Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Memulai Dari Awal


"Coba suruh bibi beli testpack saja di minimarket atau apotek, untuk memastikan saat ini kamu sedang hamil atau tidak!" saran Reynaldi kepada Melani.


"Iya, nanti aku suruh beli bibi. Jam berapa kamu mau nengok mama?" Melani bertanya kepada sang suami.


"Nanti siang saja, aku fokus sama kamu saja. Aku sudah menitipkan mama sama perawat. Semoga saja mama bisa segera sadar," sahut Reynaldi.


Reynaldi membahas kepada Melani, tentang keharusan akad nikah kembali. Meskipun mereka belum resmi menikah, dia sempat menjatuhkan talak. Agar mereka sah kembali menjadi pasangan suami istri. Melani akan membicarakan hal ini kepada kedua orang tuanya. Mereka berharap, kesempatan kedua kalinya ini. Nantinya akan menjadikan mereka keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.


Melani menyuruh ART membeli dua buah testpack dengan merk yang berbeda. Untuk lebih meyakinkannya. Melani tampak gelisah. Rasa khawatirannya kalau saat ini dia sedang hamil, semakin bertambah. Mengingat, akhir-akhir ini dirinya kerap merasa mual, muntah, tubuhnya terasa lemas, dan kerap merasakan sakit kepala.


"Kalau aku hamil, apa kamu mau menerima anak ini? Meskipun, aku belum tahu anak ini anak siapa," ucap Melani lirih. Dia miris dengan hidupnya sendiri, sampai-sampai berpikir anak yang dia kandung anak siapa. Jika saat ini, dirinya di nyatakan hamil.


Sungguh pilihan yang sulit bagi Reynaldi, jika hal itu benar terjadi. Mampukah dia menerima anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Tapi, di satu sisi. Dia juga merasa tak tega melihat Melani. Dia belum bisa memastikan, Reynaldi ingin menunggu hasil dari testpack.


Sang ART sudah datang, dan memberikan bungkusan berisi dua buah testpack. Tanpa menunggu waktu lama, Melani langsung melakukan pengetesan. Dia sudah tak sabar dengan hasilnya.


"Alhamdulillah. Ternyata, aku tak hamil. Hasilnya negatif. Terus, aku kenapa ya? Mengapa aku merasa mual, ingin muntah, tubuhku juga lemas, kepalaku sakit. Ciri-cirinya mengarah seperti orang yang sedang hamil," Melani bermonolog.


Sama halnya dengan Melani, Reynaldi pun merasa gelisah. Dia sudah tak sabar menunggu hasil dari tes sang istrinya. Berharap hasilnya negatif. Sampai akhirnya, Melani keluar dari kamar mandi.


"Gimana hasilnya?" tanya Reynaldi penuh tanda tanya. Menatap Melani dengan tatapan penuh tanya.


"Negatif, aku tak hamil. Aku hanya sakit biasa berarti," sahut Melani sambil menunjukkan alat tes yang dia gunakan. Reynaldi sudah bisa bernapas lega, karena Melani tak hamil.


"Syukurlah, aku senang. Kita bisa memulainya dari awal nanti, setelah kita ijab kabul kembali. Biar kita sah kembali menjadi pasangan suami istri," ungkap Reynaldi.


"Kalau begitu, besok saja kita menikahnya! Agar kita sah kembali, bebas melakukan apapun. Gimana menurut kamu? Aku bicarakan sekarang kepada kedua orang tuaku," ujar Melani dan Reynaldi mengiyakan. Lebih cepat, lebih baik. Karena saat ini mereka sudah tinggal satu rumah, dan satu ranjang.


"Gimana kalau kita ke dokter? Agar kamu bisa cepat pulih," Reynaldi berkata kepada Melani.


"Sepertinya, tak perlu. Saat ini aku sudah lebih baik kok keadaannya," sahut Melani.


Saat adzan sholat subuh sudah berkumandang. Baik Melani maupun Reynaldi, akan melakukan sholat zuhur. Mereka sholat zuhur berjamaah. Melani menjadi rajin sholat, dia juga meminta Reynaldi mengajarkan dia mengaji. Dengan sabar, Reynaldi akan membimbing istrinya itu. Reynaldi senang, karena sang istri banyak mengalami perubahan. Mereka sudah sepakat, akan memulai semuanya dari awal.


