
"Memangnya kenapa kalau kamu sudah duda? Aku pun sudah tak perawan. Untuk masalah usia, usia kamu justru lebih muda dari aku. Untuk masalah status sosial, aku tak akan mempedulikannya. Bagiku yang terpenting, kamu bisa mencintai aku dengan tulus. Lagi pula, aku sudah memiliki segalanya. Apa lagi yang harus aku cari?" Sahut Melani membuat Rey menelan salivanya. Rey terkejut saat mendengar pernyataan Melani yang mengatakan kalau dirinya sudah tak perawan.
"Maaf Bu, saya masih memiliki tanggungan mama dan anak saya. Saya juga baru saja bekerja. Saya ingin membahagiakan mereka dulu. Maaf ya bu! Saya tak ingin berdosa, karena nanti tak mampu menafkahi ibu. Ibu wanita yang cantik. Pasti, akan sangat mudah mendapatkan pendamping hidup," jelas Melani.
"Ok, sekarang mungkin kamu belum bisa menerima aku di hidup kamu. Tapi, kamu mengizinkan aku untuk berjuang memiliki kamu kan? Tolong kasih kesempatan kepadaku, untuk bisa menyakinkan hati kamu!! Ya sudah, sabtu ini tolong antarkan saya ke acara pertemuan keluarga," ujar Melani dan Rey mengiyakan.
"Ya sudah, kamu boleh kembali ke ruangan kamu lagi! Terima kasih ya Rey atas waktu kamu," ucap Melani lagi dan Rey hanya menganggukkan kepalanya.
Rey kembali ke ruangannya kembali, dan duduk menyenderkan punggungnya di kursi ruangannya. Dia tampak bingung, memikirkan apa yang di ucap kuuiuuuuuuuuuMelani. Dia masih tak habis pikir, mengapa Melani begitu semangat untuk menjadikan dirinya pendamping hidupnya.
"Padahal, dia memiliki segalanya. Mengapa dia mau sama aku ya?" Rey masih tak menemukan jawaban atas pertanyaan hatinya.
Rey merasa khawatir, jika hubungannya dengan Melani tak baik. Yang ada pekerjaannya terancam kembali. Allah tengah menguji dirinya, di hadapkan dengan posisi yang sulit. Dia merasa canggung. Jika nantinya harus menjalani hubungan dengan Melani, bos di tempat dia bekerja.
"Sudahlah Rey, memikirkan hal itu akan menambah beban di pikiran kamu saja! Jalani saja apa adanya. Seperti air mengalir. Sekuat apapun kamu menolaknya. Jika dia jodohmu, kamu tak bisa menolaknya." Rey bermonolog.
Dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya kembali, dan berusaha untuk fokus. Disaat dirinya bersemangat bekerja, Rey justru mendapatkan ujian kembali. Rey terpaksa menerima permintaan Melani, untuk mendampingi Melani di acara pertemuan keluarga.
Meskipun tak ingin dipikirkan, tetap saja menjadi beban pikiran Rey. Dia tampak mengacak-acak rambutnya, merasa kesal. Ucapan Melani terus terngiang di pikirannya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
***
Melani tiba-tiba saja memasuki ruangan Rey. Membuat Rey yang saat itu sedang bekerja menjadi terkejut. Dia langsung mengangkat wajahnya, dan menatap ke arah Melani yang saat itu sudah berada di hadapannya. Dia tampak tersenyum, saat melihat wajah Rey yang terlihat tegang.
"Santai saja Rey! Kau ini, seperti melihat hantu saja. Wajahmu tegang sekali," ucap Melani sambil terkekeh.
"Iya. Maaf Bu, saya kaget melihat ibu yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan," sahut Rey.
"Ya, maaf ya! Aku tak mengetuk pintu dulu, sebelum masuk. Aku memang sengaja ingin memberikan kejutan padamu," sahut Melani, sambil memainkan alisnya. Membuat Rey terkejut setengah mati. Mengapa wanita di hadapannya bersikap genit padanya. Wajah Rey berubah tegang.
