
Reynaldi baru saja pulang dari kantor dan memilih untuk langsung mandi. Hari ini dia pulang telat karena harus mengecek laporan keuangan dari Adi stafnya. Senyuman terlihat di sudut bibirnya, melihat wajah sang istri yang sedang tertidur pulas.
Reynaldi naik ke ranjang secara perlahan dan mengelus rambut istrinya dan tak lupa mengecup kening sang istri. Tentu saja hal itu membuat Nisa terusik dari tidurnya dan perlahan membuka matanya. Sama halnya dengan sang bunda, Khanza pun sudah tertidur pulas. Saat sang ayah pulang dari kantor.
"Baru pulang kamu? Maaf aku ketiduran tak menyambut kamu pulang. Kamu sudah makan belum?" tanya Nisa lembut. Inilah hal yang paling di suka Reynaldi dari Nisa, dia selalu menghargai dirinya sebagai suami.
"Lumayan, tadi aku datang langsung mandi. Ya sudah tidur saja lagi kalau masih mengantuk, jangan dipaksain! Nanti kalau aku lapar, aku bisa ambil sendiri di meja," sahut Reynaldi.
"Kalau kamu bangun, yang ada aku ingin makan yang lain," goda Reynaldi dan langsung mendapatkan capitan dari istrinya. Perlahan mata Nisa terbuka lebar karena godaan suaminya.
Nisa akhirnya bangun, menyiapkan makan malam untuk suaminya dan menemani suaminya makan.
"Kamu tidak ikut makan? Bagaimana kondisi kamu? Apa masih mengalami mual dan muntah?" tanya Reynaldi.
"Iya, makanya kehamilan sekarang aku lebih banyak tidur. Mau masak saja rasanya berat, tak kuat mencium wangi bawang putih," cerita Nisa dan Reynaldi tampak menyimak sambil menikmati makanannya.
"Ya sudah, besok kalau masih merasa mual. Jangan dipaksain masak. Kamu tinggal pesan online kalau mau makan, dan bilang sama aku. Agar aku mampir beli makanan dulu sekalian pulang," jelas Reynaldi dan Nisa menganggukkan kepalanya.
Meskipun rasa lelah selepas habis bekerja. Reynaldi selalu berusaha menjadi suami siaga. Setiap pagi dan malam, dia selalu menyempatkan waktunya untuk membuatkan susu coklat hangat untuk sang istri.
"Pasti kamu belum minum susu 'kan? tanya Reynaldi lembut, dan Nisa menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai makan, Reynaldi langsung membuatkan susu coklat hangat untuk istrinya. Dia ingin istri dan anaknya selalu sehat.
Reynaldi menikmati peranannya sebagai suami yang siaga. Dia selalu menunjukkan perhatiannya kepada Nisa. Selama Nisa mengalami masa mengidam, Reynaldi menyuruh Nisa untuk tidak memasak. Setiap pulang, dia selalu membelikan istri dan anaknya makanan.
"Rey, kamu itu menjadi suami jangan terlalu memanjakan istri!" protes Mama Ratih.
Selama kehamilan, Reynaldi tak mengizinkan istrinya untuk bekerja apapun. Bahkan dia juga tak mengizinkan turun naik tangga di rumahnya terlalu sering. Semua kebutuhan sang istri, Rey menyuruh Bi Surti untuk melayaninya.
"Ma, kandungan Nisa kata dokter lemah. Rey tak ingin terjadi sesuatu sama Nisa dan bayi dalam kandungan Nisa," protes Reynaldi membuat Mama Ratih merasa tak suka. Karena selalu saja memanjakan Nisa.
Bahkan Reynaldi menyuruh tetangganya untuk mengantar jemput Khanza sekolah. Karena untuk sementara waktu, Rey tak memperbolehkan Nisa menggunakan motor.
"Mas, besok jadwal periksa kandungan," ujar Nisa kepada sang suami. Disela-sela waktu kebersamaan dirinya dengan sang suami. Seperti biasa, Reynaldi dan Nisa selalu menyempatkan waktu untuk berdua. Setelah Khanza sudah tertidur pulas.
