Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Bunda Anita Meninggal


"Ka, nenek mana? Kok belum bangun?" tanya Nisa kepada sang anak, saat mereka sarapan pagi.


Padahal saat itu jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Biasanya, setelah selesai menunaikan ibadah sholat subuh dan tadarus, Bunda Anita langsung keluar dari kamar untuk mengobrol dengan cucu dan juga anaknya sambil menikmati cemilan pagi. Nisa merasa senang, karena sang Bunda terlihat lebih segar. Sudah melewati masa kritisnya.


Tapi tidak untuk pagi, Nisa terlihat panik. Saat mendengar laporan dari sang anak, kalau sejak subuh tadi sang nenek masih terus tidur. Bahkan tak sholat subuh. Padahal biasanya, Bunda Anita sudah bangun pukul 03.00 pagi WIB, untuk sholat tahajud, kemudian lanjut sholat subuh.


"Kok enggak biasanya ya Bunda seperti itu? Kamu kenapa enggak coba bangunin nenek, untuk mengingatkan sholat?" tanya Nisa kepada sang anak.


Melihat perdebatan Nisa dengan Khanza, Abi akhirnya ikut bicara. Dia menyuruh Nisa untuk mengecek sang bunda, dari pada berdebat dengan sang anak. Hingga akhirnya Nisa menuruti ucapan suaminya. Dia berniat untuk menghampiri sang bunda, dia khawatir kalau sang bunda saat ini sedang sakit.


"Bun, Bunda sakit ya? Kok belum bangun. Bangun yuk! Ini sudah siang," ucap Nisa saat memasuki kamar.


Nisa berjalan mendekati sang bunda, alangkah terkejutnya dia saat memegang tubuh sang bunda yang sudah terasa dingin, dan terbujur kaku.


"Bunda, Bunda jangan tinggalkan Nisa! Mas ... Bunda Mas," teriak Nisa.


Mendengar Nisa berteriak, Khanza dan Abi bergegas menghampiri Nisa ke kamar. Mereka melihat Nisa yang sedang menangis histeris.


"Bunda Mas, Bunda meninggal," ungkap Nisa diiringi isak tangis.


Abi langsung mencoba melakukan pengecekan denyut nadi ibu mertuanya. Benar saja, sudah terhenti. Tubuh Bunda Anita pun sudah terbujur kaku, dan dingin semua.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Bunda benar sudah meninggal, kamu sabar dan ikhlas ya," ungkap Abi.


Nisa semakin histeris, saat mendengar sang bunda benar sudah tiada. Air matanya mengalir deras tak tertahan lagi. Abi langsung memeluk tubuh sang istri mencoba menguatkan. Dia tahu, kalau saat ini pasti istrinya sedang rapuh, karena harus kehilangan orang yang dia sangat sayangi.


"Sabar sayang, ikhlaskan Bunda! Bunda sudah tak merasa sakit lagi, Bunda sudah tenang di syurga," ucap Abi sambil mengelus punggung.


"Kenapa Bunda pergi meninggalkan aku secepat ini? Padahal kemarin-kemarin aku sudah merasa senang, karena Bunda sudah terlihat segar, dan tak kambuh lagi," ucap Nisa sambil sesenggukan.


"Kita tak pernah tahu tentang kematian, Allah yang sudah mengaturnya! Mungkin ini yang terbaik untuk bunda. Sudah ya jangan sedih begini! Pasti Bunda ikut sedih, melihat kamu seperti ini! Lagipula, kamu pikirkan juga kedua anak kita. Pasti dia ikut merasa sedih juga," ujar Abi sambil. menghapus air mata di pipi istrinya.


"Tak baik meratapi orang yang telah tiada, lebih baik kita segerakan pengurusnya. Kamu tenangkan diri kamu dulu ya! Aku mau urus semuanya dulu," ucap Abi lembut dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Abi akan mengurus pemakaman ibu mertuanya. Dia menyuruh Khanza untuk menemani sang bunda. Abi juga menyuruh ART yang bekerja di rumahnya, untuk membuatkan teh manis hangat untuk Nisa.


