
Kereta yang membawa Nisa dan juga Khanza sudah berjalan melewati stasiun demi stasiun. Khanza sudah tertidur pulas, sedangkan Nisa justru memilih melihat pemandangan keluar jendela. Dia terlihat melamun, memikirkan pernikahannya yang berada di ujung tanduk.
Semakin hari dirinya merasa, kalau suaminya selingkuh. Tak terasa air matanya menetes satu persatu, Nisa tak mampu lagi membendung perasaan hatinya. Semakin lama air matanya semakin deras, dadanya terasa sesak.
"Aku sedih Mas, kenapa Mas mengkhianati aku? Apa salah aku Mas? Mas yang membuat aku jatuh cinta, dan Mas juga yang membuat aku akhirnya membenci Mas," ucap Nisa dalam hati.
Nisa memandang wajah putri kecilnya yang sedang tertidur pulas, tangannya mengelus rambut anaknya dengan penuh kelembutan. Dia tak tega, jika nantinya Khanza harus menjadi korban perceraian orang tuanya. Namun, dia juga memiliki sebuah prinsip. Memilih berpisah, dari pada harus hidup berbagi bersama madunya. Jika masalah lain, mungkin Nisa masih bisa toleransi.
Berbeda halnya dengan Nisa yang justru merasa sedih selama dalam perjalanan. Reynaldi justru baru saja selesai melakukan hubungan intim dengan Viona. Kini dirinya sedang memeluk tubuh Viona, sambil mengatur napasnya.
"Ay, kapan kamu nikahi aku dan menceraikan Nisa? Aku lelah, menjadi selingkuhan kamu terus. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya," rengek Viona.
"Iya, sabar ya! Kalau bicara masalah perasaan, sebenarnya aku sudah tak terlalu cinta sama dia. Sejak kamu datang kembali di hidup aku, perasaan aku kembali ke kamu. Hanya saja aku masih merasa tak tega dengan Khanza," jelas Reynaldi.
"Iya, terus sampai kapan aku menunggunya? Sampai aku tua seperti nenek-nenek, dan kamu akhirnya pergi meninggalkan aku? Aku juga 'kan ingin memiliki anak dari kamu. Kalau masalah anak gampang, cukup kamu nafkahi dia pasti dia tak akan melupakan kamu," cerocos Viona.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam, akhirnya Nisa dan Khanza sudah sampai di stasiun Yogyakarta. Nisa langsung memakai tas Khanza, dan menggandeng Khanza sambil menarik koper untuk keluar dari kereta.
Berjam-jam dia pergi, tak ada satu pun telepon atau pesan chat dari suaminya. Namun, Nisa mencoba untuk tidak peduli. Dia berusaha untuk bisa hidup mandiri, tak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya di Jakarta.
"Alhamdulilah. Akhirnya, aku sampai juga di kota kelahiran aku. Aku bisa bertemu dengan Bunda," ucap Nisa, kini wajahnya terlihat bahagia. Dia berniat mencari kebahagiaannya sendiri, menikmati liburan ini.
"Bunda, Nisa kangen," ucap Nisa yang langsung memeluk tubuh sang bunda. Ingin rasanya dia menumpahkan kesediaanya, tetapi dia tak ingin membuat Sang Bunda khawatir.
Sama halnya dengan sang bunda, Khanza pun ikut memeluk sang nenek. Khanza sangat menyayangi nenek Anita.
"Nenek sudah masak makanan spesial untuk kalian, pasti kalian sudah lapar 'kan?" ucap Bunda Anita.
"Asyik, Khanza suka sekali opor ayam buatan nenek," ucap Khanza yang terlihat sangat senang.
Meskipun hanya opor ayam dan kerupuk, Khanza dan Nisa makan sangat lahap. Bahkan saat sampai, mereka langsung makan.
Khanza menceritakan kalau ayahnya tak bisa ikut bersamanya, karena harus bekerja. Dia juga menyampaikan kepada sang nenek, salam dari ayahnya.
"Mulai sekarang harus terbiasa, Bun. Jangan terbiasa bergantung sama suami. Harus bisa mandiri, aku ingin seperti Bunda," sahut Nisa yang masih asyik menyantap masakan bundanya.
