangunin aku? Kamu sudah makan belum? Tadi aku masak makanan kamu," ujar Nisa yang kini sedang menyusui Azzam.
"Tugas wajib kamu hanya satu, melayani aku di ranjang. Karena aku tak bisa melakukannya tanpa kamu. Lebih baik aku menahannya. Kamu sudah selesai 'kan masa nifas kamu?" Ujar Abi sambil memainkan alisnya membuat wajah Nisa memerah, menahan rasa malu.
"Iya, mas sudah. Tapi, aku masih takut untuk melakukannya. Mas sabar dulu ya!" Sahut Nisa.
"Iya, Mas akan sabar menanti. Mas tak akan memaksa. Insya Allah Mas mampu menahannya," ungkap Abi sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Keromantisan mereka harus terhenti, karena Abi harus pergi menjemput Khanza di sekolah. Abi pergi menjemput Khanza dengan mengendarai motor sportnya. Untuk menghindari jarak kehamilan yang terlalu dekat, Nisa menggunakan alat kontrasepsi IUD.
Kini Abi sudah sampai di sekolah Khanza, dia sudah menunggu sang anak keluar dari kelasnya. Tak lama kemudian, Khanza pun keluar dari kelasnya. Dia langsung menghampiri sang papa, dan langsung mencium tangan sang papa.
Abi tampak menggandeng tangan anak sambungnya, dan Khanza terlihat sedang bercerita apa yang terjadi di sekolahnya tadi. Khanza naik ke motor, dan memeluk sang papa dari belakang. Abi langsung melajukan motornya menuju ke apartemen. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di apartemen. Abi langsung memarkirkan motornya, dan Khanza turun dari motor sang papa. Kemudian mereka berjalan menuju unit kamar mereka.
"Assalamualaikum." Abi dan Khanza mengucap salam. Seperti biasa, Khanza langsung mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia menghampiri sang bunda, dan mencium tangannya.
Khanza tampak menggoda adik-adiknya, yang saat itu sedang bermain dengan sang bunda di ranjang. Kehadiran Azzam dan Azzura menambah kebahagiaan mereka.
"Kakak makan dulu sana! Tadi bunda masak," ujar Nisa.
Khanza selalu antusias, jika sang bunda mengatakan memasak. Tentu saja dia akan langsung makan. Namun sebelumnya, dia mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia makan. Seperti biasanya, dia makan dengan lahap.
Abi tampak sedang bermain dengan kedua anaknya. Dia terlihat bahagia, tingkah Azzam dan Azzura mampu membuat sang papa tersenyum dan tertawa bahagia.
Berbeda halnya dengan Abi, Nisa, dan Khanza yang terlihat begitu bahagia. Reynaldi dan Mama Ratih, kini sudah menempati kontrakan barunya. Kontrakan yang sangat jauh dari kata mewah. Kontrakan di ibu kota sangat mahal, jika ingin mengontrak di tempat yang bagus.
"Mama sabar dulu ya! Nanti, kalau Rey ada rezeki yang melimpah. Rey baru bisa mengontrak yang lebih bagus dari ini. Yang terpenting sekarang, kita punya tempat untuk berteduh dulu," ucap Reynaldi kepada sang mama, dan Mama Ratih menganggukkan kepalanya. Karena dia sudah tak ada pilihan lagi. Selain menerima keadaan yang ada.