
"Papa, mengapa Papa tinggalin Viona. Viona butuh Papa. Maafkan Viona yang jarang menengok Papa," ucap Viona menggoyang-goyangkan tubuh Papanya yang kini sudah terbujur kaku.
Tangis pun tak akan membuat sang papa hidup kembali. Bukan hanya Viona saja yang merasa kehilangan, sang mama dan sang kakak pun merasa sedih. Viona belum sempat memberi kabar kematian Papanya kepada ibu mertuanya.
Saat ini Reynaldi sedang duduk termenung di dalam sel. Menanti mamanya atau sang istri datang menebusnya. Entah sampai kapan dia harus menunggu, kedua orang itu mendapatkan uang untuk membayar semua uang yang dia pakai.
Mama Ratih pun sedang berjuang untuk membebaskan sang anak. Saat ini dia sedang berada di rumah sang kakak. Sayangnya sang kakak tak bisa membantunya. Karena nominal itu sangat besar, dan dia justru menyarankan Mama Ratih untuk menjual rumah yang saat ini dia tempati.
"Lantas, kalau rumah itu di jual. Nanti kami tinggal dimana?" sahut Mama Ratih ketus.
"Ya nanti Ratih beli rumah lagi saja, cari yang harganya lebih murah. Lumayan uangnya 'kan bisa untuk membebaskan si Reynaldi dari penjara," sahut sang kakak.
Suatu pilihan yang sangat berat untuk Mama Ratih. Dia sangat menyayangi rumahnya, tetapi dia juga ingin anaknya bebas dari penjara.
"Ya sudahlah, kalau kamu tak mau membantuku. Untuk apa aku berlama-lama disini," ucap Mama Ratih kesal. Dia merasa kesal, karena sang kakak malah menyuruh dirinya untuk menjual rumah.
"Biarkan saja si Reynaldi merasakan hidup di penjara. Biar otaknya mikir! Sudah tahu bapaknya sudah meninggal, berani-beraninya dia main uang sebanyak itu. Dia pikir enggak akan ketauan kali. Namanya bangkai, mau ditutupi seperti apa. Pasti juga akan terbongkar lama kelamaan. Sudah punya istri cantik, sholeha, baik, sudah memberi dia anak eh dia malah selingkuh," cerocos sang kakak.
"Reynaldi tak salah. Semua ini salahnya si Nisa, ngadu segala ke bosnya si Reynaldi. Jadinya, si Reynaldi di pecat dari pekerjaannya sebagai manager. Kalau saja si Nisa tak melaporkan, tak akan seperti ini si Reynaldi," sahut Mama Ratih membela sang anak.
Mama Ratih memilih pamit pulang, semakin lama dia di rumah kakaknya. Dirinya justru semakin kesal. Mama Ratih berencana mendatangi sang adik. Dia berharap sang adik mau menolongnya. Dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah sang adik dengan ojek online. Demi sang anak, dia rela seperti ini.
"Masih saja menyalahkan si Nisa, jelas-jelas anaknya yang salah. Sudah memiliki segalanya, malah selingkuh. Suatu saat nanti, dia pasti akan menyesal karena membuang mantan menantunya dulu," ujar sang kakak.
Mama Ratih rela panas-panasan demi mencari uang untuk sang anak.
"Si Viona udah dapat uang belum ya? Kok enggak ada kabar si?" Mama Ratih bertanya-tanya.
Kini dirinya baru saja sampai di rumah sang adik.
"Assalamualaikum." Mama Ratih
Mendengar ada yang mengucap salam, sang ART keluar. Bergegas membukakan pintu pagar. Mama Ratih di persilakan masuk ke dalam.
"Sebentar ya Bu. Saya panggilkan ibu dulu," ujar sang ART dan Mama Ratih hanya menganggukkan kepalanya. Sang ART pun akhirnya memanggil sang majikan yang saat ini sedang berada di kamar sedang beristirahat.
Suara ketukan pintu membuat sang adik terbangun, dan berjalan hendak membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Bi?" tanya Asri, adik dari Mama Ratih.
"Ada kakaknya bu di bawah," jelas sang ART.