Melani menjelaskan tujuan kedatangan dia ke ruangan Rey. Dia juga memberikan satu buah paper bag berisi kemeja dan celana panjang, yang tentunya bukan barang yang murah. Pakaian itu untuk di pakai besok, saat pertemuan dengan kedua orang tua Melani.
Sebenarnya, Melani merasa malas untuk datang ke acara pertemuan besok. Orang tuanya selalu menanyakan, kapan dia akan menikah. Besok, dia sengaja meminta Rey untuk menemani dirinya.
Rey benar-benar dibuat tak berkutik oleh Melani. Demi pekerjaannya, dia rela menuruti permintaan Melani. Dia mencoba untuk menjalani seperti air yang mengalir.
Hari yang di nanti telah tiba, Melani sudah berdandan sangat cantik. Dengan gaun berwarna merah menyala, senada dengan warna lipstik yang dia kenakan. Dia terlihat begitu anggun, dengan gaun belahan paha tinggi, dan belahan dada rendah. Menunjukkan tubuh indahnya. Dia terlihat begitu seksi. Ditambah dengan high heels warna merah menyala, membuat penampilannya seperti seorang model.
Dia sudah siap-siap untuk berangkat menjemput Rey. Melani langsung melajukan mobilnya menuju kontrakan Rey tinggal. Sebelum dirinya berangkat, Melani sudah menghubungi Rey di panggilan telepon. Jarak rumah Melani ke rumah Rey, membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam. Cukup jauh, di tambah lagi jalanan ibu kota yang cukup padat.
"Rey, aku sudah di depan ya! Kamu keluar ya!" Pinta Melani.
Dia kini sudah berada di depan gang, kontrakan Rey. Rey pun saat itu terlihat tampan, dia menggunakan jas berwarna hitam, dan kemeja berwarna merah. Senada dengan gaun yang Melani kenakan saat itu.
"Ma, Rey berangkat dulu ya! Ada acara dengan bos di perusahaan Rey. Mama tidur saja ya nanti, enggak usah nunggu Rey pulang. Takutnya pulang malam," pamit Rey kepada sang mama. Seperti biasa, saat mau berangkat dia selalu pamit, dan mencium tangan sang mama.
Setelah itu, Rey langsung keluar dari rumahnya. Dia ingin segera menghampiri Melani, tak ingin membuat bosnya itu menunggu terlalu lama. Melihat Rey datang, Melani langsung keluar dari mobil menyambut Rey.
"Maaf Bu, sudah menunggu lama ya?" Ujar Rey.
"Enggak kok, baru. Ayo masuk! Kamu pas banget pakai baju itu. Jadi tambah tampan," puji Melani dan membuat wajah Rey memerah. Selama ini dia kerap merayu, dan saat ini dia justru di rayu wanita.
"Apa kamu bisa menyetir mobil?" Tanya Melani kepada Rey dan Rey mengiyakan.
Kini Rey yang menyetir mobil mewah Melani. Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Melani. Jantung Rey berdegup kencang, dan dia tampak gugup. Saat Melani meletakkan kepalanya di pundak Rey.
"Mengapa kamu tegang sekali? Apa kamu tak pernah seperti ini, dengan mantan istrimu?" Tanya Melani yang kini menatap Rey serius.
"Pernah, tapi saat kami sudah status suami istri," sahut Rey berbohong. Padahal, dirinya pernah seperti itu juga saat bersama Viona. Tapi, entah mengapa dirinya merasa berbeda saat bersama Melani.
Sepanjang perjalanan Melani, terlihat lebih aktif berbicara. Sedangkan Rey, hanya berbicara singkat. Rey merasa tak percaya diri, saat bersama Melani. Berbeda halnya, saat dulu bersama Nisa dan juga Viona. Rey ragu untuk membuka hatinya untuk Melani, dia takut nantinya akan kecewa. Terlebih dirinya dulu, memiliki masa lalu menyakiti wanita. Dia khawatir, karma akan menghampiri dirinya. Berbalik kepadanya.