Meskipun hanya sekadar mengobrol, berkeluh kesah, dan Reynaldi mengelus perut istrinya. Kehamilan Nisa sudah memasuki usia empat bulan. Sebenarnya sudah berada di posisi cukup aman, meskipun tetap harus menjaganya.
Perut Nisa sudah mulai terlihat membuncit, tetapi sampai saat ini dokter masih saja menyuntikkan obat penguat kandungan dan masih dalam pantauannya. Dokter menyarankan agar Nisa tidak boleh stres.
Sabar, itulah kata yang selalu Reynaldi ucapkan sejak dulu kepada istrinya. Nisa merasa kesal, karena suaminya masih saja ingin tinggal bersama orang tuanya.
"Khanza rasanya sudah tak sabar ingin melihat adik bayi lahir, agar Khanza tak merasa kesepian lagi. Ada yang menemani Khanza bermain. Kira-kira adiknya cewek atau cowok ya, Bun?" tanya Khanza. Khanza mengungkap perasaannya.
"Bunda juga belum tahu, Sayang. Karena biasanya kita tahu, saat usia kandungan menjelang enam bulan. Tetapi ada juga kejadian yang tak bisa terlihat sampai menjelang kelahiran, karena jenis kelaminnya tertutupi," jelas Nisa kepada sang anak dan Khanza.
Reynaldi menyuruh Nisa untuk duduk, dan dia yang melakukan pendaftaran ulang. Karena Nisa sempat melakukan pendaftaran lewat telepon. Reynaldi menyuruh sang istri untuk menunggu di poli kandungan.
"Khanza, tolong temani Bunda dulu ya! Ayah ingin mendaftar dulu ke bagian pendaftaran," ujar Reynaldi dan Khanza mengiyakan.
Nisa bahagia, karena di saat hamil suaminya selalu menjadi suami siaga. Seperti saat Nisa hamil Khanza. Tak banyak ibu hamil yang ditemani sang suami saat periksa kandungan. Nisa merasa beruntung.
Dokter melihat ada masalah yang terjadi pada kandungan Nisa yang kedua. Jika Nisa tak melakukan bedrest, Nisa bisa melahirkan prematur. Oleh karena itu, dokter selalu mengingatkan dirinya.
"Baik, Dok. Kami akan berusaha untuk menjaga dengan baik," ucap Reynaldi.
Wajah Nisa terlihat cemas, wajar jika dirinya seperti itu. Ada kekhawatiran di hatinya.
"Kamu tak boleh stres seperti ini! Justru kamu harus yakin, kalau anak kita akan baik-baik saja. Tenang saja, kita akan melewatinya bersama," ujar Reynaldi dan Nisa menganggukkan kepalanya. Rasa cemasnya sedikit berkurang, saat mendengar ucapan suaminya.
"Bagaimana kalau kita liburan ke Puncak? Agar Bunda tidak stres, bisa menghirup udara segar," ujar Reynaldi.
Nisa setuju. Mereka hanya menginap di Villa, tak berjalan-jalan ke obyek wisata. Karena Nisa tak boleh terlalu capek. Sebisa mungkin, Reynaldi berusaha untuk menyenangkan hati istrinya.
Nisa tampak duduk menikmati udara segar di pagi hari. Mereka sengaja berangkat setelah salat subuh, agar bisa lebih lama menikmati udara segar.
"Ya Allah, engkau telah memberikan kebahagiaan kepada aku. Setelah rasa sakit yang aku rasakan. Aku merasa senang, bisa melihat Khanza begitu bahagia bersama ayahnya. Semoga anak yang masih dalam kandungan aku selalu sehat, dan bisa terlahir ke dunia dengan selamat," ucap Nisa.
Matanya kini menatap ke arah sang suami dan sang anak yang asyik berenang. Mereka tampak bahagia.
"Hayo, bengong! Jangan mikir yang macam-macam lagi ya! Ingat kamu tak boleh stres," teriak Reynaldi dari kolam renang. Saat melihat sang istri menatap dirinya dengan tatapan kosong.
"Iya, tidak kok. Orang aku lagi melihat kalian berenang," sahut Nisa.
"Hal yang sepele saja, dia begitu memperhatikan aku. Namun, mengapa rasanya begitu sulit untuk aku bisa memaafkan kesalahannya."