Abi tampak sibuk mengurus. Nisa bersyukur memiliki suami yang peduli kepada sang bunda. Dia selalu ada untuk sang bunda. Masih Nisa ingat, saat Abi dulu berjuang untuk menyelamatkan sang bunda.


"Nis, bisa enggak Mba pinjam uang untuk transport ke Yogya?" tanya Mba Rania.


"Aku kirim uang ke rekening Mba ya? Aku kasih saja, tak usah pinjam. Nisa transfer 3 juta ya ke rekening Mba sekarang," ujar Nisa.


"Ya Allah Nisa, makasih banget ya. Semoga Allah menambah terus rezeki kamu. Ya sudah, Mba siap-siap dulu ya. Mba juga harus ke sekolah Nabila, karena Nabila sudah berangkat ke sekolah," ujar Mba Rania. Nisa memang sangat baik dengan keluarganya. Banyak membantu sang kakak.


Abi sudah menghubungi kedua orang tuanya dan juga Fina. Tapi sayangnya saat ini Fina sedang berada di Inggris. Dia tak bisa datang sekarang. Abi meminta tolong kepada sang mama untuk mendampingi sang istri.


Orang tua Abi baru saja sampai. Para pelayat pun sudah mulai berdatangan untuk mendoakan Bunda Anita. Abi berperan penting dalam pengurusan mertuanya itu. Nisa terlihat termenung. Dia terlihat diam, hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


Dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian berwarna hitam, Khanza pun sudah berganti pakaian biasa. Karena dia tadinya hendak sekolah. Mba Rania langsung memesan pesawat menuju Yogyakarta, karena dia ingin melihat sang Bunda untuk terakhir kalinya sebelum di makamkan.


Suasana duka mengiringi kepergian Bunda Anita. Khanza pun terlihat begitu terpukul karena harus kehilangan sang nenek. Dia begitu menyayangi sang nenek.


"Sabar ya Nis! InsyaAllah ini yang terbaik untuk Bunda kamu. Bunda kamu sudah tak merasa sakit lagi, dia sudah tenang di syurga. Doakan terus," ucap sang ibu mertua. Mereka tampak berpelukan, Nisa menangis meluapkan perasaan hatinya.


Nisa meminta agar sang bunda tidak langsung di kahfanin, dia ingin sang kakak bisa melihat dulu wajah sang bunda untuk terakhir kalinya.


"Biar Mba Rania lihat dulu, dia sudah dalam perjalanan menuju kesini," ujar Nisa.


Abi sudah mengurus tempat pemakanan, dan juga proses pemakanan. Kepergian Bunda Anita sudah di umumkan di mesjid.


Rania baru saja sampai, dia langsung memeluk sang bunda yang sudah terbujur kaku. Dia terlihat begitu sedih. Sama halnya dengan Nisa.


"Maafkan Rania Bun, Rania tak pernah mengurus Bunda selama ini," ucap Rania. Dia menyesal tidak bisa mengurus sang bunda untuk terakhir kalinya. Semuanya tak perlu disesali lagi, semua sudah terjadi.


Proses pemakanan dipercepat. Karena sudah tak ada lagi yang ditunggu. Nisa dan Rania sudah sepakat untuk mempercepat proses pemakanan. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat pemakanan. Abi tampak ikut di mobil jenazah, sedangkan Nisa dan Khanza ikut bersama orang tua Abi. Rania beserta sang suami dan juga anaknya, naik mobil Nisa.


Iring-iringan jenazah tampak rame. Tetangga Bunda Anita di kampung pun banyak yang datang, dan mengantarkan Bunda Anita sampai ke peristirahatan terakhir kalinya. Bunda Anita adalah sosok orang yang baik dan ramah kepada tetangganya. Wajar jika mereka merasa sangat kehilangan.


"Selamat jalan Bun, semoga Bunda mendapatkan tempat yang terindah di sana. Nisa sayang sama bunda. Doakan Nisa, semoga Nisa selalu mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani hidup. Amin," ucap Nisa.