"Aku merelakan hidupku aku untuk ikut bersama kamu, meninggalkan Ibu aku sendiri di kampung. Bahkan aku harus bersabar menghadapi sikap Ibu kamu yang tak pernah bersikap baik kepada aku. Mengapa kamu masih tega menyakiti hati aku? Mengkhianati cinta aku? Padahal aku sudah banyak berkorban berada di titik itu," ucap Nisa lirih dalam hati.
Tiba-tiba saja dirinya teringat permasalahan rumah tangganya, dadanya terasa sesak. Sekuat tenaga Nisa berusaha untuk menahan tangisnya.
Setelah berbincang dengan sang bunda, mereka memutuskan untuk tidur. Nisa dan Khanza tidur di kamar Nisa dan sang kakak dulu, saat masih tinggal bersama Ibunya. Rumah sang bunda sangat jauh dari kata mewah, tetapi dapat memberikan ketenangan untuk dirinya.
Nisa memandang wajah putri kecilnya yang sudah terlelap. Dirinya memilih untuk bangun kembali untuk salat Isya. Di dalam salatnya, Nisa meneteskan air matanya. Nisa merasa rapuh, tetapi dia memilih untuk memendamnya sendiri.
Air matanya terus menetes, dan membasahi wajahnya. Ternyata sang bunda belum tertidur saat itu, awalnya dia hanya ingin melihat anak dan cucunya. Namun, dirinya justru melihat anaknya yang sedang terisak tangis di dalam sujudnya.
Bunda Anita mengelus punggung anaknya dengan lembut, tetapi hal itu justru menambah rasa sesak di dadanya Nisa. Nisa tak mampu menahan perasaan lagi. Dia langsung memeluk tubuh bundanya, dan meluapkan kesedihannya.
"Kita bicara di luar yuk! Kasihan Khanza sedang tidur, takut terganggu," ajak Bunda Anita kepada sang anak.
Nisa membuka mukena yang masih dia kenakan dan melihatnya. Setelah itu dia ikut keluar dari kamar, menyusul Bundanya. Bunda Anita sudah menunggu putrinya di luar. Ibu adalah tempat terbaik untuk seorang anak yang membutuhkan sandaran hidup.
"Sini duduk, coba kamu ceritakan apa yang kamu rasakan saat ini! Semoga dengan bercerita, kamu bisa sedikit tenang. Jangan ragu untuk cerita, karena Bunda akan selalu ada untuk kamu dan kakak kamu," ucap Bunda Anita. Bunda Anita selalu bersikap bijak dalam menghadapi permasalahan hidup, pelajaran hidup membuat dirinya menjadi kuat. Sungguh tak mudah harus mengurus kedua buah hatinya sendiri. Saat itu Nisa baru duduk di bangku kelas 1 SMA dan Rania sang kakak duduk di bangku kuliah.
"Mas Reynaldi Bun, Aku curiga kalau Mas Reynaldi memiliki wanita idaman lainnya," ungkap Annisa yang langsung diiringi isak tangis. Sakit rasanya hati Nisa, saat mengungkap hal itu kepada sang Bunda.
"Sabar Nis, terus berdoa sama Allah! Karena Allah adalah tempat terbaik kita mengadu, dibandingkan kepada manusia. Masa sih Reynaldi seperti itu? Bukannya dia sangat baik sama kamu selama ini? Bunda rasanya tak percaya mendengarnya. Bunda yakin Reynaldi adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, rasanya tak mungkin mengkhianatimu. Lagi pula, putri Bunda ini sangat cantik. Bahkan tak memiliki kekurangan, Bunda tak yakin kalau ada wanita lain yang lebih baik dari kamu," ungkap sang bunda.
"Nisa yakin Bun, ini bukan hanya sekadar perasaan Nisa saja. Nisa yakin kalau Mas Reynaldi berselingkuh di belakang Nisa. Walaupun sampai saat ini Nisa belum tahu, kebenarannya. Nisa belum memiliki bukti perselingkuhannya. Namun, Nisa tak putus asa. Nisa terus berdoa, semoga Allah menunjukkan semuanya sama Nisa," ucap Nisa.