"Mba, sama siapa kesini?" tanya Asri sambil mencium sang kakak.
"Sendiri, naik ojek online," sahut Mama Ratih.
Mereka memilih mengobrol di bawah, di ruang keluarga.
"Sebenarnya Mba kesini mau minta tolong, mau pinjam uang 500 juta. Reynaldi di penjara, karena tuduhan penyelewengan uang perusahaan. Mba mau pinjam untuk membebaskan dia dari penjara," jelas Mama Ratih.
"Ya Allah Mba, aku uang dari mana sebanyak itu. Jangankan uang ratusan juta gitu. Puluhan juta saja tak ada," ujar Asri.
"Terus, bisanya berapa? Nanti kalau Reynaldi bebas, dia bisa mencicilnya lagi dari gajinya," sahut Mama Ratih.
"Gimana ya Mba? Aku jadi bingung. Soalnya, usaha Mas Arman lagi sepi. Aku uang hanya untuk bayar kuliah Ardi sama uang sekolah Sonia. Belum untuk hari-hari, untuk bertahan hidup," jelas sang adik membuat Mama Ratih merasa kesal. Tak ada satupun yang menolong dirinya.
"Jadi, kamu enggak mau menolong Mba?" tanya Mama Ratih untuk memastikannya.
"Maaf ya Mba, kayanya aku belum bisa menolong Mba. Semoga Reynaldi bisa mengambil hikmah dari semuanya. Dia seperti itu sebenarnya kenapa si? Apa istrinya yang baru terlalu banyak menuntut? Dulu, sewaktu sama si Nisa. Tak pernah ada masalah seperti ini," sahut Asri.
"Semua ini karena si Nisa, mantan istrinya. Kalau saja dia tak melaporkan Reynaldi ke perusahaan lamanya, Reynaldi pasti tak akan susah seperti ini," cerocos Mama Ratih. Selalu saja membela anaknya, dan menyalahkan Nisa.
"Ya wajar 'lah Mba, Nisa melakukan seperti itu. Dia 'kan yang membuat Reynaldi yang berada di puncak teratas. Masa iya, Nisa rela Reynaldi justru menikmati hasilnya dengan wanita selingkuhannya," sahut Asri. Semua merasa kesal dengan tindakan Reynaldi selingkuh dari Nisa. Mereka sangat mengenal Nisa.
"Ya sudah, kalau kamu tak mau bantu Mba. Percuma Mba lama-lama disini. Punya saudara, pada susah diminta tolongnya," gerutu Mama Ratih. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Kini dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Dia berharap Viona bisa menolong Reynaldi. Mama Ratih baru saja sampai rumah, ternyata Viona belum juga pulang. Suasana rumah masih terasa sepi.
"Si Viona kemana si? Bukannya buru-buru, bicara seperlunya. Ini malah kelayapan kemana dulu. Ini si Reynaldi gimana ya? Kasihan, pasti nungguin dari tadi," gerutu Mama Ratih.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Viona, untuk menanyakan masalah uang. Alangkah terkejutnya Mama Ratih. Saat mendengar, Papanya Viona meninggal.
"Terus jadinya kamu belum dapat uang? Kasihan Reynaldi, pasti nungguin dari kemarin," ujar Mama Ratih.
"Ma, aku ini lagi berkabung. Tolong ngertiin dong! Lagi pula, aku enggak bisa nolong Reynaldi sepertinya. Karena aku enggak mungkin minta tolong Mama aku, dalam kondisi seperti ini. Tadi juga aku sudah sempat bicara sama kakak aku, dia tak. Kondisi keuangan kakaknya juga lagi repot," jelas Viona.
Tak ada ucapan bela sungkawa, dan juga niat Mama Ratih untuk datang melayat. Yang dia pikirkan, hanya uang untuk anaknya.
"Cari uang kemana lagi ya? Viona sudah ketahuan tak bisa nolong. Pasti Reynaldi nungguin kami. Maafkan Mama Rey, Mama belum bisa menolong kamu," ucap Mama Ratih lirih. Dia terlihat sedih, memikirkan sang anak yang masih harus di penjara.