
Bagian kepegawaian merasa tak tega melihat ekspresi wajah Reynaldi, terlebih ini masalah nyawa seseorang. Hingga akhirnya dia meminta Reynaldi menunggu terlebih dahulu, karena dia ingin bertanya dulu ke atasannya, dan juga temannya. Reynaldi terlihat lesu, wajahnya penuh harap. Allah benar-benar menjatuhkan dia di titik terendah. Padahal dulu di perusahaan tempat dia bekerja, dia berada di posisi yang tinggi. Memiliki kekuasaan.
"Mas," panggil Ibu Mira bagian staf kepegawaian.
Mendengar namanya dipanggil, Reynaldi langsung bergegas menghampiri Ibu MIra.
"Mas, mohon maaf. Kami tetap tidak bisa memberikan alamat tempat tinggal pegawai kami. Kami hanya bisa memberikan nomor telepon dokter Abi. Nanti Masnya coba hubungi dokter Abi langsung ya untuk menanyakan alamatnya. Tolong jaga kepercayaan yang kami berikan, jangan di salah gunakan!" Ibu MIra mengingatkan dan Reynaldi mengiyakan, karena dia pun tak berniat berbuat jahat kepada Abi. Selain ingin menemui Nisa, Reynaldi juga ingin bertemu dengan Khanza.
Setelah mendapatkan nomor telepon Abi, Rey langsung pamit. Karena dia ingin langsung menghubungi Abi. Rey langsung mencari tempat untuk menghubungi Abi.
"Bismillah, semoga dilancarkan semuanya," ucap Rey.
Rey langsung mengambil ponsel di dalam saku celannya, dan mencari nomor telepon Abi di ponselnya. Kemudian menekan nomor itu.
"Ayo dong, angkat teleponnya! Aku mohon!" Rey sangat berharap Abi menerima panggilan telepon darinya.
"Mas, telepon kamu bunyi ada yang telepon," ujar Nisa kepada sang suami.
"Tolong kamu angkat teleponnya Yang. Kalau enggak, diamkan saja dulu. Nanti biar aku telepon balik," sahut Abi. Teriak dari dalam kamar mandi. Saat itu Abi sedang mandi.
Hingga akhirnya Nisa memilih mendiamkannya, dia memilih suaminya nanti yang menerima panggilan dari nomor telepon itu. Namun, Reynaldi terus saja menghubungi Abi. Sampai akhirnya Rey mengirimkan pesan chat kepada Abi.
Abi baru saja selesai mandi, dan menanyakan ke sang istri siapa yang menghubungi dirinya.
"Aku enggak tahu, nomor tak dikenal. Dia telepon terus berkali-kali, sepertinya ada yang penting. Dia juga kirim kamu whatsapp," sahut Nisa.
"Siapa ya kira-kira yang menghubungi aku? Aku pakai baju dulu deh," ujar Abi.
Di rumah sakit. Saat ini Reynaldi terlihat panik, karena dia belum juga berhasil bicara dengan Abi.
"Gimana Ay? Aku sudah enggak sanggup lagi. Maafkan kesalahan aku dulu ya, maafkan aku yang tak bisa menjadi istri yang sempurna untuk kamu. Gara-gara aku, hidup kamu menjadi menderita. Aku pun tak bisa memberikan kamu keturunan," ucap Viona diiringi isak tangis. Air matanya terus menetes satu persatu.
"Aku mencintai kamu, semoga kamu bisa bahagia setelah aku pergi. Kamu bisa menemukan pengganti aku, yang lebih baik dari aku," ujar Viona lagi.
"Tidak, Ay! Kamu jangan seperti ini! Aku yakin kamu pasti bisa bertahan. Aku juga lagi menunggu dokter Abi menghubungi aku. Tadi aku sudah kirim pesan chat, tapi belum di balas. Sabar ya! Semoga saja dia mau datang kesini," sahut Reynaldi.
"Penyakit aku sudah parah, aku tak mungkin bisa bertahan. Tolong jaga mama aku ya, jika aku enggak ada!" pesan Viona.
Sang kakak baru saja sampai di rumah sakit, dia langsung masuk ke dalam bersama sang mama. Mereka terlihat begitu sedih, melihat anak dan adiknya terbaring lemah tak berdaya.
"Ya Allah Na, kamu kenapa? Kenapa selama ini kamu terus menutupi penyakit kamu? Ayo semangat, kamu pasti pasti bisa sembuh," ujar sang kakak, mencoba memberi semangat kepada sang adik. Viona hanya membalas dengan senyuman. Karena dia sadar, kalau penyakitnya tak bisa disembuhkan lagi.