"Makasih do'anya, makasih juga kasih sayangnya untukku. Aku beruntung banget, bisa memiliki kamu. Semoga, rasa sayang kamu ke aku gak akan pernah berubah! Kamu gak selingkuhi aku seperti yang kamu lakukan kepada mantan istri kamu dulu," ungkap Melani.


"Insya Allah gak. Masa lalu yang buruk, akan aku jadikan pelajaran berharga di hidupku. Aku ingin menjadi sosok yang lebih baik lagi, menjadi laki-laki yang setia. Aku gak mau rumah tanggaku sama kamu hancur. Sudah cukup, aku salah jalannya. Sekarang, aku ingin hidup yang lurus saja," sahut Reynaldi.


Melani sangat bahagia mendengarnya. Semoga saja, suaminya benar-benar akan seperti itu. Mereka akan selalu hidup bahagia.


Reynaldi pamit pergi ke rumah sakit kepada Melani, dan saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia pergi menggunakan mobil Melani, Melani yang menyuruhnya. Reynaldi memilih menyetir mobil sendiri. Sesampainya di rumah sakit, dia langsung memarkirkan mobil mewah Melani. Saat itu, dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.


Reynaldi langsung berjalan masuk menuju ruangan sang mama. Saat ini Mama Ratih, masih berada di ruang ICU. Belum sadarkan diri. Reynaldi langsung masuk ke ruangan ICU untuk menemui sang mama.


"Ma, cepat sadar ya! Rey kangen sama mama. Rey sudah kembali sama Melani. Do'akan Reynaldi ya ma, semoga rumah tangga Rey dengan Melani selalu harmonis, dan bisa segera diberikan momongan. Rey mau menikah ulang lagi sam Melani. Semoga kelak, Reynaldi juga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah," ungkap Reynaldi.


Saat itu Reynaldi terlihat menggenggam tangan sang mama, dan berkali-kali mencium tangan sang mama. Berharap sang mama segera membuka matanya. Hingga akhirnya, do'anya terkabul. Air mata yang menetes ke tangan sang mama, membuat sang mama membuka matanya.


"Rey ...," ucap sang mama. Suara sang mama masih terdengar lemah.


"Makasih, Ya Allah! Akhirnya, mama bisa sadar kembali. Semoga mamaku bisa segera pulih, dan kami bisa berkumpul. Rey bersyukur sekali, Ma," ungkap Reynaldi.


Reynaldi langsung memberitahu perawat dan dokter jaga di ruangan itu. Sang dokter, langsung memeriksa keadaan sang mama. Dokter mengatakan, kalau sang mama sudah melewati masa kritisnya. Hanya butuh pemulihan saja. Dia diminta mengurus administrasi kepindahan sang mama ke ruang perawatan.


Reynaldi sudah merasa lebih tenang, karena kondisi sang mama sudah mulai membaik. Kini sang mama sudah dipindahkan ke ruang perawatannya. Reynaldi langsung menghubungi sang ART, memintanya untuk datang, dan menemani sang mama selama dia tak ada. Reynaldi tak bisa menginap, karena Melani pun saat ini sedang sakit.


"Ma, Rey sudah kembali sama Melani. Rencananya, kami mau menikah ulang. Biar lebih sah, meskipun saat itu kami belum resmi bercerai. Semoga saja, rumah tangga kami kali ini bisa lebih baik. Kami bisa menjadi keluarga yang harmonis. Kami juga berencana ingin memiliki keturunan," ungkap Reynaldi kepada sang mama.


"Iya, Rey. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik, mama ingin melihat kamu bahagia. Sudah cukup kamu menderita. Semoga Allah menghentikan penderitaan untuk kamu," sahut sang mama.


"Makasih ya Ma, Rey sayang mama. Ma, Rey minta maaf. Rey belum bisa menginap menjaga mama di rumah sakit. Soalnya, Melani sedang sakit. Dia meminta Rey menemaninya. Mama gak apa-apa 'kan di temani Bibi?" ujar Reynaldi.


"Iya, Rey. Mama gak apa-apa kok. Kamu temani saja Melani, kasihan. Sampai salam mama untuk dia. Semoga Melani lekas sehat, dan terima kasih sudah mau membantu kamu untuk membayar rumah sakit ini. Pasti dia 'kan yang bayar? Kamu 'kan gak punya uang yang banyak," ucap Mama Ratih dan Reynaldi mengiyakan. Semua biaya pengobatan Mama Ratih selama di rumah sakit, ditanggung oleh Melani. Bahkan dia menempatkan Mama Ratih di ruang VIP.